SIAPAKAH MANUSIA?
oleh Abraham Timothy
Pertanyaan mengenai “Siapakah Manusia?” sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum Yesus Kristus berinkarnasi. Terbukti dari penggambaran Plato kepada gurunya, Socrates, yang terobsesi pada satu tujuan sentral, dalam pencariannya akan hikmat, yaitu mengenali dirinya sendiri. Masing-masing dari ilmu pengetahuan telah memberikan definisi masing-masing tentang siapakah manusia, sebagai contoh: antropologi idealistik, antropologi materialistik, evolusionisme, dll. Tetapi kita sebagai orang Kristen yang sejati, seharusnya kita mencari jawaban ini kembali kepada perkataan Alkitab, karena Alkitab adalah visi Allah atau hal yang diwahyukan Allah sebagai pencipta segala sesuatu yang mutlak dan final.
Seorang bapa gereja, Augustinus, pernah mengatakan “hanya dua hal yang aku inginkan yakni, mengenal Allah, dan mengenal diri; dengan mengenal Allah sang Pencipta, maka aku mengetahui diriku sebagai sebuah ciptaan dan dengan mengenal diriku sendiri, maka aku dapat mengenal Allah, Penciptaku” jadi, bila kita ingin mengetahui siapakah manusia adalah kita perlu mengenal terlebih dahulu siapakah Pencipta kita atau siapakah Allah kita.
Segala sesuatu di dunia ini adalah ciptaan, termasuk manusia. Tetapi manusia bukan hanya sekedar ciptaan, tetapi juga seorang pribadi. Pribadi berarti memiliki eksistensi, pikiran, perasaan dan kebebasan memilih/free to choose. Dicipta berarti memiliki kebergantungan kepada Pencipta, sedangkan pribadi memiliki tanggung jawab kepada Penciptanya. Manusia sebagai ciptaan yang berpribadi, banyak mengandung misteri yang sulit kita mengerti. Tetapi inilah firman Tuhan, bukan firman yang mengandung kesalahan (ineran) dan kekeliruan (infaliabel), tetapi memang keterbatasan kita sebagai manusia yang dicipta dengan segala keterbatasan kita sehingga kita tidak mengerti.
Dalam hal tersebut ketetapan Allah (foreordained) dan kebebasan memilih atau tanggung jawab atau respon manusia tidak dapat kita pecah belah. Bila kita terlalu memsuperiorkan pentetapan Allah, maka kita akan terjebak dan terperangkap dalam Fatalism / Hypercalvinis dan bila kita terlalu mendewa-dewa kan tanggung jawab manusia maka kita akan menjadi Arminianism / Lowercalvinis atau Open Theism yang dapat memveto rencana Allah dan sama sekali tidak Alkitabiah. Doktrin Reformed mengajarkan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi atau kita pilih ada didalam rencana kekal Allah, tetapi pada waktu sekarang ini (now / actual this time) kita juga memiliki kebebasan memilih / tanggung jawab / respon untuk memilih apa yang kita mau pilih. Karena kita jelas tidak mengetahui pemikiran dan rencana Allah dari alfa sampai omega dalam kekekalan, maka kita harus tetap bertanggung jawab atas segala apa yang kita pilih.
Manusia dicipta pada hari yang terakhir, pada saat semuanya telah selesai dicipta. Hal tersebut dilakukan karena Allah menciptakan manusia secara khusus, supaya manusia dapat menikmati dan menguasai semuanya itu. Manusia adalah ciptaan yang paling hormat dan mulia.
Manusia pertama yang dicipta yaitu Adam berasal dari kata Ibrani ‘adam, yang berasal dari adamah yang artinya tanah. Allah membentuk manusia (LAI-TB), bukan dengan cara berfirman seperti yang lain. Membuktikan bahwa manusia berbeda dari ciptaan yang lain. Dan juga manusia dicpita menurut gambar dan rupa Allah.
Pada Kejadian 1:26, terdapat kata-kata jamak yaitu Kita. Hal ini menjadi kunci manusia diciptakan menurut siapa. Hal ini sangat unik dan membingungkan, karena terdapat rahasia Allah yang sangat besar. Bagaimana mungkin Allah yang adalah Esa dapat mengucapkan Kita? kata Esa, tidak berarti hanya sekedar satu! Tetapi satu-satunya. Lalu bagaimana dengan Kita? Apakah Allah kita lebih dari 1? Tidak. Allah kita 1 tetapi memiliki 3 pribadi, yaitu Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berarti di ayat ini membuktikan adanya percakapan antara Trinitas. Dan bila kita perhatikan sungguh-sungguh tata bahasa dan ayat-ayat lain yang menjelaskan ayat ini, akan membuktikan bahwa kata “Kita” yang pertama dan kedua mengacu pada pribadi yang berbeda, yang pertama mengacu pada Allah Bapa yang mengajak bicara pada Roh Kudus (tanpa menghilangkan Kristus), dan yang kedua mengacu pada Yesus Kristus, yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah itu sendiri. Yesus Kristus adalah gambar Allah yang sejati, dan manusia adalah ciptaan menurut gambar Allah yang adalah Kristus itu sendiri. Kristus adalah Logos dan manusia adalah Logikos (Logos kecil). Manusia adalah reflektor dan representasi atau imitator Allah, jadi seharusnya bila seseorang melihat manusia, ia juga melihat sesuatu tentang Allah di dalam diri manusia itu. Di dalam posisi ini manusia menjalankan rencana dan kehendak Allah, bukan menurut kesenangan hatinya sendiri.
