NAMA DAN GELAR JESUS
Nama YESUS1 adalah Jehoshua, Joshua dalam bahasa Ibrani. Jeho (Johovah) dan shua (Membantu). Nama KRISTUS adalah nama jabatan Mesias atau Maschiach berarti Yang Diurapi. Sejak kekekalan Kristus ditetapkan untuk diurapi, dengan maksud menerima jabatan-Nya yang digenapi dalam baptisan2. Nama ANAK MANUSIA, serig digunakan dalam kitab injil menanamkan kemesiasan-Nya. Nama ANAK ALLAH memiliki 4 pengertian. (a) Mesianik. disebut juga Anak Allah sebagai ahli waris dan wakil Allah. (b) Tritunggal. Nama ini menujuk kepada Yesus sebagai Putra Allah yang kekal. (c) Kelahiran-Nya. Kristus disebut Anak Allah berkenaan dengan kelahiran-Nya. (d) Etis-religius. Untuk menunjuk pada Yesus dalam pengertian etis religius dalam Mat 17:24-27. Nama TUHAN3, Setara dengan Yehovah, pengganti Adonay.
Dalam perjanjian baru ada 3 penerapan yang mirip nama Kristus. (a) Sebagai sapaan yang hormat dan menghargai (Mat 8:2; 20:33). (b) Sebagai pernyataan kepemilikan dan otoritas, tanpa bermaksud menunjukan apa-apa, tentang sifat Ilahi Kristus serta otoritas-Nya (Mat 21:3; 24:42). (c) Sebagai pernyataan kepemilikan dan otoritas (bukan sifat Ilahi Kristus serta otoritas-Nya). (d) Menyatakan sifat yang dimuliakan dan setara dengan nama Allah (Mrk 12:3637; Luk: 2:3).
Bukti-bukti ke-Ilahian Kristus. (a) PL berisi nubuatan tentang Mesias: Mzm 2:2-6; Yes 9:6; Dan 7:13, dan ayat-ayat lainnya. (b) Surat-surat Paulus dan Yohanes. Injil Yohanes memuliakan Pribadi Kristus dalam ayat-ayat berikut: Yoh 1:1-3, 14, 18; I Yoh 1:3. Pandangan yang sama dalam surat Paulus dan kitab Ibrani seperti: Roma 1:7; I Kor 1:1-3; Ibr 1:1-3, 5-8; 4:14; 5:8, dan sebagainya. (c) Dalam Injil Sinoptik. Telah terbukti bahwa Kristus sama Ilahi-Nya dan sama benarnya dengan Kristus dalam Injil Yohanes. Kristus adalah Pribadi Supranatural sepenuhnya, Anak Manusia dan Anak Allah. Sifat dan KaryaNya membenarkan klaim-Nya sebagai ALLAH (Mat 5:17; 9:6; 16:16; 25:31; Mrk 8:38). (d) Kesadaran diri Yesus. Sejumlah ayat dalam Matius dan Lukas dimana Ia berbicara menyebutkan oknum pertama Allah Tritunggal sebagai “Bapa-Ku”, Mat 7:21; 10:32,33; 8:10; Luk 2:49; 22:29). Dan lebih jelas lagi dalam Yoh 3:13; 5:17-27; 6:37-50; dan ayat-ayat lainnya.
Bukti-bukti kemanusian Kristus. Sangat penting untuk tetap mempertahankan realita dan integritas kemanusian Kristus. dengan mengakui pertumbuhan kemanusian-Nya dan keterbatasan-Nya. Elemen esensi natur manusia yaitu tubuh jasmaniah dan jiwa rasional (Mat 26:26-38; Luk 23:46; Yoh 11:33; Ibr 2:14). Sebagai manusia, Yesus di bawah hukum manusia dan mempunyai kebutuhan serta penderitaan (Luk 2:40,52; Ibr 2:10,18; 5:8). Yesus memiliki pengalaman sebagai menusia dalam kehidupan-Nya (Mat 4:2; 8:24; Mrk 3:5; Luk 22:44; Yoh 4:6; Ibr 5:7).
Bukti Alkitab bahwa Yesus tidak berdosa. Yesus memiliki kesempurnaan Natural, Moral, dan Integritas. Alkitab Jelas mengakui ketidakberdosaan Yesus (Luk 1:35; Yoh 8:46; 14:30; II Kor 5:21; Ibr 4:15). Yesus adalah manusia yang ideal (Ibr 2:8-9; I Kor 15:45; II Kor 3:18; Fil 3:21). Nama Anak Manusia, dijadikan nama diri, untuk menunjukan bahwa Ia adalah jawaban bagi gambaran kemanusiaan yang sempurna.
Perlunya kedua natur dalam diri Kristus. (a) Perlunya KemanusiaanNya. Pembayaran upah dosa mencakup tubuh dan jiwa, yang hanya mungkin ditanggung oleh manusia (Yoh 12:27; Ibr 2:14). Yesus harus memiliki natur manusia, bukan saja semua eseinsial-Nya, tetapi juga kelemahan yang dialami akibat kejatuhan. (b) Perlunya KeilahianNya. Pengantara Manusia dengan Allah harus juga Allah yang sajati, dengan tujuan (1) Membawa korban yang nilainya tanpa batas dan memberikan ketaatan yang sempurna kepada hukum Allah. (2) Dapat menanggung murka Allah. (3) Ia dapat menerapkan buah-buah karya-Nya yang telah diselesaikan-Nya, bagi mereka yang menerima-Nya dengan Iman.4
KESATUAN PRIBADI KRISTUS
Kristus dikenal dalam 2 natur, tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, tidak terpisah. Masing-masing natur tetap dipertahankan dan ada bersama-sama dalam satu pribadi dan satu subsistensi.5 Kebenaran agung yang ada, ialah bahwa Anak Allah yang kekal mengambil bagi diri-Nya sendiri yaitu kemanusian kita. Psikologi berusaha untuk menjelaskan pribadi Kristus, namun mengalami kegagalan. Sebab Ia adalah Anak Allah yang sejati yang tak perlu dibuktikan secara psikologi yang terbatas.
Natur adalah seluruh kualitas yang menjadikan sesuatu itu sebagaimana dia ada. Logos mengambil natur yang tidak berpribadi, yang tidak ada pada dirinya6. Hanya ada satu pribadi dalam diri Pengantara: logos tidak dapat berubah, Logos diperlengkapi dengan dasar pribadi Kristus. Inkarnasi menjadikan pribadi-Nya kompleks, yang terdiri dari 2 natur. Natur pribadi Kristus tidak membentuk satu pribadi manusia, karena Logos tidak mengambil pribadi manusia. Natur manusia-Nya sama sekali tidak kekurangan kualitas esensi apapun dan Natur tersebut memiliki substensi Pribadi yaitu Pribadi Anak Allah sendiri. Di dalam Alkitab tidak terdapat bahwa Kristus memiliki 2 Kepribadian. Bagian firman Tuhan dibawah ini yang menunjukan 2 natur tetapi 1 Pribadi (Rm 1:3-4; Gal 4:4,5; Fil 2:6-11). Berkenaan dengan natur manusia-Nya membuat Juruselamat Ilahi mungkin tidak tahu atau lemah, dapat dicobai, menderita dan mati. Natur Ilahi dan natur manusia sekarang menjadi satu dalam Pribadi Kristus7.
Sang pengantara dalam kedua natur-Nya adalah obyek penyembahan. Honor adorationis tidak dimiliki natur manusia biasa tetapi persatuan dengan antara manusia dengan pribadi Logos, yang di dalam natur Logos itu sendiri adorabilis. Kristus mengambil rupa seorang hamba tidak mencakup penyingkiran bentuk Allah-Nya.
Sejak Praeksistensi, Kristus tidak memperhitungkan keberadaan yang setara dengan Allah itu sebagai suatu harga yang tidak boleh diabaikan, Ia akan mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba.
Ada beberapa keberatan bahwa Kristus mengkenosiskan diri-Nya. (1) Allah dan manusia tidak terlalu mutlak berbeda, tetapi yang satu dapat berubah menjadi yang lain. (2) Doktrin ini sangat subyektif sekali terhadap doktrin ketidakberubahan Allah. (3) Doktrin kenosis berarti penghancuran Tritunggal, dan dengan demikian menyingkirkan Allah yang sejati. (4) Eksistensi Ilahi seolah-olah dapat dilepaskan demikian saja dari esensi Ilahi. (5) Doktrin ini berkeinginan untuk memastikan pribadi dan kenyataan kemanusiaan Tuhan kita.
KEADAAN KEMULIAAN KRISTUS
Keadaan Kristus secara umum dapat dibedakan secara kondisi dan keadaan. Kondisi adalah cara keberadaan seseorang, terutama ditentukan oleh lingkuangan hidupnya. Keadaan adalah posisi atau status kehidupan seseorang, terutama forensik di mana seseorang berdiri di depan hukum. Dalam keadaan hina, Kristus di bawah hukum, bukan saja sebagai aturan hidup-Nya, tetapi juga sebagai syarat perjanjian kerja, dan bahkan berada di bawah tuntutan hukum, akan tetapi dalam keadaan kemulian Ia bebas dari hukum, setelah memenuhi syarat perjanjian kerja dan setelah membayar upah dosa.
Lutheran berusaha menyelaraskan doktrin commmunicatio idiomatum dengan doktrin kehinaan Kristus, dan pemikiran ini diterima oleh kaum Reformed, tetapi keduanya berbeda pada subyek sesungguhnya dari keadaan–keadaan itu. Menurut Lutheran yang menjadi subyek adalah natur manusia Kristus, tetapi menurut Reformed yang menjadi subyek adalah pribadi Sang Pengantara. Jika pribadi sang pengantara yang menjadi subyek maka, ada 3 hal yang harus diperhatikan: (1) Pra Eksistensi Kristus, (2) Keadaan hidup di dunia sementara, (3) Keadaan surgawi dan dimuliakan. Maka dalam hal ini, Teolog Reformed mendapat dukungan yaitu: Kerelaan-Nya di dalam Kehinaan untuk menempatkan diri-Nya sendiri pada pactum salutis untuk menggenapkan keselamatan8.
Berdasarkan Fil 2:7-8 Reformed Theology membedakan 2 elemen kehinaan Kristus yaitu: (1) Kenoosis. Yesus menyingkirkan keagungan Ilahi-Nya, Keagungan penguasa berdaulat, dan mengambil natur manusia dalam seorang hamba. (2) Tapeinosis. Kristus menjadi subyek tuntutan dan kutukan hukum, taat dalam perbuatan, menderita, sampai mati yang amat hina. Keadaan Juruselamat tertulis dalam Gal 4:4, takluk kepada “Hukum Taurat,” direfleksikan dalam keadaan yang berkaitan dengan kehinaan.
Reformed Theology membagi keadaan Kehinaan Kristus menjadi 5 tingkat: (1) inkarnasi, (2) penderitaan, (3) kematian, (4) dikuburkan, dan (5) turun ke dunia orang mati. Subyek yang berinkarnasi adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, dan harus diingat juga bahwa masing-masing pribadi Ilahi ikut aktif dalam Inkarnasi. Putra Allah mengambil natur manusia, memakai daging, dan darah menusia. Gereja Reformasi mengajarkan bahwa inkarnasi terjadi oleh karena kejatuhan manusia (Fil 2:5-11). Inkanasi sudah ada dalam rencana Allah. Hanya ada satu rencana Allah dan rencana ini mencakup dosa dan penebusan, bukan berdasarkan dosa, akan tetapi berdasarkan kesukaan kemurahan Allah2.
Firman menjadi daging bukan berarti Ia mengambil pribadi manusia dan tidak sekedar mengambil daging manusia. Natur manusia Kristus di dapat dari Maria yang diberkati oleh kuasa Roh Kudus6. Elemen terpenting dalam kelahiran Yesus adalah tindakan Roh Kudus yang supranatural. Karya Roh Kudus berkenaan dengan kelahiran Yesus yaitu, (1) Roh Kudus adalah penyebab satu-satunya kandungan maria, dengan demikian menyingkirkan campur tangan seorang laki-laki. (2) Roh Kudus menyucikan natur manusia Kristus sejak awal Ia dikandung. Ada 2 tujuan doktrinal Kristus dilahirkan dari anak dara9. (a) Kristus harus menjadi Mesias dan Anak Allah Mesianik. Akibatnya Ia harus dilahirkan melalui seorang wanita, tetapi dilahirkan dari Allah. (b) Kristus dilahirkan bukan dari benih laki-laki. Yesus bebas dari kesalahan dosa, maka natur manusia-Nya dapat tetap bebas dari kecemaran karena dosa, baik sebelum maupun setelah kelahiran-Nya. Ketika Kristus berinkarnasi Ia mengambil daging yang sudah dicemari oleh dosa, hal ini yang dicatat dalam Roma 8:3, II Kor 8:9; Flp 2:6-7.
Penderitaan yang dialami oleh Kristus bukan hanya secara jasmani tetapi juga rohani. Hal ini nampak di taman getsemani dimana jiwa-Nya sangat takut, seperti mau mati rasanya dan Ia ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Penderitaan-Nya berasal dari berbagai sebab (1) Ia adalah Allah menempati kedudukan manusia, dan Ia diperintah dan harus taat kepada hukum. (2) Ia murni dan Kudus tetapi hidup dilingkungan berdosa. (3) Kesadaran yang sempurna dan antisipasi-Nya yang jelas sejak awal kehidupan akan penderitaan-Nya jelas tidak menimbulkan kegembiraan-Nya. (4) Ia dicobai Iblis, dibenci orang, dan siksaan yang harus Ia tanggung. Penderitaan Sang Juruselamat tidak sepenuhnya terjadi apa adanya tetapi juga merupakan tidakan positif dari Allah (Yes 53:6,10). Semakin mendekat pada kejadian di Getsemani penderitaan Kristus semakin berat, hanya melalui setiap pencobaan Kristus dapat sepenuhnya menjadi Imam besar yang turut merasakan penderitaan manusia10.
Titik puncak tertinggi dari dari penderitaan Kristus adalah waktu kematiaan-Nya yaitu: (1) Derajat Kematian-Nya. Kematian Kristus harus dipandang dari keadilan Hukum Allah. Allah Bapa sendiri yang menjatuhkan hukuman atas Kristus secara adil. Kritus bukan saja berada dibawah kematian jasmani tetapi kematian kekal, dalam suatu masa yang amat singkat Ia menanggung murka Allah yang tidak terbatas sampai akhir, dan tampil sebagai pemenang. (2) Sifat Yuridis. Kristus mati dibawah hukum, Ia harus terhitung diatara pembuat pelanggaran, harus dituduh sebagai terpidana. Hukuman salib dijatuhkan kepada orang tak berguna, kejam dan budak, dengan demikian Yesus mendapatkan tuntutan hukum tertinggi dan dengan demikian Ia membuktikan kenyataan bahwa Ia menjadi terkutuk karena kita, Ul 21:23; Gal 3:13.
YESUS DIKUBURKAN
Penguburan yang dialami Kristus membentuk juga bagian dari kehinaan-Nya. Lebih jauh lagi, penguburan ini bukan saja membuktikan bahwa Yesus benar-benar mati, tetapi juga menyingkirkan segala kengerian bagi orang yang telah ditebus oleh-Nya. Kristus bukan saja dikuburkan tetapi Ia juga telah turun ke dalam kerajaan maut seperti yang tertulis dalam Ef 4:9; I Pet 3:18,19; I Pet 4:4-6; dan Mazmur 16:8-10. John Clavin “mengatakan penderitaan akhir Kristus diatas salib, dimana Ia sungguh-sunguh merasakan rasa sakit dari hempasan Neraka. Kristus menderita Neraka sebelum kematian, yaitu di getsemani dan diatas kayu salib, dan ia memasuki kehinaan kematian.”
Teologia Reformed melihat Pribadi Sang Pengantara yaitu manusia Allah sebagai subyek kemuliaan. Dalam keadaan Kemuliaan Manusia-Ilahi, Yesus Kristus (a) melewati keadaan di bawah hukum dari keadaan federal dan hukum, dan hukum yang berkaitan dengan beban hukum sebagai syarat perjanjian kerja, dan dari kutukan di bawah hukum (b) menggantikan hukuman bagi orang benar, dan sebagai pengantara memasuki berkat keselamatnan yang Ia peroleh bagi orang berdosa (c) dimahkotai dengan hormat dan kemulian. Harus juga tampak dalam keadaan-Nya bahwa kutukan dosa telah diangkat.
Kisah-kisah dalam injil dengan jelas menunjukan bahwa kehinaan Kristus segera diikuti dengan kemuliaan-Nya. Dan ini juga dapat dijumpai dalam Flp 2:9-11, Kis 2:33; Rom 8:17,34; Ef 1:20; I Tim 3:16; dan Ibr 1:3. Keadaan kemulian Kristus memiliki 3 sisi arti penting. Setiap tingkatan adalah pengumuman nyata dari Allah bahwa kristus menggenapi hukum, dan dengan demikian disebutkan dalam upah yang diterima-Nya. Namun, Teologi modern menyangkal semua pengertian tentang Kristus dan mereka menyingkirkan semua hal yang supranatural dalam diri dan kehidupan Juruselamat.
KEBANGKITAN KRISTUS
Kebangkitan Kristus menunjukan bahwa tubuh dan jiwa-Nya diperbaharui dalam keadaan dan kekuatan yang dinaikan pada derajat yang lebih tinggi dari semula. Kebangkitan Kristus memiliki 3 arti penting: (1) Allah Bapa menyatakan bahwa musuh terbesar telah dikalahkan, upah dosa telah dibayar dan syarat-syarat kehidupan telah yang dijanjikan telah terpenuhi. (2) Melambangkan apa yang akan terjadi bagi jemaat-Nya dalam pembenaran, kelahiran baru, dan kebangkitan tubuh. (3) Kebangkitan ini juga secara instrumental terkait dengan pembenaran, kelahiran baru dan kebangkitan kembali (Rm 4:25; 5:10; Ef 1:20; Flp 3:10; I Pet 1:3). Kristus bangkit melalui kekuatan diri-Nya sendiri, karena Ia adalah kebangkitan dan hidup. Namun jangan dilupakan bahwa kebangkitan ini bukanlah karya Kristus sendiri saja; kebangkitan ini sering kali disebutkan sebagai kuasa Allah secara umum, dan jika kebangkitan Kristus disebut karya Allah maka Roh Kudus juga bertindak di dalamnya.11 Kebangkitan Kristus secara mujizat ini, sayangnya tidak dipercayai oleh kaum intelektual, karena mereka mengatakan mujizat tak mungkin terjadi. Orang-orang tersebut mencoba menjelaskan tentang kebohongan Alkitab dengan beberapa teori ini: (1) Teori kebohongan. Mereka mengatakan bahwa murid-murid berbohong dan mencuri mayat Yesus. (2) Teori pingsang. Yesus tidak sungguh-sungguh mati, tetapi hanya pingsan saja. (3) Teori Visi. Teori ini dikemukakan dalam 2 bentuk (a) Sebagian orang mengemukakan tentang visi yang sepenuhnya subyektif. (b) Para murid telah mendapatkan visi yang sepenuhnya obyektif, yang dikirim secara ajaib dari Allah untuk membujuk mereka membritakan injil. (4) Teori Mistik. Mereka berusaha menerangkan kebangkitan Tuhan Yesus dengan kosep yudaisme, dan bailonia, teori ini juga diturunkan dari mitos kafir. Bagi Teologi Liberal Modern kebangkitan Tuhan Yesus tidak memiliki arti apa-apa bagi iman Kristen. Para penuis Alkitab sungguh-sungguh menerangkan kenyataan bahwa Kristus telah bangkit, berarti kebangkitan mempengaruhi kepercayaan kita kepada kebenaran Alkitab. Kebangkitan adalah Kristus yang masuk ke hidup yang baru sebagai kepala Gereja yang ditinggikan dan bangkit dan Tuhan alam semesta.12
KENAIKAN KE SURGA
Kenaikan Kristus ke sorga adalah transisi lokal, pergi dari suatu tempat ketempat lain. Konsep tetang sesuatu yang lokal lebih diterima berdasarkan pertimbangan (1) Dalam Alkitab, Sorga disebut sebagai tempat tinggal mahkluk ciptaan. (2) Surga dan bumi selalu dinyatakan dalam Alkitab sebagai dua hal yang berdampingan. Jika bumi adalah suatu tempat maka surga pun adalah tempat. (3) Alkitab mengajarkan kepada kita untuk memikirkan surga sebagai sebuah tempat (Ul 30:12; Yos 2:11; Mzm 139:8; Rm 10:6-7). (4) Masuknya juruselamat ke surga digambarkan sebagai kenaikan ke surga. Para murid baik melihat Kristus sampai ke awan dan menyembunyikan-Nya dari pandangan mereka13. Kaum Lutheran tidak menganggap bahwa kenaikan ke sorga adalah transisi lokal, tetapi merupakan perubahan keadaan, dimana natur manusia Kristus memperoleh kesempurnaan Ilahi walaupun tidak semuanya kaum Lutheran mempercayai konsep yang sama.
Kita dapat mengatakan 3 arti penting dari kenaikan Kristus: (1) Kenaikan ke surga menegaskan pernyataan bahwa korban Kristus adalah korban bagi Allah yang harus dipersembahkan kepada-Nya di tempat yang kudus. (2) Kenaikan itu merupakan contoh dalam hal kenaikan ke surga merupakan nubuatan bagi kenaikan seluruh orang percaya. (3) Merupakan alat dalam mempersiapkan tempat bagi orang yang berada dalam Kristus.
DUDUK DISEBELAH KANAN ALLAH BAPA
Kristus duduk disebelah kanan Allah Bapa hal ini mau menyatakan bahwa Sang Pengantara memperoleh kekuasaan untuk memerintah atas gereja dan Alam semesta. Calvin mengatakan bahwa pernyataan yang menyebutkan Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa setara dengan mengatakan “ bahwa Ia ditetapkan pada pemerintahan atas langit dan bumi, dan secara formal diterima untuk memiliki tugas yang diberikan kepadaa-Nya, dan bukan itu saja diakui untuk satu kali, tetapi terus berlangsung sampai ia turun dalam penghakiman.”
Duduk di sebelah kanan Allah Kristus tetap melakukan tugas-Nya sebagai Pengantara (1) Ia memerintah dan melindungi gereja-Nya oleh Roh-Nya dan memerintah gereja melalui pejabat-pejabat yang dipilih-Nya. (2) Kristus adalah Iman Besar untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkizedek. Kristus secara terus-menerus memberikan Korban-Nya yang telah disempurnakan kepada Bapa-Nya sebagai dasar yang cukup dari pencurahan anugerah pengampunan Allah. Ia secara tetap menerapkan karya pengorbanan-Nya dan menjadikan efektif dalam pembenaran dan penyucian orang berdosa. (3) Kristus Melanjutkan karya Kenabian-Nya melalui Roh Kudus, untuk mengajarkan mengingatkan dan mengajarkan kebenaran.
KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA KALINYA
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Kristus akan datang untuk kedua kalinya secara fisik. Kedatangan-Nya untuk menghakimi dunia dan menyempurnakan keselamatan umat-Nya. Manusia dan malaikat yang hidup dan yang mati akan tampil dihadapan-Nya untuk dihakimi menurut catatan yang dimiliki-Nya (Mat 24:30-31; 25:31-32). Ia juga akan membenarkan umat-Nya dan membawa kesempurnaan sukacita dalam kerajaan-Nya yang kekal.
PENEBUSAN BERSIFAT OBYEKTIF
Penebusan Kristus bersifat obyektif. Hal ini berarti bahwa penebusan Kristus mempunyai kesan pertama pada orang yang olehnya korban ini terjadi. Dalam persoalan ini berarti bahwa penebusan Kristus dimaksudkan untuk meredakan murka Allah dan untuk mendamaikan Dia dengan oran berdosa. Oleh sebab penebusan Kristus yang obyektif adalah fakta yang sudah digenapi dan sekarang merupakan tugas dari duta-duta besar kristus untuk membawa orang berdosa menerima penebusan dan menghentikan perlawanan terhadap Allah. Pandangan Alkitab tentang korban tidak berbeda dengan rujukan obyektifnya. Korban-korban dalam perjanjian lama dibawa kepada Tuhan terutama untuk menebus dosa, tetapi juga sebagai pernyataan penyembahan dan rasa syukur. Kata Kipper menunjukan pengertian tentang pendamaian bagi orang berdosa. menunjukan darah korban diberikan antara Allah dan manusia dan berdasarkan semuanya ini maka murka Allah disingkirkan. Kata Katalaso dan katalage yang berarti pendamaian, adalah tindakan yang oleh-Nya permusuhan diubah menjadi persahabatan.
PENEBUSAN YANG BERSIFAT MENGGANTIKAN
Allah menunjukan seorang pengganti dalam diri Yesus Kristus untuk menggantikan kedudukan orang berosa dan Sang pengganti ini menebus dasa dan memperoleh penebusan yang kekal.
3 perbedaan penebusan pribadi dan penebusan menggantikan: (1) Penebusan pribadi dibrikan oleh pihak yang melakukan kesalahan; penebusan yang bersifat menggantikan dilakukan oleh pihak yang disalahi. (2) Penebusan pribadi menyingkirkan elemen belas kasihan; penebusan bersifat menggantikan mewakili bentuk belas kasih tertinggi. (3) Penebusan pribadi harus dilakukan seterusnya dan dengan demikian tidak dapat membawa penebusan; penebusan bersifat menggantikan membawa kepada pendamaian yang sesungguhnya dan hidup yang kekal. Namun penebusan yang bersifat menggantikan dianggap tidak masuk akal, karena Allah harus merubah kemarahan-Nya kepada orang yang tidak bersalah.
Penebusan yang bersifat menggantikan ini dapat diperbolehkan jika: (1) pihak yang bersalah tidak dalam keadaaan menanggung hukuman ini seluruhnya sampai akhir, sehingga ada hubungan yang benar dihasilkan. (2) Pengalihan tidak melampaui hak-hak khusus dari pihak ke-3 yang tidak bersalah, dan menyebabkan mereka mengalami kerugian dan persoalan. (3) Orang yang mengalami hukuman berhutang keadilan. (4) Pihak yang bersalah menyadari kesalahannya dan menyadari orang yang menggantikan hukumannya.
Alkitab dengan jelas mengajarkan tentang penebusan Kristus yang bersifat menggantikan. (1) Perjanjian lama mengajarkan bahwa korban yang dipersembahkan diatas mezbah sebagai korban menggantikan. Setiap orang yang membawa persembahan harus meletakan tangan mereka ke atas kepala korban itu dan mengakui dosa mereka. Tindakan ini melambangkan pengalihan dosa kepada korban dan menganggapnya dapat menebus dosa orang yang mempersembahkannya (Im 1:4, 16:20-22, Im 17:11). (2) Ayat Alkitab mengajarkan bahwa dosa kita yang dijatuhkan kepada Kristus (Yes 53:6,12; Yoh 1:29; II Kor 5:21; Gal 3:13; Ibr 9:28; I Pet 2:4).
Dosa dapat dianggap (a) dalam sifat formalnya sebagai pelanggaran atas hukum (Yoh 3:4). (b) Sebagai kualitas moral yang terkandung dalam si pelaku, Rom 6:11-13. (c) dalam kaitan dengan kewajiban moral. (3) Sejumlah ayat dimana kata depan peri, huper, anti (bahasa Yunani) dipakai dalam kaitan dengan karya Kristus bagi orang berdosa. Dalam prasasti-prasasti yang memakai kata hupper dengan “arti sebagai wakil dari.” Kita juga dapat menemukan dalam Filemon 13.
Walaupun Alkitab mencatat tentang penebusan yang menggantikan tetapi tetap saja menimbulkan pertentangan: (1) Penggantian dalam hal pelaksanaan hukuman sesungguhnya tidak sesuai dengan hukum. Dikatakan bahwa hutang hukuman sangatlah bersifat pribadi, sehingga tidak mungkin ada pengalihan. (2) Yesus yang tidak bersalah harus menderita bagi yang bersalah. Memang benar bahwa menurut hukuman dari penebusan Kristus menderita sebagai “yang benar bagi orang tidak benar” (I Ptr 3:18), tetapi hal ini tidak dapat dipakai sebagai keberatan terhadap doktrin penebusan yang bersifat menggantikan. (3) Allah Bapa dijadikan besalah karena ketidakadilan. Allah Bapa tidak adil dalam hal Ia sekedar mengorbankan Anak-Nya bagi dosa umat manusia. (4) Tidak ada persatuan sedemikian yang membenarkan suatu penebusan yang bersifat menggantikan. Jika seorang pengganti mau menghapuskan kesalahan seorang pelanggar hukum maka harus ada sebuah persatuan yang nyata di antara mereka yang akan membenarkan prosedur seperti itu.
Kristus menyerahkan diri-Nya secara suka rela untuk mengalami penderitaan dan mati, maka hal itu adalah bagian dari Ketaatan Yang Aktif. Ketaatan Kristus yang aktif penting untuk menjadikan ketaatan-Nya yang pasif diterima oleh Allah. Hanya dengan berkenaan dengan hal inilah maka penilaian Allah akan penderitaan Kristus berbeda dengan penilaian-Nya akan penderitaan orang yang hilang.
Para sarjana Armenian menyangkali ketaatan aktif Kristus: (1) Kristus membutuhkan ketaatan aktif sebagai manusia, karena berada di bawah hukum, maka Ia bertugas untuk mentaati hukum itu bagi-Nya. (2) Tuhan dapat menuntut satu dari dua hal dari orang berdosa: ketaatan kepada hukum, tetapi tidak menuntut keduanya. Jika hukum ditaati maka hukuman tidak dijatuhkan. Penderitaan dan kematian merupakan ketaatan yang pasif, yang mengharuskan Dia membayar upah dosa dalam penderitaan dan kematian, dan dengan demkian mengangkat dosa umat-Nya. Penderitaan secara Yuridis dijatuhkan kepada-Nya sebagai ganti, dan dengan demikian sesungguhnya merupakan penderitaan yang berupa hukuman. Ketaatan secara pasif tercatat dalam: Yes 53:6; Rm 4:25 I Pet 2:24. Ketaatan secara aktif tercatat dalam: Mat 3:15; Yoh 15:10; Gal 4:4-5.
CATATAN
1. Nama Yesus diberikan kepada Maria oleh malaikat untuk menunjukan kemanusian Tuhan Yesus (EV. MARIA MAZO).
2. Allah dalam berkenan di dalam tujuan kekal-Nya untuk memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, sebagai Pengantara antara Allah dan Manusia; Nabi; Imam; dan Raja; Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya; Pewaris segala sesuatu; dan Hakim atas dunia. Bagi-Nya Allah sejak segala kekekalan memberikan satu umat untuk menjadi benih-Nya, dan agar oleh-Nya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dipermuiakan pada waktu yang telah ditetapkan (Williamson, 2006, hal. 105 (Pengakuan Iman Westminster)).
3. Istilah Tuhan muncul pertama kali ketika musa bertanya kepada malaikat yang menampakan diri kepadanya di Gunung Sinai yaitu “I AM That I AM” yang artinya Allah yang ada pada diri-Nya dan yang tidak bergantung kepada segala sesuatu yang ada pada diri-Nya. Istilah Tuhan menunjukan kepada sifat Allah yang kekal.
4. Kemanusiaan dan KeIlahian Kristus menjadi syarat mutlak menjadi Juruselamat.
5. Allah dan Kristus bukan dua Pribadi, karena jika Allah dan Kristus dua pribadi maka yang satu bersifat Allah dan yang satu bersifat manusia, maka akan terjadi percamuran, inilah Teologi yang dipercayai oleh Saksi Jehovah, bagi saksi Jehovah Yesus berbeda dengan Pribadi-Nya Allah (Yesus adalah antara manusia dan Allah/ Yesus bukan Allah yang sejati). Tetapi natur Allah dan natur manusia berada berada dalam satu Pribadi Yesus seperti yang dikatakan Berkhof.
6. Anak Allah, Pribadi kedua dalam Trinitas, sesunggunya telah genap waktunya, mengambil bagi diri-Nyanatur manusia, dengan segala properti yang esensial dan juga segala kelemahan, tetapi tanpa dosa; dan saat dikandung Maria, oleh kuasa Roh Kudus, mengambil substansi dari Maria.
7. Natur Ilahi Kristus: kekal (Yoh. 17:5,24), Mahakuasa (Mat 8:27), Mahatahu (Luk 6:8), Diperanakankannya Dia secara supranatural diperlihatkan dalam konsepsi-Nya menjadi manusia (Luk 1:35). Natur manusia Kristus: Memiiki waktu mula (Gal 4:4), Mengambil dari substasi Maria, natur manusia-Nya (Luk 1:35), Tunduk kepada keterbatasan-keterbatasan tunduk kepada kejadian-kejadian dalam eksistensi manusia (Ibr 2:17; 4:15) (Williamson, 2006, hal. 113 (Pengakuan Iman Westminster)).
8. Jabatan ini oleh Tuhan Yesus dijalankan dengan penuh kerelaan, dan agar Dia bisa memenuhinya, Dia dijadikan berada di bawah Hukum Taurat dan menggenapinya secara sempurna (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
9. Kristus tidak memerlukan Roh Kudus untuk keselamatan-Nya Pribadi, karena Ia tidak berdosa. Tapi Kristus memerlukan Rroh Kudus untuk memapukan-Nya mengenapi karya Penebusan (Williamson, 2006, hal. 115 (Pengakuan Iman Westminster)).
10. Sebagai Anak Allah Yesus tidak mendapatkan perlakuan khusus, tetapi Ia harus menunjukan ketaatan-Nya, Kesetiaan, dan Kepercayaan sepenuhnya kepada Allah Bapa disetiap detik kehidupan-Nya.
11. Pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati dengan tubuh-Nya yang sama menanggung derita (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
12. Jika Kristus tidak bangkit maka 4 hal akan menjadi benar: (1) I Kor 15:17 “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” (2) Tidak ada pengharapan akan kebangkitan kita, dan kita pasti mati kekal (3) Kristus tidak akan memerintah dan tidak akan kembali dan setiap hal dalam Pengakuan Iman Rasuli setelah menderita dikuburkan harus dicoret. (4) Kekristenan tidak dapat menjadi seperti yang dipikirkan prang Kristen pertama – persekutuan dengan Tuhan Yesus yang hidup, yang indentik dengan Yesus dalam keempat Injil. Yesus dalam kitab Injil tetap menjadi pahlawan anda, tetapi tidak dapat menjadi Juruselamat (Packer, 2005, hal.46 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli))).
13. Arti Sorga: (1) tanpa akhir, hidup Allah yang kesinambungan. Dalam hal ini Allah selalu berada “di sorga,” bahkan sekalipun tidak ada bumi. (2) Keadaan dari malaikat atau manusia ketika mereka hidup bersama dengan Allah, baik yang dirasakan sekarang atau kepenuhan nanti. Dalam pengertian ini upah orang Kristen, harta dan warisan semua berada “dalam sorga”, dan sorga disini adalah pengharapan akhr orang Kristen. (3) Langit yang berada diatas kita dan lebih bersifat tidak terbatas. Sejauh yang kita tahu, merupakan lambang ruang dan waktu untuk kehidupan kekal Allah (Packer, 2005, hal.50 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli)).