Iman, Pengetahuan, dan Pelayanan Bagi Remaja!
Sabtu, 20 Juni 2009
NRETC IV
Iman, Pengetahuan, dan Pelayanan Bagi Remaja!
Kristology
NAMA DAN GELAR JESUS
CATATAN
1. Nama Yesus diberikan kepada Maria oleh malaikat untuk menunjukan kemanusian Tuhan Yesus (EV. MARIA MAZO).
2. Allah dalam berkenan di dalam tujuan kekal-Nya untuk memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, sebagai Pengantara antara Allah dan Manusia; Nabi; Imam; dan Raja; Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya; Pewaris segala sesuatu; dan Hakim atas dunia. Bagi-Nya Allah sejak segala kekekalan memberikan satu umat untuk menjadi benih-Nya, dan agar oleh-Nya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dipermuiakan pada waktu yang telah ditetapkan (Williamson, 2006, hal. 105 (Pengakuan Iman Westminster)).
3. Istilah Tuhan muncul pertama kali ketika musa bertanya kepada malaikat yang menampakan diri kepadanya di Gunung Sinai yaitu “I AM That I AM” yang artinya Allah yang ada pada diri-Nya dan yang tidak bergantung kepada segala sesuatu yang ada pada diri-Nya. Istilah Tuhan menunjukan kepada sifat Allah yang kekal.
4. Kemanusiaan dan KeIlahian Kristus menjadi syarat mutlak menjadi Juruselamat.
5. Allah dan Kristus bukan dua Pribadi, karena jika Allah dan Kristus dua pribadi maka yang satu bersifat Allah dan yang satu bersifat manusia, maka akan terjadi percamuran, inilah Teologi yang dipercayai oleh Saksi Jehovah, bagi saksi Jehovah Yesus berbeda dengan Pribadi-Nya Allah (Yesus adalah antara manusia dan Allah/ Yesus bukan Allah yang sejati). Tetapi natur Allah dan natur manusia berada berada dalam satu Pribadi Yesus seperti yang dikatakan Berkhof.
6. Anak Allah, Pribadi kedua dalam Trinitas, sesunggunya telah genap waktunya, mengambil bagi diri-Nyanatur manusia, dengan segala properti yang esensial dan juga segala kelemahan, tetapi tanpa dosa; dan saat dikandung Maria, oleh kuasa Roh Kudus, mengambil substansi dari Maria.
7. Natur Ilahi Kristus: kekal (Yoh. 17:5,24), Mahakuasa (Mat 8:27), Mahatahu (Luk 6:8), Diperanakankannya Dia secara supranatural diperlihatkan dalam konsepsi-Nya menjadi manusia (Luk 1:35). Natur manusia Kristus: Memiiki waktu mula (Gal 4:4), Mengambil dari substasi Maria, natur manusia-Nya (Luk 1:35), Tunduk kepada keterbatasan-keterbatasan tunduk kepada kejadian-kejadian dalam eksistensi manusia (Ibr 2:17; 4:15) (Williamson, 2006, hal. 113 (Pengakuan Iman Westminster)).
8. Jabatan ini oleh Tuhan Yesus dijalankan dengan penuh kerelaan, dan agar Dia bisa memenuhinya, Dia dijadikan berada di bawah Hukum Taurat dan menggenapinya secara sempurna (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
9. Kristus tidak memerlukan Roh Kudus untuk keselamatan-Nya Pribadi, karena Ia tidak berdosa. Tapi Kristus memerlukan Rroh Kudus untuk memapukan-Nya mengenapi karya Penebusan (Williamson, 2006, hal. 115 (Pengakuan Iman Westminster)).
10. Sebagai Anak Allah Yesus tidak mendapatkan perlakuan khusus, tetapi Ia harus menunjukan ketaatan-Nya, Kesetiaan, dan Kepercayaan sepenuhnya kepada Allah Bapa disetiap detik kehidupan-Nya.
11. Pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati dengan tubuh-Nya yang sama menanggung derita (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
12. Jika Kristus tidak bangkit maka 4 hal akan menjadi benar: (1) I Kor 15:17 “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” (2) Tidak ada pengharapan akan kebangkitan kita, dan kita pasti mati kekal (3) Kristus tidak akan memerintah dan tidak akan kembali dan setiap hal dalam Pengakuan Iman Rasuli setelah menderita dikuburkan harus dicoret. (4) Kekristenan tidak dapat menjadi seperti yang dipikirkan prang Kristen pertama – persekutuan dengan Tuhan Yesus yang hidup, yang indentik dengan Yesus dalam keempat Injil. Yesus dalam kitab Injil tetap menjadi pahlawan anda, tetapi tidak dapat menjadi Juruselamat (Packer, 2005, hal.46 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli))).
13. Arti Sorga: (1) tanpa akhir, hidup Allah yang kesinambungan. Dalam hal ini Allah selalu berada “di sorga,” bahkan sekalipun tidak ada bumi. (2) Keadaan dari malaikat atau manusia ketika mereka hidup bersama dengan Allah, baik yang dirasakan sekarang atau kepenuhan nanti. Dalam pengertian ini upah orang Kristen, harta dan warisan semua berada “dalam sorga”, dan sorga disini adalah pengharapan akhr orang Kristen. (3) Langit yang berada diatas kita dan lebih bersifat tidak terbatas. Sejauh yang kita tahu, merupakan lambang ruang dan waktu untuk kehidupan kekal Allah (Packer, 2005, hal.50 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli)).
Rabu, 08 April 2009
KKR PASKAH 2009
KKR PASKAH 2009
+ Operet Paskah Kolosal "Efrata Senior"
pembicara: Pdt. Dr. Stephen Tong
Pdt. Stephen Tong akan berkotbah dalam acara Paskah Akbar Keluarga Besar Reformed Injili di Surabaya. Sebuah Operet Paskah akan dipersembahkan dan kita akan bersama-sama mengikuti sakramen Perjamuan Kudus.
day/date : Kamis / 16 April 2009
time : 18.30 WIB
place : The Empire Palace, Ballroom lt. 5 - Jl. Blauran 57-75, Surabaya.
Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel
Jl. Ngagel Jaya Selatan, Kompleks Ruko RMI K1-3a
031 - 5047759, 5043361, fax 5047758
Website: www.grii-ngagel.org
dan
Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI)
Jumat, 20 Maret 2009
500th Anniversary Commemoration of John Calvin
John Calvin
(1509 - 2009)
- World Reformed Fellowship (WRF) 2009 Conferences & Meetings
Date : 21 - 27 March 2009
Conferences and Meetings by invitation only
- Theological Symposium
Date : 24 - 29 March 2009
Venue : Reformed Millennium Center of Indonesia
Registration open to public. ONLINE REGISTRATION
- Intensive Theological Lecture
Venue: Reformed Millennium Center of Indonesia
| THEOLOGICAL SYMPOSIUM SPEAKER'S PROFILES | ||
![]() | Prof. Dr. Allan Harman, Th.D. (Westminster Theological Seminary), D.D. (Australian College of Theology) is currently Research Professor at the Presbyterian Theological College, Melbourne. Dr. Harman has been Professor of Old Testament at the Free Church College, Edinburgh, the Reformed Theological College, Geelong, and the Presbyterian Theological College, Melbourne, where he also served as Principal for twenty years. He has been Moderator-General of his denomination, the Presbyterian Church of Australia (1994-1997). His writing has been mainly in Old Testament (commentaries on Deuteronomy, Psalms, Isaiah, and Daniel) and in Church History (The Story of the Church and Thomas Dove and the Tasmanian Aborigines). He has contributed widely to many theological journals, and himself is the senior editor of the Reformed Theological Review, the oldest theological journal in Australia. | |
![]() | Prof. Dr. Andrew T.B. McGowan, Ph.D. (Aberdeen University) is an ordained minister of the Church of Scotland and was former Principal of the Highland Theological College. He is the Professor of Theology at the University of the Highlands and Islands and also holds an Honorary Professorship in Reformed Doctrine at the University of Aberdeen. Dr. McGowan is an Adjunct Professor of Theology at Reformed Theological Seminary and a Visiting Professor of Theology at Westminster Theological Seminary. He is also Vice-President of the World Reformed Fellowship. He has contributed to a number of books, journals and theological dictionaries and is the author of: The Federal Theology of Thomas Boston, The Divine Spiration of Scripture, The Divine Authenticity of Scripture, and editor of Always Reforming: Explorations in Systematic Theology | |
![]() | Prof. Dr. Augustus Nicodemus Lopes, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) is an ordained minister of the Presbyterian Church of Brazil (IPB). Completing his Ph.D. in Hermeneutics and Biblical Interpretation at Westminster, Dr. Lopes serves as professor of New Testament at Andrew Jumper Graduate Center at São Paulo, Brazil and Chancellor of Mackenzie Presbyterian University, São Paulo, where he also teaches in the Th.M. and D.Min. programs. Prior to his appointment as chancellor, he taught at the graduate center at Mackenzie for seven years and served as an assistant pastor. Dr. Lopes is the author of many articles and books on theological and practical themes. | |
![]() | Prof. Dr. Philip. J. Buys, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) was the founder and now serves as the President of Mukhanyo Theological College, South Africa. He was the co-founder (1993) and now serves on the Board of Directors of the Masibambisane Community Development Corporation. Dr. Buys has served in the following pastoral situations in South Africa - Pastor Gereformeerde Kerk Odendaalsrus; Pastor Gereformeerde Kerk Vereeniging; Missionary Sharpeville; and Pastor Gereformeerde Kerk Potchefstroom-North. Dr. Buys has published numerous academic and popular books, pamphlets, and articles about ministry and church growth in Africa and he is a member of the International Steering Committee of TOPIC (Training of Pastors International Coalition). | |
![]() | Prof. Dr. Luder G. Whitlock, D. Min. (Vanderbilt University) is the executive director of The Trinity Forum, an organization that serves thousands of business and professional leaders in North America, Europe, and Asia. At the age of 37, he was appointed President of Reformed Theological Seminary, a position he held for 23 years. Under his leadership, RTS grew from a small regional school to one of the most innovative as well as one of the ten largest seminaries in North America with multiple campuses in the US as well as gateway extension programs in Asia, South America, and Europe. Recently, he was cited in Christianity Today as one of five seminary presidents most influential on theological education during the last half of the Twentieth Century. Dr. Whitlock is well known for his role as executive director of The New Geneva Study Bible and a major revision, published as The Spirit of the Reformation Study Bible. He is the author of The Spiritual Quest and has contributed to more than 10 other volumes and more than 20 different periodicals. | |
![]() | Prof. Dr. Matthew Ebenezer, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) is an ordained teaching elder of the Reformed Presbyterian Church of India (RPCI). Dr. Ebenezer has been Adjunct Professor of Church History and Practical Theology since 2000 at the Luther W. New Jr. Theological College, Dehradun, India. He served as teacher and Vice Principal of the Presbyterian Theological Seminary, Dehradun for over twenty years until 2004. As Country Director of Mission to the World (MTW), Sri Lanka, Dr. Ebenezer coordinated tsunami relief efforts in the island in 2006-2007. He is teaching and preaching in various Reformed contexts in Sri Lanka, India, and Nepal. Dr. Ebenezer serves as associate editor of Doon Theological Journal, India. He is the author of many articles and books on theological and historical themes. | |
![]() | Prof. Dr. Peter R. Jones, Ph.D. (Princeton Theological Seminary) is Scholar at Large for World Reformed Fellowship (WRF). He is an ordained minister of the Presbyterian Church in America. Dr. Jones also serves as Director of Christian Witness to a Pagan Planet (CWIPP), now truthXchange, a national and international teaching, preaching, and writing ministry for the church and the campus. Dr. Jones taught Greek and New Testament at Princeton Theological Seminary, and was Professeur de Nouveau Testament and Director of the Master’s Programme, Faculté de Théologie Réformée d’Aix-en-Provence. He was Professor of New Testament at Westminster Seminary California from 1991 to 2003. Since 2003, he has served as Scholar in Residence and Adjunct Professor at Westminster Seminary California. Dr. Jones is the author of several books, including The Gnostic Empire Strikes Back, Spirit Wars, Gospel Truth, Pagan Lies, The God of Sex, Capturing the Pagan Mind, Stolen Identity, and Cracking Da Vinci’s Code. | |
![]() | Prof. Dr. Robert C. Cannada, Jr., D. Min. (Reformed Theological Seminary) is Chancellor and Chief Executive Officer of Reformed Theological Seminary. As Chancellor & CEO, Dr. Cannada provides leadership to five residential campuses in Jackson, MS; Orlando, FL; Charlotte, NC; Washington, D.C.; and Atlanta, GA; and one degree-granting extension campuses in Boca Raton, FL; a degree-granting Virtual Campus (distance education) based in Charlotte, NC; and three international Doctor of Ministry degree programs in Korea, Scotland, and Brazil. A Presbyterian pastor for twenty years, Dr. Cannada served First Presbyterian Church in Clinton, SC, before starting Covenant Presbyterian Church in Little Rock, Arkansas. From 1986 to 1993, he served as senior pastor of the First Presbyterian Church in Macon, Georgia. Dr. Cannada has taught courses in church polity and in sanctification at Charlotte, as well as courses at seminaries in the Ukraine and Brazil. | |
![]() | Prof. Dr. Samuel T. Logan, Jr., Ph.D. (Emory University) has served as the International Director of World Reformed Fellowship since 2005. He is also an ordained minister of the Orthodox Presbyterian Church. Served as President of Westminster Theological Seminary (Philadelphia) from 1991-2005, Dr. Logan currently holds from Westminster the titles of President Emeritus and Professor of Church History Emeritus. Dr. Logan was a Visiting Fellow at Christ’s College, Cambridge University, in 1988-1989. His publications include The Doctrine of Justification in the Theology of Jonathan Edwards, Jonathan Edwards and Presbyterianism, The Origins of Modern Attacks on Biblical Authority, Editor of the papers of the 2006 General Assembly of the WRF, published under the title, Confronting Kingdom Challenges: A Call to Global Christians to Carry the Burden Together. | |
![]() | Dr. Stephen Tong, D.L.C.E., D.D. (Westminster Theological Seminary) has preached to more than 30 million people over a span of 50 years in Asia, Europe, Australia, and in North and South America. He was teaching theology and philosophy at Southeast Asia Bible Seminary in Malang for 25 years. He was the founder and professor of the Reformed Evangelical Seminary and the Reformed Institute in Jakarta, as well as guest lecturing at many leading theological seminaries in Asia. Dr. Tong is also the founder and the President of the Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) which has established offices in major parts of the world. Impelled by the irresponsible teaching of the Word of God in Indonesia, Dr. Tong established the Reformed Evangelical Church of Indonesia. As a multi-gifted man of God expert in music, art, philosophy, science, antiques and architecture, Dr. Tong exercises his talents to his upmost, awaking his audience and followers to perform their duties in cultural mandate. Dr. Tong is the author of more than 75 books, including Theology of Evangelism, Between God and Man, Holy Spirit and Gospel, and Culture and the Fall. |
FURTHER INFORMATION --> http://www.calvin500.ws
Sabtu, 14 Maret 2009
Siapakah Yesus?
Jika Anda seperti kebanyakan orang saat ini, Anda pasti pernah mendengar nama Yesus. Anda mungkin berpikir bahwa Dia sebagai pemimpin agama atau mungkin sebagai orang yang sangat baik yang hidup 2000 tahun yang lalu.
Tetapi apakah Anda pernah berpikir bahwa Dia mungkin dapat membuat perubahan di dalam hidup Anda saat ini?
Apa Yang Allah Inginkan
Apa Anda tahu bahwa Allah mengasihi Anda dan ingin memiliki relasi dengan Anda - dimana Anda dapat berbicara dan mendengarkan Dia? Salah satunya dengan Anda mengizinkan Dia untuk menjadi bagian dalam tujuan hidup Anda? Dia ingin supaya Anda mengalami hidup yang berlimpah, yang Dia tahu hanya dapat didapatkan melalui Dia. Dia ingin supaya Anda menjadi bebas - bebas dari masa lalu Anda, dari kesalahan Anda dan perbuatan Anda yang memalukan, dari belenggu dosa, dari kecanduan Anda, dari ke-egoisan Anda.
Rencana Allah
Allah memiliki rencana untuk menyelesaikan semua itu. Rencana itu adalah Yesus Kristus. Yesus tidak bernoda, Anak Allah yang tidak berdosa. Dia datang ke dunia untuk menolong kita dari dosa. Anda telah mengetahui bahwa berbuat buruk mendapatkan konsekuensi/hukuman. Dalam hal ini, konsekuensi dari dosa kita adalah maut - keterpisahan kekal dari Allah. Tetapi, karena Allah sangat mengasihi kita, Dia mengganti obyek dari konsekuensi itu. Dia mengirimkan Anak TunggalNya yaitu Yesus, untuk turun ke dunia untuk membayar hukuman dari dosa kita.
Yesus disalibkan oleh orang yang tidak mengerti siapa Dia atau mengapa Dia datang. Yesus menginginkan mati di kayu salib (yang seharusnya kita), untuk menuntaskan rencana Allah untuk menebus manusia - bahkan orang yang memaku dia diatas kayu salib! Meskipun Dia sempurna dan tidak berdosa, Dia mengambil Dosa kita sehingga kita memiliki relasi yang dipulihkan dengan Pencipta kita.
Tetapi cerita ini tidak berahkir dengan pengorbanan kematian Yesus. Ia bangkit kembali 3 hari setelah disalibkan di bukit diluar Yerusalem, Allah membangkitakan Dia kembali! Yesus sudah tidak ada di kuburan lagi - Allah membangkitakn Dia dari kematian seperti Allah akan membangkitkan kita pada akhir hidup kita. dan pada waktu itu, semua orang berdiri dihadapan Allah dalam penghakiman
Anda Yang Memilih
Anda dapat menerima substitusi dari kematian Yesus untuk Anda, atau menolak. Jika Anda menolak, Anda akan berdiri sendiri dihadapan Allah pada hari penghakiman dan perhitungan kehidupan Anda. Anda akan jauh dibawah dari standart Allah dan Anda harus mebayar konsekuensi/hukuman Anda dengan menghabiskan kehidupan kekal Anda di Neraka, selama-lamanya terpisah dari Allah. Tapi jika Anda menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi, Allah akan menerima pengorbanan kematian AnakNya. Hal ini bukan sebuah pilihan yang Anda dapat pilih pada saat penghakiman - ini adalah pilihan yang harus Anda putuskan sekarang - baik menerima atau menolak Dia.
Allah mengasihi Anda dan ingin Anda untuk mengabiskan kehidupan kekal di sorga bersama Dia. Buatlah keputusan saat ini untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda. lihatlah betapa sederhananya:
1. Datanglah kepadaNya seadanya (tidak perlu menunggu sampai Anda siap)
2. Akuilah kebutuhan Anda (Saya adalah orang berdosa)
3. Berjanjilah bahwa tidak akan mengulangi atau berbalik kepada dosa Anda (menyesali)
4. Percayalah didalam hati dan pikiran Anda bahwa Yesus adalah Anak Alah, yang sudah mati di atas kayu salib untuk Anda dan telah bangkit kembali (Terimalah Dia sebagai satu-satunya jalan kepada Allah)
5. Mintalah kepada Yesus untuk datang kedalam hati dan hidup Anda dan menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda (terima Dia sebagai Juruselamat pribadi)
Berikut Sebuah Saran Doa
Bapa disorga, terima kasih atas anugerahMu untuk saya. terimakasih untuk AnakMu yang tunggal, Yesus Kristus yang telah mati dikayu salib. Saya sadar bahwa saya berdosa dan membutuhkan ampunanMu. Saya berjanji tidak akan kembali berputar untuk berbuat dosa lagi, dan saya ingin mengikut Yesus. Saya percaya bahwa Yesus telah mati untuk membayar hutang dosa saya dan telah bangkit dari kematian. Saya saat ini berdoa kepada Yesus untuk datang didalam hatiku dan menjadi Tuhan dan Juruselamatku. Kuasailah hidupku sepenuhnya dan bentuklah Aku menjadi seorang yang berkenan kepadaMu. Terimakasih Bapa. Didalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat saya yang hidup. Saya sudah berdoa. Amin.
Ciptaan Yang Baru
Jika Anda berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan iman, maka Anda telah menerima pengampunan dari Allah dan telah diterima didalam anggota keluarga Allah. Anda adalah orang percaya di dalam Yesus Kristus.
Jumat, 13 Februari 2009
Apa itu waktu?
Peribahasa China mengatakan “satu inci waktu sama nilainya dengan satu inci emas, tetapi satu ini emas tak dapat menggantikan satu inci waktu”. Jika orang barat berkata, “time is money”, maka orang Timur (China) berkata, “Time is monet, but money is not time”.
Bagaimanapun, mendefinisikan waktu dengan uang itu dangkal. Definisi tersebut jauh dari memuaskan.
Saya sendiri memberikan tiga definisi waktu. Bagi saya, definisi-definisi ini akan bermanfaat bagi Anda seumur hidup.
Waktu adalah hidup
Masa hidup Anda tidak mungkin lebih lama daripada waktu yang Anda miliki. Karena itu, memboroskan waktu berarti memboroskan hidup itu sendiri. Menghamburkan waktu berarti menghamburkan hidup.
Saya serign bertanya pada orang lain, “apakah Anda percaya pada Yesus Kristus? Apakah Anda pernah mendenganr injil Yesus Kristus? Apakah Anda mau datang ke gereja untuk beribadah dan mendengarkan Injil? Jawaban mereka kerapkali adalah “saya mau, cuma saya terlalu sibuk”. Saya tidak punya waktu!
Mereka hidup dalam jangka waktu tertentu, dan menggunakan waktu selama hidup mereka. Tetapi mereka berkata bahwa mereka tidak mempunyai waktu. Tidakkah Anda melihat kontradiksi ini?
Mengapa mereka kekurangan waktu? Mereka terlalu sibuk! Mengapa mereka tidak dapat menjadwalkan kebaktian ke dalam daftar kegiatan mereka? Kapan Anda akan mempunyai cukup waktu? Apakah Anda ingin menunggu sampai Anda menderita sakit berat dahulu baru Anda dapat menemukan waktu?
Anda telah memandang hidup Anda tidak berharga, tidak mau menggunakan sedikit saja waktu untuk berfikir tentang nilai hidup, makna, tujuan serta perihal kehidupan dan kematian. Anda tidak memikirkan hidup Anda dengan serius. Mengapa hidup dan waktu Anda diserahkan pada uang?
Inilah macam kehidupa yang orang banyak jalani hari ini. Apakah Anda salah satu dari mereka?
Waktu adalah kesempatan
Kita tidak mungkin mendapat kesempatan setiap waktu. Namun semua kesempatan akan ditemukan dalam waktu. Tak seorang tahu berapa lama waktu yang telah ia hamburkan di dunia. Berapa orang membuat rencana, mengatur beberapa pekerjaan untuk diselesaikan, dan tiba-tiba meningal dunia pada malam harinya.
Saya mempunyai seorang teman yang selalu membuka halaman obituarium (berita kematian) ketika membaca surat kabar, mencari wajah-wajah dikenalnya. Saya bertanya kepadanya, “Mungkinkah kamu membaca berita kematianmu sendiri?” Ia menjawab, “Tidak, kamu hanya bisa melihat kematian orang lain, tapi tidak pernah melihat kematianmu sendiri”.
Meskipun kita tidak dapat membaca berita kematian kita sendiri, suatu hari kematian juga akan datang pada kita. Persoalannya, bila Anda meninggal dunia siang ini, siapkah Anda?
Waktu adalah kesempatan. Orang bodoh selalu membuang kesempatan; orang biasa menunggu kesempatan; orang bijak mencari kesempatan. Hidup ini hanya sekali dan kita tidak akan kembali lagi setelah mati. Selama hari masih siang kita harus melakukan pekerjaan Tuhan; sebab akan datang malam, ketika tidak seorangpun dapat bekerja (Yohanes 9:4)
Waktu adalah catatan
Ketika saya berkhotbah, alat perekam suara menyimpan sstiap kata yang saya ucapkan. Pemikiran-pemikiran saya telah direkam dalam waktu. Saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus berhati-hati karena kesalahan pun akan direkam.
Saya berharap Anda merasakan hal yang sama, akrena surga memiliki rekaman tentang Anda. Jangna berpikir bahwa tidak ada yang tahu akan dosa-dosa Anda, dan hanya hati nurani Anda yang tahu.
Jangan lupa, waktu adalah catatan! Tuhan pencipta mencatat setiap peristiwa dalam hidupmu.
Doa Musa sungguh agung, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Ia mengaitkan waktu dengan hikmat, dan sadar bahwa ia harus mencari arahan dari Tuhan yang melampaui waktu.
Orang bijak hidup dalam waktu, dan membangun hidupnya dengan perbuatan-perbuatan baik. Tetapi orang bebal menghamburkan hidupnya dengan waktu dengan perbuatan-perbuatan jahat.
Bagaimana Anda menggunakan waktu Anda hari ini? apakah hidup Anda dipimpin dan diarahkan oleh hikmat? Dari manakah Anda memperoleh hikmat ini? apakah anda sudah mengenal Allah yang menciptakan waktu, melampaui waktu? Hanya Dia satu-satunya yang dapat memberikan hikmat sementara Anda hidup dalam waktu. Doa Musa ini berbeda sekali dari doa sehari-hari kita, yang selalu mohon untuk sebuah kehidupan yang bebas dar masalah, dan kemakmuran dalam berbisnis. Musa memohon agar hidupnya dikaitkan dengan kehendak Allah yang kekal.
Tuhan yang menciptakan kehidupan, yang memberikan kita nafas kehidupan, juga menetapkan batas-batas ruang dan masa hidup, sehingga kita akan mencari Dia.
Jangan anggap enteng kesempatan yang diberikan kepada kita! Tebuslah waktumu! Biar kita belajar menghitung hari-hari dan beroleh hati yang bijaksana.
Kiranya setiap kita memiliki kesadaran akan waktu seperti ini.
Dikhotbahkan Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong
STEMI (STEPHEN TONG EVANGELISTIC MINISTRIES INTERNATIONAL)
Senin, 26 Januari 2009
John Calvin - the 500th years anniversary of his birth (Quincentennial)
Pada mulanya ayah Calvin menginginkan anaknya untuk menjadi imam. Pada umur 12 tahun Calvin sudah menerima "tonsur" (pencukuran rambut dalam upacara inisiasi biarawan) dan ia sudah menerima upah dari paroki St. Martin de Marteville. Dengan penghasilan tersebut Calvin dapat meneruskan pendidikannya pada jenjang yang tinggi. Pada tahun 1523 Calvin memasuki College de la Marche di Park. Di sini ia belajar retorika dan Bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya pada seorang ahli bahasa Latin yang terkenal, yaitu Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke College de Montague. Di sini Calvin belajar filsafat dan theologia. Di sekolah inilah Calvin belajar bersama dengan Ignatius dari Loyola.
Setelah Calvin menyelesaikan pendidikannya itu tiba-tiba ayahnya tidak menginginkan anaknya lagi untuk menjadi imam. Ayahnya menginginkan Calvin menjadi seorang ahli hukum. Oleh karena itu Calvin memasuki Universitas Orléans untuk belajar ilmu hukum. Kemudian ia belajar juga di Universitas Bourges dan Paris (dalam usia 14 tahun). Bahasa Yunani dan Ibrani dipelajarinya dari Melchior Wolmar, seorang ahli bahasa terkenal pada abad itu. Dengan demikian Calvin menjadi seorang ahli hukum. Studi hukumnya sangat mempengaruhinya dalam usaha pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya. Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.
Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans dan di bulan April, Calvin menerbitkan bukunya yang pertama, yaitu: Komentar Kitab “De Clementia”, yang kitab tersebut merupakan karya filsuf Romawi Seneca. Dalam buku ini dipersembahkan kepada Claude de Hangest, sahabat sekolahnya di keluarga bangsawan Mommer, di Noyon dahulu. Buku itu memperlihatkan Calvin sebagai seorang humanisme sejati. Dalam buku ini tidak terdapat tanda-tanda bahwa Calvin telah beralih ke pihak reformasi di Perancis. Dapat diduga bahwa Calvin telah membaca tulisan-tulisan Luther dan para reformator Swiss lainnya. Bilamana Calvin menjadi pengikut gerakan reformasi tidak dapat ditentukan dengan tepat. Pertobatannya kemungkinan terjadi pada akhir 1532 dan awal 1533. Hal ini didasarkan kepada suratnya kepada Bucer, yang meminta kepada Bucer di Strausburg untuk memberi perlindungan kepada orang-orang reformatoris yang melarikan diri karena dihambat di Perancis. Surat tersebut ditulis Oktober 1533. Mengenai pertobatannya, Calvin menulis sebagai berikut: " . . . muncullah suatu ajaran yang baru, yang tidak membelokkan kami dari pengakuan Kristen, malah justru membawa kami kembali kepada sumbernya yang asli, menyucikannya dari segala noda, mengembalikan kepadanya kemurniannya yang semula. Tetapi aku benci kepada hal hal yang baru itu, dan sukar mendengarnya sekalipun. Dan pada mulanya aku menentangnya sekeras-kerasnya, karena aku telah menempuh jalan yang sesat dan penuh kebodohan. Tetapi berkat pertobatan yang tiba- tiba, Allah menujukan hatiku kepada kepatuhan".
Pada tahun 1534 golongan reformatoris di Perancis dihambat dengan keras. Orang-orang reformatoris menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Swiss. Calvin pun ikut melarikan diri ke Strausburg di mana ia diterima dengan hangat oleh Bucer. Kemudian Calvin meneruskan perjalanannya ke Basel. Calvin tinggal di Basel setahun lebih lamanya. Selama itu Calvin masih pergi ke Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai nama-nama samaran seperti: Martianus Lucanius, Carolus Passelius, Calpunius, dan sebagainya. Di Basel inilah Calvin menerbitkan bukunya yang terkenal itu, yaitu: Religionis Christianae Institutio (dalam bahasa Inggris: Institutes of the Christian Religion / Pengajaran tentang Agama Kristen), tahun 1536. Biasanya dikenal dengan sebutan Institutio. Buku ini kemudian direvisi berkali-kali dan menjadi buku dogmatika yang terutama dalam gereja-gereja Calvinis. Institutio adalah karangan theologia yang kedua yang keluar dari tangan Calvin. Buku theologia yang pertama adalah berjudul: Psychopannychia (Mengenai Tidurnya Jiwa-Jiwa), suatu karangan melawan ajaran Anabaptis yang mengajarkan bahwa jiwa manusia tidur hingga Kristus datang kembali setelah manusia itu meninggal.
Pada tahun 1536 Calvin pergi ke Italia. Dalam perjalanan pulang ke Basel ia terpaksa melalui Jenewa dan menginap di sana. Farel mendengar bahwa Calvin berada di Jenewa sehingga Farel mencari Calvin. Farel meminta kepada Calvin untuk tinggal di Jenewa dan bersama-sama dengan Farel menata kota Jenewa menjadi kota reformasi. Dua bulan sebelumnya Dewan Kota Jenewa telah memutuskan untuk menganut paham reformasi. Permintaan Farel ditolak oleh Calvin. Calvin mau hidup tenang dan terus menulis karya-karya theologia. Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan praktis dalam jemaat. Namun Farel mendesaknya dengan berkata: "Dengan nama Allah yang mahakuasa aku katakan kepadamu: jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan Kristus". Calvin melihat panggilan Allah kepadanya lewat Farel sehingga ia tinggal di Jenewa. Kini Calvin tinggal di Jenewa bersama-sama dengan Farel mengatur gereja reformatoris di sana. Mereka merancangkan sebuah tata gereja yang mengatur seluruh kehidupan warga kota menurut cita-cita theokrasi. Menurut rancangan tata gereja itu dikatakan, bahwa Perjamuan Kudus diadakan sebulan sekali dan berhubungan dengan itu akan dijalankan disiplin yang keras. Setiap penduduk diwajibkan menandatangani sehelai surat pengakuan sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh sadar akan iman dan pengakuannya. Hal yang terakhir ini tidak disetujui oleh banyak warga kota. Pada tahun 1538 Dewan Kota dikuasai oleh orang-orang yang menolak pengakuan itu sehingga Calvin dan Farel dilarang berkhotbah di mimbar-mimbar gereja di Jenewa, dan pada akhirnya keduanya diusir dari Jenewa. Kemudian Calvin dipanggil oleh jemaat Strausburg. Ia menjadi pendeta di sana tahun 1539-1541. Dalam jemaat ini Calvin bersama-sama Butzer dapat menerapkan cita-cita yang gagal di Jenewa dahulu. Di sini Calvin mengusahakan nyanyian Mazmur dengan bantuan ahli musik terkenal; yaitu Clement Marot, Louis Bourgois dan Maitre Piere. Di sini pula Calvin mulai menulis tafsiran-tafsiran Alkitab serta merevisi Institutio. Di sinilah pula Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda bangsawan (ia meminta teman-temannya menolongnya mencarikan seorang perempuan yang "sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan saya."). Pernikahannya hanya berlangsung sembilan tahun lamanya, karena kemudian istrinya meninggal (anak satu-satunya laki-laki yang dua minggu meninggal dunia setelah dilahirkan). Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolongnya dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkannya dengan urusan anak-anaknya dan berjiwa besar
Namun tahun 1541 Calvin dipanggil kembali oleh jemaat Jenewa sehingga kita menemukannya lagi di sana. Calvin tinggal dan bekerja di sini hingga meninggalnya, 27 Mei 1564, karena mengidap TBC.
Segera sesudah ia bekerja dalam jemaat Jenewa, Calvin menyusun suatu tata gereja baru yang bernama: Ordonnances Ecclesiastiques (Undang- undang Gerejani), 1541.
Calvin adalah seorang theolog besar dalam kalangan gereja-gereja reformatoris. Pandangan-pandangan theologianya dituangkannya dalam bukunya, Institutio.
Calvin mengajarkan tentang pembenaran hanya oleh iman (justification by fatih alone / Sola Fide), sama seperti Luther. Namun Calvin sangat menekankan penyucian (santification), kehidupan baru yang harus ditempuh oleh orang-orang Kristen yang bersyukur, karena Allah telah menyelamatkan mereka. Calvin menegaskan bahwa anggota-anggota jemaat yang berkumpul untuk mendengarkan Firman Allah dan untuk ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus haruslah suci. Disiplin gereja diawasi dengan ketat. Pengawasan atas tingkah laku anggota jemaat bukan saja dilaksanakan oleh penatua, tetapi juga oleh pemerintah (Dewan Kota).
Hubungan gereja dan negara dalam theologia Calvin sangat erat. Calvin bercita-cita suatu negara theokrasi. Seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Pemerintah bertugas juga untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang murni. Namun ini tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja. Gereja dan negara berdampingan. Keduanya bertugas untuk melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan Tuhan Allah. Mengenai tugas negara, Calvin menulis sebagai berikut: "Pemerintah diberi tugas untuk, selama kita hidup di tengah-tengah orang-orang, mendukung serta melindungi penyembahan Allah yang lahiriah, mempertahankan ajaran yang sehat tentang ibadah dan kedudukan gereja, mengatur kehidupan kita dengan melihat kepada pergaulan masyarakat, membentuk kesusilaan kita sesuai dengan keadilan seperti yang ditetapkan oleh Undang-undang negara, menjadikan kita rukun dan memelihara damai serta ketentraman umum.... "
Mengenai jabatan-jabatan dalam gereja Calvin mengenal empat jabatan yaitu, pendeta, pengajar, penatua dan diaken. Pendeta-pendeta bersama-sama dengan para penatua merupakan konsistori, yaitu majelis gereja yang memimpin jemaat dan yang menjalankan disiplin gereja. Peraturan pemilihan dan penahbisan pejabat-pejabat gereja itu diatur dengan teliti, terutama jabatan pendeta.
Mengenai Perjamuan Kudus, Calvin mengajarkan bahwa Perjamuan Kudus adalah pemberian Allah dan bukan perbuatan manusia. Roti dan anggur bukan saja lambang, melainkan alat yang dipakai untuk memberikan tubuh dan darah Kristus kepada umatNya. Akan tetapi Kristus kini ada di surga. Roti dan anggur tidak bisa dianggap sama saja dengan tubuh dan darah yang di dalam surga itu, melainkan harus dianggap sebagai tanda dan meterai dari anugerah dan kasih Tuhan dalam Yesus Kristus. Calvin membedakan tanda dengan apa yang ditandakan oleh tanda itu. Calvin menjelaskannya sebagai berikut: "Sebagaimana orang yang percaya itu sungguh menerima tanda-tanda itu dengan mulutnya, demikianlah pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh Roh Kudus (dengan iman) dengan tubuh Kristus yang di surga". Dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus, Calvin sangat teliti.
Calvin di dalam ajarannya juga menekankan predestinasi di samping pembenaran oleh iman. Menurut Calvin bahwa sejak kekal Allah di dalam diri-Nya sendiri telah menetapkan orang-orang mana yang diberiNya keselamatan dan yang mana yang dibinasakan. Orang-orang yang dipilih Tuhan itu diberi anugerah dengan cuma-cuma sedangkan orang-orang yang ditolak atau tidak dipilih Allah, mereka jatuh dengan dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Calvin mengatakan hal ini sungguh sulit dipahami. Tanda- tanda bahwa seseorang ditetapkan Allah untuk kehidupan yang kekal ialah bahwa ia (mereka) dipanggil oleh Tuhan Allah dan mereka menerima pembenaran dari Allah.
Calvin juga melawan ajaran Antitrinitarian yang diajarkan oleh Michael Servet. Pada waktu Servet berada di Jenewa dalam pelarian dari hukuman mati yang telah dijatuhkan oleh Gereja Katolik Roma ke atasnya, Dewan Kota Jenewa menangkap dan memenjarakan Servet atas permintaan Calvin. Tapi nasibnya sudah diputuskan: pengadilan sipil Wina, dengan napas Gereja Katolik, memvonisnya dengan hukuman bakar bila tertangkap. Atas anjuran para pendeta dan tentunya termasuk Calvin di dalamnya, ia ingin supaya hukumannya di peringan dengan cara kepala Servet dipenggal, tetapi ditolak oleh sidang dan mereka tetap membakar Servet pada tahun 1553.
Di Jenewa, Calvin juga mendirikan sekolah-sekolah. Di Jenewa didirikan sebuah Akademi yang memiliki dua bagian, yaitu gymnasium dan theologia. Theodorus Beza diangkat menjadi direktur Akademi tersebut. Di Akademi inilah dipersiapkan pemuda-pemuda Calvinis yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja Calvinis yang terkenal, seperti John Knox, Caspar Olevianus, pengarang Katekismus Heidelberg yang terkenal itu.
Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan "kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.
Calvin sudah memberi sumbangan pengaruh besar kepada dunia. Doktrin teologinya akhirnya merebut pendukung lebih banyak ketimbang yang diperoleh Luther. Meskipun daerah Jerman bagian utara dan Skandinavia merupakan daerah kaum Lutheran yang berakar, tetapi Swiss dan negeri Belanda menjadi daerah Calvinis. Ada sebagian kecil penganut Calvin di Polandia, Hongaria dan Jerman. Kaum Presbytarian di Skotlandia adalah Calvinis, seperti halnya orang-orang Huguenot di Perancis dan kaum Puritan di Inggris. Pengaruh Puritan di Amerika, tentu saja, cukup kuat dan bertahan lama.
Banyak sekali pekerjaan yang dikerjakan oleh Calvin tanpa mengenal lelah. Sejak tahun 1558 kesehatan Calvin mulai memburuk ketika ia menderita sakit kepala, perdarahan paru-paru, asam urat dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza, Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa, namun atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari, (meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan; lihat Tafsirannya tentang Kejadian 9:20); rekreasinya hanya terdiri dari jalan kaki setelah makan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata kepada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?".
Sebelum meninggalnya, ia meninggalkan banyak pesan kepada jemaatnya dan kepada Theodorus Beza, yang akan menggantikan kedudukannnya di jemaat Jenewa. Dewan Kota dan para pendeta dipanggilnya untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya. Pada tanggal 27 Mei 1564 Calvin meninggal dunia dengan tenang, Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai semata-mata dengan inisialnya, "J.C", sebagian untuk menghormati permintaannya agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi ataupun upacara. Ia pergi dengan meninggalkan pekerjaan yang berat kepada Theodorus Beza. Namanya dikenang sepanjang sejarah di seluruh dunia dengan terpatrinya gereja Calvinis atau Reformed.