Manusia menyerupai Allah dalam hal-hal tertentu (tidak semua hal), ada beberapa macam yaitu Allah memiliki kuasa, maka manusia juga memiliki kuasa; Allah memiliki persekutuan dan relasi, maka manusiapun memiliki persekutuan dan relasi; Allah memiliki pribadi, manusiapun berpribadi dan bertanggung jawab; adanya perkawinan antara Anak Domba Allah dengan gerejaNya (ekklesia) (hal ini tidak berarti Kristus memiliki hubungan biologis), maka manusiapun dapat membuat lembaga pernikahan; Allah itu kasih, maka manusia juga memiliki kasih; dll. Selain manusia diberi berkat oleh Allah (berkuasa, memenuhi bumi, dll), kata-kata ini juga mengandung perintah atau mandat. Perintah Allah kepada manusia untuk memerintah bumi atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah disebut mandat budaya.
Saat diciptakan, manusia sangat baik adanya, sangat baik berbeda dengan baik. Bila kita memiliki rumah, mobil itu baik, tetapi bila kita memiliki anak hal itu akan menjadi sangat baik. Benda-benda mati tidak mengandung hidup, tetapi bila anak, ia adalah makhluk hidup, manusia yang hidup yang meneruskan sifat kemanusiaan kita. Sama seperti Allah yang menciptakan manusia.
Lalu apa tujuan manusia hidup di dunia? Apakah Allah iseng dan kengangguran sehingga ia bermain-main dan lalu menciptakan kita? Tidak! Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu ditanyakan. Manusia hidup didunia untuk memuliakan Allah, untuk menjadi representasi dari Allah, manusia hidup untuk “dinikahkan” dengan Anak Allah yang tunggal.
Tetapi, karena manusia memilih untuk melanggar perintah Allah yaitu dengan makan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, maka mengakibatkan gambar Allah yang ada dalam diri manusia telah rusak. Dosa yang telah menjalar ke seluruh umat manusia telah mengakibatkan semua orang mengalami kerusakan total (total depravity). Manusia yang sudah rusak total, tidak dapat sama sekali melakukan perbuatan sempurna (menurut standart Allah), dan selalu cenderung berbuat dosa. Manusia dapat melakukan perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang relatif yaitu untuk maksud dan dasar tertentu yang bukan dengan atau tanpa iman pada Yesus Kristus dan melakukan untuk kemuliaan Allah.
Sekali lagi, definisi dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah atau luput dari target Allah. Dalam proses manusia jatuh dalam dosa, Allah hanya tinggal menunggu waktu saja – sebab tidak ada yang luput dari rencanaNya, sedangkan dari sisi manusia ia harus bertanggung jawab karena apa yang telah diperbuatnya, dan kemampuan manusia itu adalah anugerah Allah. Pada saat itu Adam berada dalam posisi posse non peccare, (keberadaan yang bisa tidak berdosa) sehingga ia bisa memilih antara melakukan dosa atau tidak, namun dapat kita lihat dalam rangkaian rencana Allah ia memilih untuk berbuat dosa, bukan dipaksa atau diseret-seret oleh Allah, namun berasal dari keinginannya sendiri yang menggenapkan rencana Allah. Ingat! Allah tidak menciptakan dosa, tetapi Allah menentukan untuk mengizinkan adanya dosa.
Hal ini merupakan misteri yang sulit kita mengerti. namun yang kita tahu adalah rencana Allah itu sempurna, dari Alfa sampai Omega. Allah tidak hanya menetapkan manusia jatuh dalam dosa tetapi Allah juga menetapkan penebusan, proses pengudusan dan sampai pada pemuliaan. Rahasia tentang manusia tidak semuanya dapat dimengerti oleh manusia itu sendiri. Kita harus bertanggung jawab, namun kita jangan terobsesi mencari jawaban yang tidak Allah nyatakan bagi kita. Justru seperti apa yang dikatakan oleh kitab Ulangan 29:29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” dan tulisan John Calvin “Ketidaktahuan adalah hikmat; memaksa untuk tahu adalah suatu kegilaan”.
Jadi, kita dicipta sangat unik dan istimewa. Kita adalah gambar dan rupa Allah, maka seharusnya dalam tingkah laku kita sehari-hari, kita harus mencerminkan kemuliaan Allah dalam diri kita. Menyedihkan bila melihat saat ini banyak orang-orang yang sudah berbuat “semau gue” tanpa peduli siapa dirinya dan untuk apa ia melakukan itu. Tetapi, kita yang telah sadar dan dibukakan, hendaknya kita melakukan hal tersebut dengan gentar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna seperti Kristus, seperti perkataanNya sendiri “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”.
Refrensi:
- Doktirn Manusia dan Dosa (not published) – Andi Halim
- Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah – Anthony A. Hoekema
- Institutes of the Christian Religion – John Calvin
- Yesus Kristus Juruselamat Dunia – Stephen Tong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar