Kamis, 23 Oktober 2008

Siapakah Manusia?

SIAPAKAH MANUSIA?
oleh Abraham Timothy


Pertanyaan mengenai “Siapakah Manusia?” sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum Yesus Kristus berinkarnasi. Terbukti dari penggambaran Plato kepada gurunya, Socrates, yang terobsesi pada satu tujuan sentral, dalam pencariannya akan hikmat, yaitu mengenali dirinya sendiri. Masing-masing dari ilmu pengetahuan telah memberikan definisi masing-masing tentang siapakah manusia, sebagai contoh: antropologi idealistik, antropologi materialistik, evolusionisme, dll. Tetapi kita sebagai orang Kristen yang sejati, seharusnya kita mencari jawaban ini kembali kepada perkataan Alkitab, karena Alkitab adalah visi Allah atau hal yang diwahyukan Allah sebagai pencipta segala sesuatu yang mutlak dan final.
Seorang bapa gereja, Augustinus, pernah mengatakan “hanya dua hal yang aku inginkan yakni, mengenal Allah, dan mengenal diri; dengan mengenal Allah sang Pencipta, maka aku mengetahui diriku sebagai sebuah ciptaan dan dengan mengenal diriku sendiri, maka aku dapat mengenal Allah, Penciptaku” jadi, bila kita ingin mengetahui siapakah manusia adalah kita perlu mengenal terlebih dahulu siapakah Pencipta kita atau siapakah Allah kita.
Segala sesuatu di dunia ini adalah ciptaan, termasuk manusia. Tetapi manusia bukan hanya sekedar ciptaan, tetapi juga seorang pribadi. Pribadi berarti memiliki eksistensi, pikiran, perasaan dan kebebasan memilih/free to choose. Dicipta berarti memiliki kebergantungan kepada Pencipta, sedangkan pribadi memiliki tanggung jawab kepada Penciptanya. Manusia sebagai ciptaan yang berpribadi, banyak mengandung misteri yang sulit kita mengerti. Tetapi inilah firman Tuhan, bukan firman yang mengandung kesalahan (ineran) dan kekeliruan (infaliabel), tetapi memang keterbatasan kita sebagai manusia yang dicipta dengan segala keterbatasan kita sehingga kita tidak mengerti.
Dalam hal tersebut ketetapan Allah (foreordained) dan kebebasan memilih atau tanggung jawab atau respon manusia tidak dapat kita pecah belah. Bila kita terlalu memsuperiorkan pentetapan Allah, maka kita akan terjebak dan terperangkap dalam Fatalism / Hypercalvinis dan bila kita terlalu mendewa-dewa kan tanggung jawab manusia maka kita akan menjadi Arminianism / Lowercalvinis atau Open Theism yang dapat memveto rencana Allah dan sama sekali tidak Alkitabiah. Doktrin Reformed mengajarkan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi atau kita pilih ada didalam rencana kekal Allah, tetapi pada waktu sekarang ini (now / actual this time) kita juga memiliki kebebasan memilih / tanggung jawab / respon untuk memilih apa yang kita mau pilih. Karena kita jelas tidak mengetahui pemikiran dan rencana Allah dari alfa sampai omega dalam kekekalan, maka kita harus tetap bertanggung jawab atas segala apa yang kita pilih.
Manusia dicipta pada hari yang terakhir, pada saat semuanya telah selesai dicipta. Hal tersebut dilakukan karena Allah menciptakan manusia secara khusus, supaya manusia dapat menikmati dan menguasai semuanya itu. Manusia adalah ciptaan yang paling hormat dan mulia.
Manusia pertama yang dicipta yaitu Adam berasal dari kata Ibrani ‘adam, yang berasal dari adamah yang artinya tanah. Allah membentuk manusia (LAI-TB), bukan dengan cara berfirman seperti yang lain. Membuktikan bahwa manusia berbeda dari ciptaan yang lain. Dan juga manusia dicpita menurut gambar dan rupa Allah.
Pada Kejadian 1:26, terdapat kata-kata jamak yaitu Kita. Hal ini menjadi kunci manusia diciptakan menurut siapa. Hal ini sangat unik dan membingungkan, karena terdapat rahasia Allah yang sangat besar. Bagaimana mungkin Allah yang adalah Esa dapat mengucapkan Kita? kata Esa, tidak berarti hanya sekedar satu! Tetapi satu-satunya. Lalu bagaimana dengan Kita? Apakah Allah kita lebih dari 1? Tidak. Allah kita 1 tetapi memiliki 3 pribadi, yaitu Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berarti di ayat ini membuktikan adanya percakapan antara Trinitas. Dan bila kita perhatikan sungguh-sungguh tata bahasa dan ayat-ayat lain yang menjelaskan ayat ini, akan membuktikan bahwa kata “Kita” yang pertama dan kedua mengacu pada pribadi yang berbeda, yang pertama mengacu pada Allah Bapa yang mengajak bicara pada Roh Kudus (tanpa menghilangkan Kristus), dan yang kedua mengacu pada Yesus Kristus, yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah itu sendiri. Yesus Kristus adalah gambar Allah yang sejati, dan manusia adalah ciptaan menurut gambar Allah yang adalah Kristus itu sendiri. Kristus adalah Logos dan manusia adalah Logikos (Logos kecil). Manusia adalah reflektor dan representasi atau imitator Allah, jadi seharusnya bila seseorang melihat manusia, ia juga melihat sesuatu tentang Allah di dalam diri manusia itu. Di dalam posisi ini manusia menjalankan rencana dan kehendak Allah, bukan menurut kesenangan hatinya sendiri.
Manusia menyerupai Allah dalam hal-hal tertentu (tidak semua hal), ada beberapa macam yaitu Allah memiliki kuasa, maka manusia juga memiliki kuasa; Allah memiliki persekutuan dan relasi, maka manusiapun memiliki persekutuan dan relasi; Allah memiliki pribadi, manusiapun berpribadi dan bertanggung jawab; adanya perkawinan antara Anak Domba Allah dengan gerejaNya (ekklesia) (hal ini tidak berarti Kristus memiliki hubungan biologis), maka manusiapun dapat membuat lembaga pernikahan; Allah itu kasih, maka manusia juga memiliki kasih; dll. Selain manusia diberi berkat oleh Allah (berkuasa, memenuhi bumi, dll), kata-kata ini juga mengandung perintah atau mandat. Perintah Allah kepada manusia untuk memerintah bumi atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah disebut mandat budaya.
Saat diciptakan, manusia sangat baik adanya, sangat baik berbeda dengan baik. Bila kita memiliki rumah, mobil itu baik, tetapi bila kita memiliki anak hal itu akan menjadi sangat baik. Benda-benda mati tidak mengandung hidup, tetapi bila anak, ia adalah makhluk hidup, manusia yang hidup yang meneruskan sifat kemanusiaan kita. Sama seperti Allah yang menciptakan manusia.
Lalu apa tujuan manusia hidup di dunia? Apakah Allah iseng dan kengangguran sehingga ia bermain-main dan lalu menciptakan kita? Tidak! Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu ditanyakan. Manusia hidup didunia untuk memuliakan Allah, untuk menjadi representasi dari Allah, manusia hidup untuk “dinikahkan” dengan Anak Allah yang tunggal.
Tetapi, karena manusia memilih untuk melanggar perintah Allah yaitu dengan makan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, maka mengakibatkan gambar Allah yang ada dalam diri manusia telah rusak. Dosa yang telah menjalar ke seluruh umat manusia telah mengakibatkan semua orang mengalami kerusakan total (total depravity). Manusia yang sudah rusak total, tidak dapat sama sekali melakukan perbuatan sempurna (menurut standart Allah), dan selalu cenderung berbuat dosa. Manusia dapat melakukan perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang relatif yaitu untuk maksud dan dasar tertentu yang bukan dengan atau tanpa iman pada Yesus Kristus dan melakukan untuk kemuliaan Allah.
Sekali lagi, definisi dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah atau luput dari target Allah. Dalam proses manusia jatuh dalam dosa, Allah hanya tinggal menunggu waktu saja – sebab tidak ada yang luput dari rencanaNya, sedangkan dari sisi manusia ia harus bertanggung jawab karena apa yang telah diperbuatnya, dan kemampuan manusia itu adalah anugerah Allah. Pada saat itu Adam berada dalam posisi posse non peccare, (keberadaan yang bisa tidak berdosa) sehingga ia bisa memilih antara melakukan dosa atau tidak, namun dapat kita lihat dalam rangkaian rencana Allah ia memilih untuk berbuat dosa, bukan dipaksa atau diseret-seret oleh Allah, namun berasal dari keinginannya sendiri yang menggenapkan rencana Allah. Ingat! Allah tidak menciptakan dosa, tetapi Allah menentukan untuk mengizinkan adanya dosa.
Hal ini merupakan misteri yang sulit kita mengerti. namun yang kita tahu adalah rencana Allah itu sempurna, dari Alfa sampai Omega. Allah tidak hanya menetapkan manusia jatuh dalam dosa tetapi Allah juga menetapkan penebusan, proses pengudusan dan sampai pada pemuliaan. Rahasia tentang manusia tidak semuanya dapat dimengerti oleh manusia itu sendiri. Kita harus bertanggung jawab, namun kita jangan terobsesi mencari jawaban yang tidak Allah nyatakan bagi kita. Justru seperti apa yang dikatakan oleh kitab Ulangan 29:29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” dan tulisan John Calvin “Ketidaktahuan adalah hikmat; memaksa untuk tahu adalah suatu kegilaan”.
Jadi, kita dicipta sangat unik dan istimewa. Kita adalah gambar dan rupa Allah, maka seharusnya dalam tingkah laku kita sehari-hari, kita harus mencerminkan kemuliaan Allah dalam diri kita. Menyedihkan bila melihat saat ini banyak orang-orang yang sudah berbuat “semau gue” tanpa peduli siapa dirinya dan untuk apa ia melakukan itu. Tetapi, kita yang telah sadar dan dibukakan, hendaknya kita melakukan hal tersebut dengan gentar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna seperti Kristus, seperti perkataanNya sendiri “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”.



Refrensi:
- Doktirn Manusia dan Dosa (not published) – Andi Halim
- Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah – Anthony A. Hoekema
- Institutes of the Christian Religion – John Calvin
- Yesus Kristus Juruselamat Dunia – Stephen Tong

Rabu, 22 Oktober 2008

Jodoh di tangan siapa??

Ditulis oleh: Abraham Timothy Halim

Selama ini ada 2 argumen yang sering diperdebatkan, yaitu, jodoh di tangan kita atau jodoh ditangan Tuhan. sebenarnya mana yang benar?mari kita lihat.


Kita percaya bahwa Allah berdaulat dalam segala hal dan secara mutlak (tanpa pengecualian). karena ia berdaulat maka ia menetapkan segala sesuatu, dan tidak bergantung pada siapapun.

Charles Hodge: "And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself" (= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) - 'Systematic Theology', vol II, hal 320.

Rencana Allah mencakup segala sesuatu. dasar dari pandangan ini:
1. kemahatauan Allah

Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, atau bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan Allah. 

a. Kemahatahuan Allah menunjukkan bahwa Ia menentukan segala sesuatu.
Penjelasan: Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu maha tahu (1Sam 2:3 - "Karena TUHAN itu Allah yang maha tahu"), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu.

L. Boettner:
o "This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed" (= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 45.
B. B. Warfield: "... God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will" (= .. Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri) - 'Biblical and Theological Studies', hal 281.


2. Allah tidak terbatas oleh waktu, atau Allah ada di atas waktu.

Satu hal lagi yang menunjukkan bahwa Rencana / ketetapan Allah itu mencakup segala sesuatu, adalah bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, atau ada di atas waktu.

L. Boettner: "Much of the difficulty in regard to the doctrine of Predestination is due to the finite character of our mind, which can grasp only a few details at a time, and which understands only a part of the relations between these. We are creatures of time, and often fail to take into consideration the fact that God is not limited as we are. That which appears to us as 'past,' 'present,' and 'future,' is all 'present' to His mind. It is as eternal 'now.' He is 'the high and lofty One that inhabits eternity.' Is. 57:15. 'A thousand years in thy sight are but as yesterday when it is past, And as a watch in the night,' Ps. 90:4. Hence the events which we see coming to pass in time are only the events which He appointed and set before Him from eternity. Time is a property of the finite creation and is objective to God. He is above it and sees it, but is not conditioned by it. He is also independent of space, which is another property of the finite creation. Just as He sees at one glance a road leading from New York to San Francisco, while we see only a small portion of it as we pass over it, so He sees all events in history, past, present, and future at one glance. When we realize that the complete process of history is before Him as an eternal 'now,' and that He is the Creator of all finite existence, the doctrine of Predestination at least becomes an easier doctrine" (= Banyak kesukaran berkenaan dengan doktrin Predestinasi disebabkan oleh sifat terbatas dari pikiran kita, yang hanya bisa menjangkau beberapa detail pada satu saat, dan yang mengerti hanya sebagian dari hubungan antara detail-detail itu. Kita adalah makhluk waktu, dan seringkali melupakan fakta bahwa Allah tidak terbatas seperti kita. Apa yang kelihatan bagi kita sebagai 'lampau', 'sekarang', dan 'akan datang', semuanya adalah 'sekarang' bagi pikiranNya. Itu adalah 'sekarang' yang kekal. Ia adalah 'Yang tinggi dan mulia yang mendiami kekekalan' Yes 57:15. 'Seribu hari dalam pandanganMu adalah seperti kemarin, pada waktu itu berlalu, dan seperti suatu giliran jaga pada malam hari' Maz 90:4. Karena itu peristiwa-peristiwa yang kita lihat terjadi dalam waktu hanyalah merupakan peristiwa-peristiwa yang telah Ia tetapkan dan tentukan di hadapanNya dari kekekalan. Waktu adalah milik / sifat dari ciptaan yang terbatas dan terpisah dari Allah. Ia ada diatasnya dan melihatnya, tetapi tidak dikuasai / diatur olehnya. Ia juga tidak tergantung pada tempat, yang merupakan milik / sifat yang lain dari ciptaan yang terbatas. Sama seperti ia melihat dalam sekali pandang jalanan dari New York ke San Francisco, sementara kita melihat hanya sebagian kecil darinya pada waktu kita melewatinya, demikian pula Ia melihat semua peristiwa-peristiwa dalam sejarah, lampau, sekarang, dan yang akan datang dalam satu kali pandang. Pada waktu kita menyadari bahwa proses lengkap dari sejarah ada di depan-Nya sebagai 'sekarang' yang kekal, dan bahwa Ia adalah Pencipta dari semua keberadaan yang terbatas, doktrin Predestinasi sedikitnya menjadi doktrin yang lebih mudah) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 44-45.

3. Dasar Kitab Suci: 


a. Rencana Allah mencakup hal-hal yang remeh
Mat 10:29-30 - "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya".
Calvin: "But anyone who has been taught by Christ's lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God's secret plan" [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah] - 'Institutes of the Christian Religion', Book I, Chapter XVI, no 2.

Calvin: "... it is certain that not one drop of rain falls without God's sure command"- (= ... adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah) 'Institutes of the Christian Religion', Book I, Chapter XVI, no 5.

Kalau merasa heran mengapa hal-hal yang kecil / remeh itu juga ditetapkan oleh Allah, seakan-akan Allah itu kekurangan kerjaan, maka ingatlah bahwa:
o kedaulatan yang mutlak dari Allah tidak memungkinkan adanya hal yang bagaimanapun kecil dan remehnya ada di luar Rencana / penetapan Allah.
o semua hal-hal di dunia / alam semesta ini berhubungan satu dengan yang lain, sehingga hal kecil / remeh bisa menimbulkan hal yang besar!

R. C. Sproul: "For want of a nail the shoe was lost; for want of the shoe the horse was lost; for want of the horse the rider was lost; for want of the rider the battle was lost; for want of the battle the war was lost" [= Karena kekurangan sebuah paku maka sebuah sepatu (kuda) hilang; karena kekurangan sebuah sepatu (kuda) maka seekor kuda hilang; karena kekurangan seekor kuda maka seorang penunggang kuda hilang; karena kekurangan seorang penunggang kuda maka sebuah pertempuran hilang (kalah); karena kekurangan sebuah pertempuran maka peperangan hilang (kalah)] - 'Chosen By God', hal 155.
B. B. Warfield: "the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)" [= Peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)] - 'Biblical and Theological Studies', hal 296.

Dari sekian argumen yang telah saya paparkan (ada lebih banyak lagi) membuktikan bahwa segala sesuatu ada pada kedaulatan Allah, termasuk yang sederhana apalagi jodoh.
Mari kita merenungkan contoh konkrit dalam Alkitab yaitu Ishak. Ishak tidak pacaran dulu atau tidak PDKT dulu untuk menikah dengan Ribka, tetapi Ia langsung menikahinya. Dan Abraham memberikan semacam perintah pada hambanya yang paling tua untuk kembali ke daerah asalnya untuk menemukan isteri bagi Ishak. Dan kita jelas tahu bahwa cerita Ishak dan Ribka merupakan kedaulatan Allah yang tidak ada sama sekali campur tangan manusia.

Karena manusia merupakan ciptaan yang unik, karena ia dicipta sekaligus adalah seorang pribadi yang memilki kehendak bebas/tanggung jawab manusia. Maka memang ia memiliki kebebasan dalam memilih, tetapi, semua pilihan dia pun telah ditentukan oleh Allah.

Kis 4:27-28 - "Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu

Rat 3:37 - "Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?".
NIV: 'Who can speak and have it happen if the Lord has not decreed it' (= Siapa yang bisa berbicara dan membuatnya terjadi jika Tuhan tidak menetapkannya?)

Bila kita melihat contoh Daud dan batsyeba, Daud memang memilih sendiri untuk berdosa, dan singkat ceria ia dihukum oleh Tuhan dan ia akhirnya bertobat dan kembali pada Tuhan. Melihat dari kasus ini, bila dilihat dari sisi manusia, Daud memang memiliki pilihan-pilihan sendiri, tetapi bila kita melihat dari sisi kekekalan Allah, Daud memang sudah ditetapkan berdosa, dan ia diampuni Allah, dan supaya dari Batsyeba lahirnya Raja baru yaitu Salomo (adanya providensia Allah).

Sikap yang benar adalah, karena jodoh kita telah ditetapkan oleh Allah, maka kita harus untuk menggenapinya, tetapi kita tidak tahu mana yang jodoh dan mana yang bukan jodoh kita, maka dari itu kita harus berdoa pada Tuhan sungguh-sungguh. Mari kita melihat contoh yang lain:

a. Dalam persoalan keselamatan.
Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:22 Ro 9:22), tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:
o sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti saya pasti akan percaya dengan sendirinya.
o mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti dia akan percaya dengan sendirinya.
Sebaliknya, kita harus hidup berdasarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya:
o Kis 16:31 merupakan perintah untuk percaya kepada Yesus. Jadi, apakah saya dipilih untuk selamat atau binasa, itu tidak saya ketahui, dan karenanya bukan urusan saya dan bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Firman Tuhan, dan Firman Tuhan dalam Kis 16:31 menyuruh saya percaya kepada Yesus.
o Mat 28:19-20 merupakan perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Jadi pada waktu saya bertemu dengan seseorang, bukanlah urusan saya apakah orang itu dipilih untuk selamat atau binasa. Itu tidak saya ketahui dan karenanya bukan pedoman hidup saya. Urusan saya adalah melakukan perintah Firman Tuhan dalam Mat 28:19, yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus.

Sekalipun Allah menentukan dan mengatur jodoh kita, tetapi pada saat hal itu terjadi, kit a memang melakukan dengan kemauan kita sendiri, hal ini lah yang menunjukkan adanya kebebasan manusia dan hal tersebut tidak dibuang. (tetapi tetap bahwa segala sesuatu ada pada penetapan Allah).
Contohnya:
o Dalam Kel 7:3 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Kel 7:13,22 8:15,19,32 9:7,34-35).
o Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa 'Tuhan yang mengambil'; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri.
o Baca juga Hakim-Hakim 14:1-4.
“1Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin. 2Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: “Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.” 3Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: “Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?” Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: “Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” 4Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada Tuhan asalnya sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada saat itu orang Filistin menguasai orang Israel.”
Hal ini memang sulit kita terima karena hal tersebut merupakan rahasia Allah yang tidak diungkapkan pada kita

L. Boettner: "But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man's free agency" (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providence ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmonis-kan dengan kebebasan manusia) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 38.

C. H. Spurgeon: (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusukNya dengan tombak - Yoh 19:33-34) 
"They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men's mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The foreordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other" (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamai-kan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - 'A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord', hal 670-671.

Pdt. Budi Asali memberikan sebuah illustrasi sebagai berikut: misalnya ada suatu pertandingan sepakbola yang disiarkan di TV, dan saya lalu merekam pertandingan itu menggunakan video cassette. Proses perekaman ini saya analogikan dengan penentuan Allah. Sekarang video itu saya putar dan saya tunjukkan kepada banyak orang. Apa yang akan terlihat semua-nya sudah tertentu, yaitu persis seperti isi video itu. Tetapi semua orang yang menonton video itu tidak melihat bahwa para pemain sepak bola itu kehilangan kebebasannya. Mereka tetap bermain dan menendang bola dengan kemauannya sendiri. Mengapa? Karena kebebasan mereka juga ikut ditentukan dalam video itu.
Tapi merupakah hal yang bodoh bila karena kita sudah ditetapkan jodoh kita oleh Allah lalu kita berdiam diri dalam kamar dan tidak melakukan apapun. Pdt. Stephen Tong juga memberikan perkataan yang baik. “predestinasi adalah blueprint/rancangan. Karena ada rancangan maka kita harus mengerjakannya. Justru orang bodoh yang karena sudah melihat rancangan maka ia tidak ikut mengerjakannya.”
Justru karena jodoh kita telah ditetapkan dan direncanakan, maka kita harus menggenapinya. Tetapi kita tidak dapat membabi buta langsung menyebut bahwa ini jodohku, ini jodohku, kita harus benar-benar menggumulkannya pada Allah. Karena pernikahan adalah suatu hal yang penting dalam perjalanan hidup orang kristen, demikian juga dalam mencari pacar. Seandainya pun kita tidak mendapat jodoh, kita tidak perlu cemas dan bingung, karena semua hal ini telah ditetapkan oleh Allah (lihat kembali Mat 10:29-30) dan demi kebaikan kita.


Refrensi: Pdt. Budi Asali, M.Div