Sabtu, 20 Juni 2009

Kristology

KRISTOLOGY
oleh Gerald Sereh


NAMA DAN GELAR JESUS
Nama YESUS1 adalah Jehoshua, Joshua dalam bahasa Ibrani. Jeho (Johovah) dan shua (Membantu). Nama KRISTUS adalah nama jabatan Mesias atau Maschiach berarti Yang Diurapi. Sejak kekekalan Kristus ditetapkan untuk diurapi, dengan maksud menerima jabatan-Nya yang digenapi dalam baptisan2. Nama ANAK MANUSIA, serig digunakan dalam kitab injil menanamkan kemesiasan-Nya. Nama ANAK ALLAH memiliki 4 pengertian. (a) Mesianik. disebut juga Anak Allah sebagai ahli waris dan wakil Allah. (b) Tritunggal. Nama ini menujuk kepada Yesus sebagai Putra Allah yang kekal. (c) Kelahiran-Nya. Kristus disebut Anak Allah berkenaan dengan kelahiran-Nya. (d) Etis-religius. Untuk menunjuk pada Yesus dalam pengertian etis religius dalam Mat 17:24-27. Nama TUHAN3, Setara dengan Yehovah, pengganti Adonay.
Dalam perjanjian baru ada 3 penerapan yang mirip nama Kristus. (a) Sebagai sapaan yang hormat dan menghargai (Mat 8:2; 20:33). (b) Sebagai pernyataan kepemilikan dan otoritas, tanpa bermaksud menunjukan apa-apa, tentang sifat Ilahi Kristus serta otoritas-Nya (Mat 21:3; 24:42). (c) Sebagai pernyataan kepemilikan dan otoritas (bukan sifat Ilahi Kristus serta otoritas-Nya). (d) Menyatakan sifat yang dimuliakan dan setara dengan nama Allah (Mrk 12:3637; Luk: 2:3).
Bukti-bukti ke-Ilahian Kristus. (a) PL berisi nubuatan tentang Mesias: Mzm 2:2-6; Yes 9:6; Dan 7:13, dan ayat-ayat lainnya. (b) Surat-surat Paulus dan Yohanes. Injil Yohanes memuliakan Pribadi Kristus dalam ayat-ayat berikut: Yoh 1:1-3, 14, 18; I Yoh 1:3. Pandangan yang sama dalam surat Paulus dan kitab Ibrani seperti: Roma 1:7; I Kor 1:1-3; Ibr 1:1-3, 5-8; 4:14; 5:8, dan sebagainya. (c) Dalam Injil Sinoptik. Telah terbukti bahwa Kristus sama Ilahi-Nya dan sama benarnya dengan Kristus dalam Injil Yohanes. Kristus adalah Pribadi Supranatural sepenuhnya, Anak Manusia dan Anak Allah. Sifat dan KaryaNya membenarkan klaim-Nya sebagai ALLAH (Mat 5:17; 9:6; 16:16; 25:31; Mrk 8:38). (d) Kesadaran diri Yesus. Sejumlah ayat dalam Matius dan Lukas dimana Ia berbicara menyebutkan oknum pertama Allah Tritunggal sebagai “Bapa-Ku”, Mat 7:21; 10:32,33; 8:10; Luk 2:49; 22:29). Dan lebih jelas lagi dalam Yoh 3:13; 5:17-27; 6:37-50; dan ayat-ayat lainnya.
Bukti-bukti kemanusian Kristus. Sangat penting untuk tetap mempertahankan realita dan integritas kemanusian Kristus. dengan mengakui pertumbuhan kemanusian-Nya dan keterbatasan-Nya. Elemen esensi natur manusia yaitu tubuh jasmaniah dan jiwa rasional (Mat 26:26-38; Luk 23:46; Yoh 11:33; Ibr 2:14). Sebagai manusia, Yesus di bawah hukum manusia dan mempunyai kebutuhan serta penderitaan (Luk 2:40,52; Ibr 2:10,18; 5:8). Yesus memiliki pengalaman sebagai menusia dalam kehidupan-Nya (Mat 4:2; 8:24; Mrk 3:5; Luk 22:44; Yoh 4:6; Ibr 5:7).
Bukti Alkitab bahwa Yesus tidak berdosa. Yesus memiliki kesempurnaan Natural, Moral, dan Integritas. Alkitab Jelas mengakui ketidakberdosaan Yesus (Luk 1:35; Yoh 8:46; 14:30; II Kor 5:21; Ibr 4:15). Yesus adalah manusia yang ideal (Ibr 2:8-9; I Kor 15:45; II Kor 3:18; Fil 3:21). Nama Anak Manusia, dijadikan nama diri, untuk menunjukan bahwa Ia adalah jawaban bagi gambaran kemanusiaan yang sempurna.
Perlunya kedua natur dalam diri Kristus. (a) Perlunya KemanusiaanNya. Pembayaran upah dosa mencakup tubuh dan jiwa, yang hanya mungkin ditanggung oleh manusia (Yoh 12:27; Ibr 2:14). Yesus harus memiliki natur manusia, bukan saja semua eseinsial-Nya, tetapi juga kelemahan yang dialami akibat kejatuhan. (b) Perlunya KeilahianNya. Pengantara Manusia dengan Allah harus juga Allah yang sajati, dengan tujuan (1) Membawa korban yang nilainya tanpa batas dan memberikan ketaatan yang sempurna kepada hukum Allah. (2) Dapat menanggung murka Allah. (3) Ia dapat menerapkan buah-buah karya-Nya yang telah diselesaikan-Nya, bagi mereka yang menerima-Nya dengan Iman.4


KESATUAN PRIBADI KRISTUS
Kristus dikenal dalam 2 natur, tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, tidak terpisah. Masing-masing natur tetap dipertahankan dan ada bersama-sama dalam satu pribadi dan satu subsistensi.5 Kebenaran agung yang ada, ialah bahwa Anak Allah yang kekal mengambil bagi diri-Nya sendiri yaitu kemanusian kita. Psikologi berusaha untuk menjelaskan pribadi Kristus, namun mengalami kegagalan. Sebab Ia adalah Anak Allah yang sejati yang tak perlu dibuktikan secara psikologi yang terbatas.
Natur adalah seluruh kualitas yang menjadikan sesuatu itu sebagaimana dia ada. Logos mengambil natur yang tidak berpribadi, yang tidak ada pada dirinya6. Hanya ada satu pribadi dalam diri Pengantara: logos tidak dapat berubah, Logos diperlengkapi dengan dasar pribadi Kristus. Inkarnasi menjadikan pribadi-Nya kompleks, yang terdiri dari 2 natur. Natur pribadi Kristus tidak membentuk satu pribadi manusia, karena Logos tidak mengambil pribadi manusia. Natur manusia-Nya sama sekali tidak kekurangan kualitas esensi apapun dan Natur tersebut memiliki substensi Pribadi yaitu Pribadi Anak Allah sendiri. Di dalam Alkitab tidak terdapat bahwa Kristus memiliki 2 Kepribadian. Bagian firman Tuhan dibawah ini yang menunjukan 2 natur tetapi 1 Pribadi (Rm 1:3-4; Gal 4:4,5; Fil 2:6-11). Berkenaan dengan natur manusia-Nya membuat Juruselamat Ilahi mungkin tidak tahu atau lemah, dapat dicobai, menderita dan mati. Natur Ilahi dan natur manusia sekarang menjadi satu dalam Pribadi Kristus7.
Sang pengantara dalam kedua natur-Nya adalah obyek penyembahan. Honor adorationis tidak dimiliki natur manusia biasa tetapi persatuan dengan antara manusia dengan pribadi Logos, yang di dalam natur Logos itu sendiri adorabilis. Kristus mengambil rupa seorang hamba tidak mencakup penyingkiran bentuk Allah-Nya.
Sejak Praeksistensi, Kristus tidak memperhitungkan keberadaan yang setara dengan Allah itu sebagai suatu harga yang tidak boleh diabaikan, Ia akan mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba.
Ada beberapa keberatan bahwa Kristus mengkenosiskan diri-Nya. (1) Allah dan manusia tidak terlalu mutlak berbeda, tetapi yang satu dapat berubah menjadi yang lain. (2) Doktrin ini sangat subyektif sekali terhadap doktrin ketidakberubahan Allah. (3) Doktrin kenosis berarti penghancuran Tritunggal, dan dengan demikian menyingkirkan Allah yang sejati. (4) Eksistensi Ilahi seolah-olah dapat dilepaskan demikian saja dari esensi Ilahi. (5) Doktrin ini berkeinginan untuk memastikan pribadi dan kenyataan kemanusiaan Tuhan kita.


KEADAAN KEMULIAAN KRISTUS
Keadaan Kristus secara umum dapat dibedakan secara kondisi dan keadaan. Kondisi adalah cara keberadaan seseorang, terutama ditentukan oleh lingkuangan hidupnya. Keadaan adalah posisi atau status kehidupan seseorang, terutama forensik di mana seseorang berdiri di depan hukum. Dalam keadaan hina, Kristus di bawah hukum, bukan saja sebagai aturan hidup-Nya, tetapi juga sebagai syarat perjanjian kerja, dan bahkan berada di bawah tuntutan hukum, akan tetapi dalam keadaan kemulian Ia bebas dari hukum, setelah memenuhi syarat perjanjian kerja dan setelah membayar upah dosa.
Lutheran berusaha menyelaraskan doktrin commmunicatio idiomatum dengan doktrin kehinaan Kristus, dan pemikiran ini diterima oleh kaum Reformed, tetapi keduanya berbeda pada subyek sesungguhnya dari keadaan–keadaan itu. Menurut Lutheran yang menjadi subyek adalah natur manusia Kristus, tetapi menurut Reformed yang menjadi subyek adalah pribadi Sang Pengantara. Jika pribadi sang pengantara yang menjadi subyek maka, ada 3 hal yang harus diperhatikan: (1) Pra Eksistensi Kristus, (2) Keadaan hidup di dunia sementara, (3) Keadaan surgawi dan dimuliakan. Maka dalam hal ini, Teolog Reformed mendapat dukungan yaitu: Kerelaan-Nya di dalam Kehinaan untuk menempatkan diri-Nya sendiri pada pactum salutis untuk menggenapkan keselamatan8.
Berdasarkan Fil 2:7-8 Reformed Theology membedakan 2 elemen kehinaan Kristus yaitu: (1) Kenoosis. Yesus menyingkirkan keagungan Ilahi-Nya, Keagungan penguasa berdaulat, dan mengambil natur manusia dalam seorang hamba. (2) Tapeinosis. Kristus menjadi subyek tuntutan dan kutukan hukum, taat dalam perbuatan, menderita, sampai mati yang amat hina. Keadaan Juruselamat tertulis dalam Gal 4:4, takluk kepada “Hukum Taurat,” direfleksikan dalam keadaan yang berkaitan dengan kehinaan.
Reformed Theology membagi keadaan Kehinaan Kristus menjadi 5 tingkat: (1) inkarnasi, (2) penderitaan, (3) kematian, (4) dikuburkan, dan (5) turun ke dunia orang mati. Subyek yang berinkarnasi adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, dan harus diingat juga bahwa masing-masing pribadi Ilahi ikut aktif dalam Inkarnasi. Putra Allah mengambil natur manusia, memakai daging, dan darah menusia. Gereja Reformasi mengajarkan bahwa inkarnasi terjadi oleh karena kejatuhan manusia (Fil 2:5-11). Inkanasi sudah ada dalam rencana Allah. Hanya ada satu rencana Allah dan rencana ini mencakup dosa dan penebusan, bukan berdasarkan dosa, akan tetapi berdasarkan kesukaan kemurahan Allah2.
Firman menjadi daging bukan berarti Ia mengambil pribadi manusia dan tidak sekedar mengambil daging manusia. Natur manusia Kristus di dapat dari Maria yang diberkati oleh kuasa Roh Kudus6. Elemen terpenting dalam kelahiran Yesus adalah tindakan Roh Kudus yang supranatural. Karya Roh Kudus berkenaan dengan kelahiran Yesus yaitu, (1) Roh Kudus adalah penyebab satu-satunya kandungan maria, dengan demikian menyingkirkan campur tangan seorang laki-laki. (2) Roh Kudus menyucikan natur manusia Kristus sejak awal Ia dikandung. Ada 2 tujuan doktrinal Kristus dilahirkan dari anak dara9. (a) Kristus harus menjadi Mesias dan Anak Allah Mesianik. Akibatnya Ia harus dilahirkan melalui seorang wanita, tetapi dilahirkan dari Allah. (b) Kristus dilahirkan bukan dari benih laki-laki. Yesus bebas dari kesalahan dosa, maka natur manusia-Nya dapat tetap bebas dari kecemaran karena dosa, baik sebelum maupun setelah kelahiran-Nya. Ketika Kristus berinkarnasi Ia mengambil daging yang sudah dicemari oleh dosa, hal ini yang dicatat dalam Roma 8:3, II Kor 8:9; Flp 2:6-7.
Penderitaan yang dialami oleh Kristus bukan hanya secara jasmani tetapi juga rohani. Hal ini nampak di taman getsemani dimana jiwa-Nya sangat takut, seperti mau mati rasanya dan Ia ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Penderitaan-Nya berasal dari berbagai sebab (1) Ia adalah Allah menempati kedudukan manusia, dan Ia diperintah dan harus taat kepada hukum. (2) Ia murni dan Kudus tetapi hidup dilingkungan berdosa. (3) Kesadaran yang sempurna dan antisipasi-Nya yang jelas sejak awal kehidupan akan penderitaan-Nya jelas tidak menimbulkan kegembiraan-Nya. (4) Ia dicobai Iblis, dibenci orang, dan siksaan yang harus Ia tanggung. Penderitaan Sang Juruselamat tidak sepenuhnya terjadi apa adanya tetapi juga merupakan tidakan positif dari Allah (Yes 53:6,10). Semakin mendekat pada kejadian di Getsemani penderitaan Kristus semakin berat, hanya melalui setiap pencobaan Kristus dapat sepenuhnya menjadi Imam besar yang turut merasakan penderitaan manusia10.
Titik puncak tertinggi dari dari penderitaan Kristus adalah waktu kematiaan-Nya yaitu: (1) Derajat Kematian-Nya. Kematian Kristus harus dipandang dari keadilan Hukum Allah. Allah Bapa sendiri yang menjatuhkan hukuman atas Kristus secara adil. Kritus bukan saja berada dibawah kematian jasmani tetapi kematian kekal, dalam suatu masa yang amat singkat Ia menanggung murka Allah yang tidak terbatas sampai akhir, dan tampil sebagai pemenang. (2) Sifat Yuridis. Kristus mati dibawah hukum, Ia harus terhitung diatara pembuat pelanggaran, harus dituduh sebagai terpidana. Hukuman salib dijatuhkan kepada orang tak berguna, kejam dan budak, dengan demikian Yesus mendapatkan tuntutan hukum tertinggi dan dengan demikian Ia membuktikan kenyataan bahwa Ia menjadi terkutuk karena kita, Ul 21:23; Gal 3:13.


YESUS DIKUBURKAN
Penguburan yang dialami Kristus membentuk juga bagian dari kehinaan-Nya. Lebih jauh lagi, penguburan ini bukan saja membuktikan bahwa Yesus benar-benar mati, tetapi juga menyingkirkan segala kengerian bagi orang yang telah ditebus oleh-Nya. Kristus bukan saja dikuburkan tetapi Ia juga telah turun ke dalam kerajaan maut seperti yang tertulis dalam Ef 4:9; I Pet 3:18,19; I Pet 4:4-6; dan Mazmur 16:8-10. John Clavin “mengatakan penderitaan akhir Kristus diatas salib, dimana Ia sungguh-sunguh merasakan rasa sakit dari hempasan Neraka. Kristus menderita Neraka sebelum kematian, yaitu di getsemani dan diatas kayu salib, dan ia memasuki kehinaan kematian.”
Teologia Reformed melihat Pribadi Sang Pengantara yaitu manusia Allah sebagai subyek kemuliaan. Dalam keadaan Kemuliaan Manusia-Ilahi, Yesus Kristus (a) melewati keadaan di bawah hukum dari keadaan federal dan hukum, dan hukum yang berkaitan dengan beban hukum sebagai syarat perjanjian kerja, dan dari kutukan di bawah hukum (b) menggantikan hukuman bagi orang benar, dan sebagai pengantara memasuki berkat keselamatnan yang Ia peroleh bagi orang berdosa (c) dimahkotai dengan hormat dan kemulian. Harus juga tampak dalam keadaan-Nya bahwa kutukan dosa telah diangkat.
Kisah-kisah dalam injil dengan jelas menunjukan bahwa kehinaan Kristus segera diikuti dengan kemuliaan-Nya. Dan ini juga dapat dijumpai dalam Flp 2:9-11, Kis 2:33; Rom 8:17,34; Ef 1:20; I Tim 3:16; dan Ibr 1:3. Keadaan kemulian Kristus memiliki 3 sisi arti penting. Setiap tingkatan adalah pengumuman nyata dari Allah bahwa kristus menggenapi hukum, dan dengan demikian disebutkan dalam upah yang diterima-Nya. Namun, Teologi modern menyangkal semua pengertian tentang Kristus dan mereka menyingkirkan semua hal yang supranatural dalam diri dan kehidupan Juruselamat.


KEBANGKITAN KRISTUS
Kebangkitan Kristus menunjukan bahwa tubuh dan jiwa-Nya diperbaharui dalam keadaan dan kekuatan yang dinaikan pada derajat yang lebih tinggi dari semula. Kebangkitan Kristus memiliki 3 arti penting: (1) Allah Bapa menyatakan bahwa musuh terbesar telah dikalahkan, upah dosa telah dibayar dan syarat-syarat kehidupan telah yang dijanjikan telah terpenuhi. (2) Melambangkan apa yang akan terjadi bagi jemaat-Nya dalam pembenaran, kelahiran baru, dan kebangkitan tubuh. (3) Kebangkitan ini juga secara instrumental terkait dengan pembenaran, kelahiran baru dan kebangkitan kembali (Rm 4:25; 5:10; Ef 1:20; Flp 3:10; I Pet 1:3). Kristus bangkit melalui kekuatan diri-Nya sendiri, karena Ia adalah kebangkitan dan hidup. Namun jangan dilupakan bahwa kebangkitan ini bukanlah karya Kristus sendiri saja; kebangkitan ini sering kali disebutkan sebagai kuasa Allah secara umum, dan jika kebangkitan Kristus disebut karya Allah maka Roh Kudus juga bertindak di dalamnya.11 Kebangkitan Kristus secara mujizat ini, sayangnya tidak dipercayai oleh kaum intelektual, karena mereka mengatakan mujizat tak mungkin terjadi. Orang-orang tersebut mencoba menjelaskan tentang kebohongan Alkitab dengan beberapa teori ini: (1) Teori kebohongan. Mereka mengatakan bahwa murid-murid berbohong dan mencuri mayat Yesus. (2) Teori pingsang. Yesus tidak sungguh-sungguh mati, tetapi hanya pingsan saja. (3) Teori Visi. Teori ini dikemukakan dalam 2 bentuk (a) Sebagian orang mengemukakan tentang visi yang sepenuhnya subyektif. (b) Para murid telah mendapatkan visi yang sepenuhnya obyektif, yang dikirim secara ajaib dari Allah untuk membujuk mereka membritakan injil. (4) Teori Mistik. Mereka berusaha menerangkan kebangkitan Tuhan Yesus dengan kosep yudaisme, dan bailonia, teori ini juga diturunkan dari mitos kafir. Bagi Teologi Liberal Modern kebangkitan Tuhan Yesus tidak memiliki arti apa-apa bagi iman Kristen. Para penuis Alkitab sungguh-sungguh menerangkan kenyataan bahwa Kristus telah bangkit, berarti kebangkitan mempengaruhi kepercayaan kita kepada kebenaran Alkitab. Kebangkitan adalah Kristus yang masuk ke hidup yang baru sebagai kepala Gereja yang ditinggikan dan bangkit dan Tuhan alam semesta.12


KENAIKAN KE SURGA
Kenaikan Kristus ke sorga adalah transisi lokal, pergi dari suatu tempat ketempat lain. Konsep tetang sesuatu yang lokal lebih diterima berdasarkan pertimbangan (1) Dalam Alkitab, Sorga disebut sebagai tempat tinggal mahkluk ciptaan. (2) Surga dan bumi selalu dinyatakan dalam Alkitab sebagai dua hal yang berdampingan. Jika bumi adalah suatu tempat maka surga pun adalah tempat. (3) Alkitab mengajarkan kepada kita untuk memikirkan surga sebagai sebuah tempat (Ul 30:12; Yos 2:11; Mzm 139:8; Rm 10:6-7). (4) Masuknya juruselamat ke surga digambarkan sebagai kenaikan ke surga. Para murid baik melihat Kristus sampai ke awan dan menyembunyikan-Nya dari pandangan mereka13. Kaum Lutheran tidak menganggap bahwa kenaikan ke sorga adalah transisi lokal, tetapi merupakan perubahan keadaan, dimana natur manusia Kristus memperoleh kesempurnaan Ilahi walaupun tidak semuanya kaum Lutheran mempercayai konsep yang sama.
Kita dapat mengatakan 3 arti penting dari kenaikan Kristus: (1) Kenaikan ke surga menegaskan pernyataan bahwa korban Kristus adalah korban bagi Allah yang harus dipersembahkan kepada-Nya di tempat yang kudus. (2) Kenaikan itu merupakan contoh dalam hal kenaikan ke surga merupakan nubuatan bagi kenaikan seluruh orang percaya. (3) Merupakan alat dalam mempersiapkan tempat bagi orang yang berada dalam Kristus.


DUDUK DISEBELAH KANAN ALLAH BAPA
Kristus duduk disebelah kanan Allah Bapa hal ini mau menyatakan bahwa Sang Pengantara memperoleh kekuasaan untuk memerintah atas gereja dan Alam semesta. Calvin mengatakan bahwa pernyataan yang menyebutkan Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa setara dengan mengatakan “ bahwa Ia ditetapkan pada pemerintahan atas langit dan bumi, dan secara formal diterima untuk memiliki tugas yang diberikan kepadaa-Nya, dan bukan itu saja diakui untuk satu kali, tetapi terus berlangsung sampai ia turun dalam penghakiman.”
Duduk di sebelah kanan Allah Kristus tetap melakukan tugas-Nya sebagai Pengantara (1) Ia memerintah dan melindungi gereja-Nya oleh Roh-Nya dan memerintah gereja melalui pejabat-pejabat yang dipilih-Nya. (2) Kristus adalah Iman Besar untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkizedek. Kristus secara terus-menerus memberikan Korban-Nya yang telah disempurnakan kepada Bapa-Nya sebagai dasar yang cukup dari pencurahan anugerah pengampunan Allah. Ia secara tetap menerapkan karya pengorbanan-Nya dan menjadikan efektif dalam pembenaran dan penyucian orang berdosa. (3) Kristus Melanjutkan karya Kenabian-Nya melalui Roh Kudus, untuk mengajarkan mengingatkan dan mengajarkan kebenaran.


KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA KALINYA
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Kristus akan datang untuk kedua kalinya secara fisik. Kedatangan-Nya untuk menghakimi dunia dan menyempurnakan keselamatan umat-Nya. Manusia dan malaikat yang hidup dan yang mati akan tampil dihadapan-Nya untuk dihakimi menurut catatan yang dimiliki-Nya (Mat 24:30-31; 25:31-32). Ia juga akan membenarkan umat-Nya dan membawa kesempurnaan sukacita dalam kerajaan-Nya yang kekal.


PENEBUSAN BERSIFAT OBYEKTIF
Penebusan Kristus bersifat obyektif. Hal ini berarti bahwa penebusan Kristus mempunyai kesan pertama pada orang yang olehnya korban ini terjadi. Dalam persoalan ini berarti bahwa penebusan Kristus dimaksudkan untuk meredakan murka Allah dan untuk mendamaikan Dia dengan oran berdosa. Oleh sebab penebusan Kristus yang obyektif adalah fakta yang sudah digenapi dan sekarang merupakan tugas dari duta-duta besar kristus untuk membawa orang berdosa menerima penebusan dan menghentikan perlawanan terhadap Allah. Pandangan Alkitab tentang korban tidak berbeda dengan rujukan obyektifnya. Korban-korban dalam perjanjian lama dibawa kepada Tuhan terutama untuk menebus dosa, tetapi juga sebagai pernyataan penyembahan dan rasa syukur. Kata Kipper menunjukan pengertian tentang pendamaian bagi orang berdosa. menunjukan darah korban diberikan antara Allah dan manusia dan berdasarkan semuanya ini maka murka Allah disingkirkan. Kata Katalaso dan katalage yang berarti pendamaian, adalah tindakan yang oleh-Nya permusuhan diubah menjadi persahabatan.


PENEBUSAN YANG BERSIFAT MENGGANTIKAN
Allah menunjukan seorang pengganti dalam diri Yesus Kristus untuk menggantikan kedudukan orang berosa dan Sang pengganti ini menebus dasa dan memperoleh penebusan yang kekal.
3 perbedaan penebusan pribadi dan penebusan menggantikan: (1) Penebusan pribadi dibrikan oleh pihak yang melakukan kesalahan; penebusan yang bersifat menggantikan dilakukan oleh pihak yang disalahi. (2) Penebusan pribadi menyingkirkan elemen belas kasihan; penebusan bersifat menggantikan mewakili bentuk belas kasih tertinggi. (3) Penebusan pribadi harus dilakukan seterusnya dan dengan demikian tidak dapat membawa penebusan; penebusan bersifat menggantikan membawa kepada pendamaian yang sesungguhnya dan hidup yang kekal. Namun penebusan yang bersifat menggantikan dianggap tidak masuk akal, karena Allah harus merubah kemarahan-Nya kepada orang yang tidak bersalah.
Penebusan yang bersifat menggantikan ini dapat diperbolehkan jika: (1) pihak yang bersalah tidak dalam keadaaan menanggung hukuman ini seluruhnya sampai akhir, sehingga ada hubungan yang benar dihasilkan. (2) Pengalihan tidak melampaui hak-hak khusus dari pihak ke-3 yang tidak bersalah, dan menyebabkan mereka mengalami kerugian dan persoalan. (3) Orang yang mengalami hukuman berhutang keadilan. (4) Pihak yang bersalah menyadari kesalahannya dan menyadari orang yang menggantikan hukumannya.
Alkitab dengan jelas mengajarkan tentang penebusan Kristus yang bersifat menggantikan. (1) Perjanjian lama mengajarkan bahwa korban yang dipersembahkan diatas mezbah sebagai korban menggantikan. Setiap orang yang membawa persembahan harus meletakan tangan mereka ke atas kepala korban itu dan mengakui dosa mereka. Tindakan ini melambangkan pengalihan dosa kepada korban dan menganggapnya dapat menebus dosa orang yang mempersembahkannya (Im 1:4, 16:20-22, Im 17:11). (2) Ayat Alkitab mengajarkan bahwa dosa kita yang dijatuhkan kepada Kristus (Yes 53:6,12; Yoh 1:29; II Kor 5:21; Gal 3:13; Ibr 9:28; I Pet 2:4).
Dosa dapat dianggap (a) dalam sifat formalnya sebagai pelanggaran atas hukum (Yoh 3:4). (b) Sebagai kualitas moral yang terkandung dalam si pelaku, Rom 6:11-13. (c) dalam kaitan dengan kewajiban moral. (3) Sejumlah ayat dimana kata depan peri, huper, anti (bahasa Yunani) dipakai dalam kaitan dengan karya Kristus bagi orang berdosa. Dalam prasasti-prasasti yang memakai kata hupper dengan “arti sebagai wakil dari.” Kita juga dapat menemukan dalam Filemon 13.
Walaupun Alkitab mencatat tentang penebusan yang menggantikan tetapi tetap saja menimbulkan pertentangan: (1) Penggantian dalam hal pelaksanaan hukuman sesungguhnya tidak sesuai dengan hukum. Dikatakan bahwa hutang hukuman sangatlah bersifat pribadi, sehingga tidak mungkin ada pengalihan. (2) Yesus yang tidak bersalah harus menderita bagi yang bersalah. Memang benar bahwa menurut hukuman dari penebusan Kristus menderita sebagai “yang benar bagi orang tidak benar” (I Ptr 3:18), tetapi hal ini tidak dapat dipakai sebagai keberatan terhadap doktrin penebusan yang bersifat menggantikan. (3) Allah Bapa dijadikan besalah karena ketidakadilan. Allah Bapa tidak adil dalam hal Ia sekedar mengorbankan Anak-Nya bagi dosa umat manusia. (4) Tidak ada persatuan sedemikian yang membenarkan suatu penebusan yang bersifat menggantikan. Jika seorang pengganti mau menghapuskan kesalahan seorang pelanggar hukum maka harus ada sebuah persatuan yang nyata di antara mereka yang akan membenarkan prosedur seperti itu.
Kristus menyerahkan diri-Nya secara suka rela untuk mengalami penderitaan dan mati, maka hal itu adalah bagian dari Ketaatan Yang Aktif. Ketaatan Kristus yang aktif penting untuk menjadikan ketaatan-Nya yang pasif diterima oleh Allah. Hanya dengan berkenaan dengan hal inilah maka penilaian Allah akan penderitaan Kristus berbeda dengan penilaian-Nya akan penderitaan orang yang hilang.
Para sarjana Armenian menyangkali ketaatan aktif Kristus: (1) Kristus membutuhkan ketaatan aktif sebagai manusia, karena berada di bawah hukum, maka Ia bertugas untuk mentaati hukum itu bagi-Nya. (2) Tuhan dapat menuntut satu dari dua hal dari orang berdosa: ketaatan kepada hukum, tetapi tidak menuntut keduanya. Jika hukum ditaati maka hukuman tidak dijatuhkan. Penderitaan dan kematian merupakan ketaatan yang pasif, yang mengharuskan Dia membayar upah dosa dalam penderitaan dan kematian, dan dengan demkian mengangkat dosa umat-Nya. Penderitaan secara Yuridis dijatuhkan kepada-Nya sebagai ganti, dan dengan demikian sesungguhnya merupakan penderitaan yang berupa hukuman. Ketaatan secara pasif tercatat dalam: Yes 53:6; Rm 4:25 I Pet 2:24. Ketaatan secara aktif tercatat dalam: Mat 3:15; Yoh 15:10; Gal 4:4-5.

CATATAN
1. Nama Yesus diberikan kepada Maria oleh malaikat untuk menunjukan kemanusian Tuhan Yesus (EV. MARIA MAZO).
2. Allah dalam berkenan di dalam tujuan kekal-Nya untuk memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, sebagai Pengantara antara Allah dan Manusia; Nabi; Imam; dan Raja; Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya; Pewaris segala sesuatu; dan Hakim atas dunia. Bagi-Nya Allah sejak segala kekekalan memberikan satu umat untuk menjadi benih-Nya, dan agar oleh-Nya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dipermuiakan pada waktu yang telah ditetapkan (Williamson, 2006, hal. 105 (Pengakuan Iman Westminster)).
3. Istilah Tuhan muncul pertama kali ketika musa bertanya kepada malaikat yang menampakan diri kepadanya di Gunung Sinai yaitu “I AM That I AM” yang artinya Allah yang ada pada diri-Nya dan yang tidak bergantung kepada segala sesuatu yang ada pada diri-Nya. Istilah Tuhan menunjukan kepada sifat Allah yang kekal.
4. Kemanusiaan dan KeIlahian Kristus menjadi syarat mutlak menjadi Juruselamat.
5. Allah dan Kristus bukan dua Pribadi, karena jika Allah dan Kristus dua pribadi maka yang satu bersifat Allah dan yang satu bersifat manusia, maka akan terjadi percamuran, inilah Teologi yang dipercayai oleh Saksi Jehovah, bagi saksi Jehovah Yesus berbeda dengan Pribadi-Nya Allah (Yesus adalah antara manusia dan Allah/ Yesus bukan Allah yang sejati). Tetapi natur Allah dan natur manusia berada berada dalam satu Pribadi Yesus seperti yang dikatakan Berkhof.
6. Anak Allah, Pribadi kedua dalam Trinitas, sesunggunya telah genap waktunya, mengambil bagi diri-Nyanatur manusia, dengan segala properti yang esensial dan juga segala kelemahan, tetapi tanpa dosa; dan saat dikandung Maria, oleh kuasa Roh Kudus, mengambil substansi dari Maria.
7. Natur Ilahi Kristus: kekal (Yoh. 17:5,24), Mahakuasa (Mat 8:27), Mahatahu (Luk 6:8), Diperanakankannya Dia secara supranatural diperlihatkan dalam konsepsi-Nya menjadi manusia (Luk 1:35). Natur manusia Kristus: Memiiki waktu mula (Gal 4:4), Mengambil dari substasi Maria, natur manusia-Nya (Luk 1:35), Tunduk kepada keterbatasan-keterbatasan tunduk kepada kejadian-kejadian dalam eksistensi manusia (Ibr 2:17; 4:15) (Williamson, 2006, hal. 113 (Pengakuan Iman Westminster)).
8. Jabatan ini oleh Tuhan Yesus dijalankan dengan penuh kerelaan, dan agar Dia bisa memenuhinya, Dia dijadikan berada di bawah Hukum Taurat dan menggenapinya secara sempurna (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
9. Kristus tidak memerlukan Roh Kudus untuk keselamatan-Nya Pribadi, karena Ia tidak berdosa. Tapi Kristus memerlukan Rroh Kudus untuk memapukan-Nya mengenapi karya Penebusan (Williamson, 2006, hal. 115 (Pengakuan Iman Westminster)).
10. Sebagai Anak Allah Yesus tidak mendapatkan perlakuan khusus, tetapi Ia harus menunjukan ketaatan-Nya, Kesetiaan, dan Kepercayaan sepenuhnya kepada Allah Bapa disetiap detik kehidupan-Nya.
11. Pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati dengan tubuh-Nya yang sama menanggung derita (Williamson, 2006, hal. 117 (Pengakuan Iman Westminster)).
12. Jika Kristus tidak bangkit maka 4 hal akan menjadi benar: (1) I Kor 15:17 “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” (2) Tidak ada pengharapan akan kebangkitan kita, dan kita pasti mati kekal (3) Kristus tidak akan memerintah dan tidak akan kembali dan setiap hal dalam Pengakuan Iman Rasuli setelah menderita dikuburkan harus dicoret. (4) Kekristenan tidak dapat menjadi seperti yang dipikirkan prang Kristen pertama – persekutuan dengan Tuhan Yesus yang hidup, yang indentik dengan Yesus dalam keempat Injil. Yesus dalam kitab Injil tetap menjadi pahlawan anda, tetapi tidak dapat menjadi Juruselamat (Packer, 2005, hal.46 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli))).
13. Arti Sorga: (1) tanpa akhir, hidup Allah yang kesinambungan. Dalam hal ini Allah selalu berada “di sorga,” bahkan sekalipun tidak ada bumi. (2) Keadaan dari malaikat atau manusia ketika mereka hidup bersama dengan Allah, baik yang dirasakan sekarang atau kepenuhan nanti. Dalam pengertian ini upah orang Kristen, harta dan warisan semua berada “dalam sorga”, dan sorga disini adalah pengharapan akhr orang Kristen. (3) Langit yang berada diatas kita dan lebih bersifat tidak terbatas. Sejauh yang kita tahu, merupakan lambang ruang dan waktu untuk kehidupan kekal Allah (Packer, 2005, hal.50 (Kristen Sejati Vol. 1 (Pengakuan Iman Rasuli)).

Rabu, 08 April 2009

KKR PASKAH 2009

untuk memperingati kebangkitan dan kemenangan Tuhan kita atas maut, yuk temen2 yang berdomisil di daerah Surabaya dan sekitarnya dateng ke..

KKR PASKAH 2009
+ Operet Paskah Kolosal "Efrata Senior"



pembicara: Pdt. Dr. Stephen Tong

Pdt. Stephen Tong akan berkotbah dalam acara Paskah Akbar Keluarga Besar Reformed Injili di Surabaya. Sebuah Operet Paskah akan dipersembahkan dan kita akan bersama-sama mengikuti sakramen Perjamuan Kudus.




day/date : Kamis / 16 April 2009
time : 18.30 WIB
place : The Empire Palace, Ballroom lt. 5 - Jl. Blauran 57-75, Surabaya.



Penyelengara:
Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel
Jl. Ngagel Jaya Selatan, Kompleks Ruko RMI K1-3a
031 - 5047759, 5043361, fax 5047758
Website: www.grii-ngagel.org

dan

Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI)




Jumat, 20 Maret 2009

500th Anniversary Commemoration of John Calvin

500th Anniversary Commemoration of
John Calvin
(1509 - 2009)

In the commemoration of John Calvin's 500th anniversary, GRII and STEMI will be hosting a series of international events that will be held in Jakarta in March 2009.

- World Reformed Fellowship (WRF) 2009 Conferences & Meetings
Date : 21 - 27 March 2009
Conferences and Meetings by invitation only

- Theological Symposium
Date : 24 - 29 March 2009
Venue : Reformed Millennium Center of Indonesia
Registration open to public. ONLINE REGISTRATION

- Intensive Theological Lecture
Venue: Reformed Millennium Center of Indonesia

schedule


THEOLOGICAL SYMPOSIUM SPEAKER'S PROFILES
harman

Prof. Dr. Allan Harman, Th.D. (Westminster Theological Seminary), D.D. (Australian College of Theology) is currently Research Professor at the Presbyterian Theological College, Melbourne. Dr. Harman has been Professor of Old Testament at the Free Church College, Edinburgh, the Reformed Theological College, Geelong, and the Presbyterian Theological College, Melbourne, where he also served as Principal for twenty years. He has been Moderator-General of his denomination, the Presbyterian Church of Australia (1994-1997). His writing has been mainly in Old Testament (commentaries on Deuteronomy, Psalms, Isaiah, and Daniel) and in Church History (The Story of the Church and Thomas Dove and the Tasmanian Aborigines). He has contributed widely to many theological journals, and himself is the senior editor of the Reformed Theological Review, the oldest theological journal in Australia.

mcgowan

Prof. Dr. Andrew T.B. McGowan, Ph.D. (Aberdeen University) is an ordained minister of the Church of Scotland and was former Principal of the Highland Theological College. He is the Professor of Theology at the University of the Highlands and Islands and also holds an Honorary Professorship in Reformed Doctrine at the University of Aberdeen. Dr. McGowan is an Adjunct Professor of Theology at Reformed Theological Seminary and a Visiting Professor of Theology at Westminster Theological Seminary. He is also Vice-President of the World Reformed Fellowship. He has contributed to a number of books, journals and theological dictionaries and is the author of: The Federal Theology of Thomas Boston, The Divine Spiration of Scripture, The Divine Authenticity of Scripture, and editor of Always Reforming: Explorations in Systematic Theology

lopes

Prof. Dr. Augustus Nicodemus Lopes, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) is an ordained minister of the Presbyterian Church of Brazil (IPB). Completing his Ph.D. in Hermeneutics and Biblical Interpretation at Westminster, Dr. Lopes serves as professor of New Testament at Andrew Jumper Graduate Center at São Paulo, Brazil and Chancellor of Mackenzie Presbyterian University, São Paulo, where he also teaches in the Th.M. and D.Min. programs. Prior to his appointment as chancellor, he taught at the graduate center at Mackenzie for seven years and served as an assistant pastor. Dr. Lopes is the author of many articles and books on theological and practical themes.

buys

Prof. Dr. Philip. J. Buys, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) was the founder and now serves as the President of Mukhanyo Theological College, South Africa. He was the co-founder (1993) and now serves on the Board of Directors of the Masibambisane Community Development Corporation. Dr. Buys has served in the following pastoral situations in South Africa - Pastor Gereformeerde Kerk Odendaalsrus; Pastor Gereformeerde Kerk Vereeniging; Missionary Sharpeville; and Pastor Gereformeerde Kerk Potchefstroom-North. Dr. Buys has published numerous academic and popular books, pamphlets, and articles about ministry and church growth in Africa and he is a member of the International Steering Committee of TOPIC (Training of Pastors International Coalition).

whitlock

Prof. Dr. Luder G. Whitlock, D. Min. (Vanderbilt University) is the executive director of The Trinity Forum, an organization that serves thousands of business and professional leaders in North America, Europe, and Asia. At the age of 37, he was appointed President of Reformed Theological Seminary, a position he held for 23 years. Under his leadership, RTS grew from a small regional school to one of the most innovative as well as one of the ten largest seminaries in North America with multiple campuses in the US as well as gateway extension programs in Asia, South America, and Europe. Recently, he was cited in Christianity Today as one of five seminary presidents most influential on theological education during the last half of the Twentieth Century. Dr. Whitlock is well known for his role as executive director of The New Geneva Study Bible and a major revision, published as The Spirit of the Reformation Study Bible. He is the author of The Spiritual Quest and has contributed to more than 10 other volumes and more than 20 different periodicals.

ebenezer

Prof. Dr. Matthew Ebenezer, Ph.D. (Westminster Theological Seminary) is an ordained teaching elder of the Reformed Presbyterian Church of India (RPCI). Dr. Ebenezer has been Adjunct Professor of Church History and Practical Theology since 2000 at the Luther W. New Jr. Theological College, Dehradun, India. He served as teacher and Vice Principal of the Presbyterian Theological Seminary, Dehradun for over twenty years until 2004. As Country Director of Mission to the World (MTW), Sri Lanka, Dr. Ebenezer coordinated tsunami relief efforts in the island in 2006-2007. He is teaching and preaching in various Reformed contexts in Sri Lanka, India, and Nepal. Dr. Ebenezer serves as associate editor of Doon Theological Journal, India. He is the author of many articles and books on theological and historical themes.

jones

Prof. Dr. Peter R. Jones, Ph.D. (Princeton Theological Seminary) is Scholar at Large for World Reformed Fellowship (WRF). He is an ordained minister of the Presbyterian Church in America. Dr. Jones also serves as Director of Christian Witness to a Pagan Planet (CWIPP), now truthXchange, a national and international teaching, preaching, and writing ministry for the church and the campus. Dr. Jones taught Greek and New Testament at Princeton Theological Seminary, and was Professeur de Nouveau Testament and Director of the Master’s Programme, Faculté de Théologie Réformée d’Aix-en-Provence. He was Professor of New Testament at Westminster Seminary California from 1991 to 2003. Since 2003, he has served as Scholar in Residence and Adjunct Professor at Westminster Seminary California. Dr. Jones is the author of several books, including The Gnostic Empire Strikes Back, Spirit Wars, Gospel Truth, Pagan Lies, The God of Sex, Capturing the Pagan Mind, Stolen Identity, and Cracking Da Vinci’s Code.

cannada

Prof. Dr. Robert C. Cannada, Jr., D. Min. (Reformed Theological Seminary) is Chancellor and Chief Executive Officer of Reformed Theological Seminary. As Chancellor & CEO, Dr. Cannada provides leadership to five residential campuses in Jackson, MS; Orlando, FL; Charlotte, NC; Washington, D.C.; and Atlanta, GA; and one degree-granting extension campuses in Boca Raton, FL; a degree-granting Virtual Campus (distance education) based in Charlotte, NC; and three international Doctor of Ministry degree programs in Korea, Scotland, and Brazil. A Presbyterian pastor for twenty years, Dr. Cannada served First Presbyterian Church in Clinton, SC, before starting Covenant Presbyterian Church in Little Rock, Arkansas. From 1986 to 1993, he served as senior pastor of the First Presbyterian Church in Macon, Georgia. Dr. Cannada has taught courses in church polity and in sanctification at Charlotte, as well as courses at seminaries in the Ukraine and Brazil.

logan

Prof. Dr. Samuel T. Logan, Jr., Ph.D. (Emory University) has served as the International Director of World Reformed Fellowship since 2005. He is also an ordained minister of the Orthodox Presbyterian Church. Served as President of Westminster Theological Seminary (Philadelphia) from 1991-2005, Dr. Logan currently holds from Westminster the titles of President Emeritus and Professor of Church History Emeritus. Dr. Logan was a Visiting Fellow at Christ’s College, Cambridge University, in 1988-1989. His publications include The Doctrine of Justification in the Theology of Jonathan Edwards, Jonathan Edwards and Presbyterianism, The Origins of Modern Attacks on Biblical Authority, Editor of the papers of the 2006 General Assembly of the WRF, published under the title, Confronting Kingdom Challenges: A Call to Global Christians to Carry the Burden Together.

tong

Dr. Stephen Tong, D.L.C.E., D.D. (Westminster Theological Seminary) has preached to more than 30 million people over a span of 50 years in Asia, Europe, Australia, and in North and South America. He was teaching theology and philosophy at Southeast Asia Bible Seminary in Malang for 25 years. He was the founder and professor of the Reformed Evangelical Seminary and the Reformed Institute in Jakarta, as well as guest lecturing at many leading theological seminaries in Asia. Dr. Tong is also the founder and the President of the Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) which has established offices in major parts of the world. Impelled by the irresponsible teaching of the Word of God in Indonesia, Dr. Tong established the Reformed Evangelical Church of Indonesia. As a multi-gifted man of God expert in music, art, philosophy, science, antiques and architecture, Dr. Tong exercises his talents to his upmost, awaking his audience and followers to perform their duties in cultural mandate. Dr. Tong is the author of more than 75 books, including Theology of Evangelism, Between God and Man, Holy Spirit and Gospel, and Culture and the Fall.



FURTHER INFORMATION --> http://www.calvin500.ws

Sabtu, 14 Maret 2009

Siapakah Yesus?

Siapakah Yesus? Kenapa saya membutuhkan juruselamat? Bagaimana seharusnya saya berespon?
Jika Anda seperti kebanyakan orang saat ini, Anda pasti pernah mendengar nama Yesus. Anda mungkin berpikir bahwa Dia sebagai pemimpin agama atau mungkin sebagai orang yang sangat baik yang hidup 2000 tahun yang lalu.
Tetapi apakah Anda pernah berpikir bahwa Dia mungkin dapat membuat perubahan di dalam hidup Anda saat ini?


Apa Yang Allah Inginkan
Apa Anda tahu bahwa Allah mengasihi Anda dan ingin memiliki relasi dengan Anda - dimana Anda dapat berbicara dan mendengarkan Dia? Salah satunya dengan Anda mengizinkan Dia untuk menjadi bagian dalam tujuan hidup Anda? Dia ingin supaya Anda mengalami hidup yang berlimpah, yang Dia tahu hanya dapat didapatkan melalui Dia. Dia ingin supaya Anda menjadi bebas - bebas dari masa lalu Anda, dari kesalahan Anda dan perbuatan Anda yang memalukan, dari belenggu dosa, dari kecanduan Anda, dari ke-egoisan Anda.


Rencana Allah
Allah memiliki rencana untuk menyelesaikan semua itu. Rencana itu adalah Yesus Kristus. Yesus tidak bernoda, Anak Allah yang tidak berdosa. Dia datang ke dunia untuk menolong kita dari dosa. Anda telah mengetahui bahwa berbuat buruk mendapatkan konsekuensi/hukuman. Dalam hal ini, konsekuensi dari dosa kita adalah maut - keterpisahan kekal dari Allah. Tetapi, karena Allah sangat mengasihi kita, Dia mengganti obyek dari konsekuensi itu. Dia mengirimkan Anak TunggalNya yaitu Yesus, untuk turun ke dunia untuk membayar hukuman dari dosa kita.
Yesus disalibkan oleh orang yang tidak mengerti siapa Dia atau mengapa Dia datang. Yesus menginginkan mati di kayu salib (yang seharusnya kita), untuk menuntaskan rencana Allah untuk menebus manusia - bahkan orang yang memaku dia diatas kayu salib! Meskipun Dia sempurna dan tidak berdosa, Dia mengambil Dosa kita sehingga kita memiliki relasi yang dipulihkan dengan Pencipta kita.

Tetapi cerita ini tidak berahkir dengan pengorbanan kematian Yesus. Ia bangkit kembali 3 hari setelah disalibkan di bukit diluar Yerusalem, Allah membangkitakan Dia kembali! Yesus sudah tidak ada di kuburan lagi - Allah membangkitakn Dia dari kematian seperti Allah akan membangkitkan kita pada akhir hidup kita. dan pada waktu itu, semua orang berdiri dihadapan Allah dalam penghakiman


Anda Yang Memilih
Anda dapat menerima substitusi dari kematian Yesus untuk Anda, atau menolak. Jika Anda menolak, Anda akan berdiri sendiri dihadapan Allah pada hari penghakiman dan perhitungan kehidupan Anda. Anda akan jauh dibawah dari standart Allah dan Anda harus mebayar konsekuensi/hukuman Anda dengan menghabiskan kehidupan kekal Anda di Neraka, selama-lamanya terpisah dari Allah. Tapi jika Anda menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi, Allah akan menerima pengorbanan kematian AnakNya. Hal ini bukan sebuah pilihan yang Anda dapat pilih pada saat penghakiman - ini adalah pilihan yang harus Anda putuskan sekarang - baik menerima atau menolak Dia.

Allah mengasihi Anda dan ingin Anda untuk mengabiskan kehidupan kekal di sorga bersama Dia. Buatlah keputusan saat ini untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda. lihatlah betapa sederhananya:
1. Datanglah kepadaNya seadanya (tidak perlu menunggu sampai Anda siap)
2. Akuilah kebutuhan Anda (Saya adalah orang berdosa)
3. Berjanjilah bahwa tidak akan mengulangi atau berbalik kepada dosa Anda (menyesali)
4. Percayalah didalam hati dan pikiran Anda bahwa Yesus adalah Anak Alah, yang sudah mati di atas kayu salib untuk Anda dan telah bangkit kembali (Terimalah Dia sebagai satu-satunya jalan kepada Allah)
5. Mintalah kepada Yesus untuk datang kedalam hati dan hidup Anda dan menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda (terima Dia sebagai Juruselamat pribadi)

Berikut Sebuah Saran Doa
Bapa disorga, terima kasih atas anugerahMu untuk saya. terimakasih untuk AnakMu yang tunggal, Yesus Kristus yang telah mati dikayu salib. Saya sadar bahwa saya berdosa dan membutuhkan ampunanMu. Saya berjanji tidak akan kembali berputar untuk berbuat dosa lagi, dan saya ingin mengikut Yesus. Saya percaya bahwa Yesus telah mati untuk membayar hutang dosa saya dan telah bangkit dari kematian. Saya saat ini berdoa kepada Yesus untuk datang didalam hatiku dan menjadi Tuhan dan Juruselamatku. Kuasailah hidupku sepenuhnya dan bentuklah Aku menjadi seorang yang berkenan kepadaMu. Terimakasih Bapa. Didalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat saya yang hidup. Saya sudah berdoa. Amin.


Ciptaan Yang Baru
Jika Anda berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan iman, maka Anda telah menerima pengampunan dari Allah dan telah diterima didalam anggota keluarga Allah. Anda adalah orang percaya di dalam Yesus Kristus.

Jumat, 13 Februari 2009

Apa itu waktu?

Apa itu waktu?

Orang dunia seringkali membandingkan waktu dengan uang. Bagi mereka waktu adalah komditas komerisal. Waktu adalah uang. Definisi ini sungguh dangkal. Waktu bukan uang. Jika waktu adalah uang, maka kita bisa menukar waktu dengan uang.
Peribahasa China mengatakan “satu inci waktu sama nilainya dengan satu inci emas, tetapi satu ini emas tak dapat menggantikan satu inci waktu”. Jika orang barat berkata, “time is money”, maka orang Timur (China) berkata, “Time is monet, but money is not time”.
Bagaimanapun, mendefinisikan waktu dengan uang itu dangkal. Definisi tersebut jauh dari memuaskan.
Saya sendiri memberikan tiga definisi waktu. Bagi saya, definisi-definisi ini akan bermanfaat bagi Anda seumur hidup.


Waktu adalah hidup
Masa hidup Anda tidak mungkin lebih lama daripada waktu yang Anda miliki. Karena itu, memboroskan waktu berarti memboroskan hidup itu sendiri. Menghamburkan waktu berarti menghamburkan hidup.

Saya serign bertanya pada orang lain, “apakah Anda percaya pada Yesus Kristus? Apakah Anda pernah mendenganr injil Yesus Kristus? Apakah Anda mau datang ke gereja untuk beribadah dan mendengarkan Injil? Jawaban mereka kerapkali adalah “saya mau, cuma saya terlalu sibuk”. Saya tidak punya waktu!

Mereka hidup dalam jangka waktu tertentu, dan menggunakan waktu selama hidup mereka. Tetapi mereka berkata bahwa mereka tidak mempunyai waktu. Tidakkah Anda melihat kontradiksi ini?

Mengapa mereka kekurangan waktu? Mereka terlalu sibuk! Mengapa mereka tidak dapat menjadwalkan kebaktian ke dalam daftar kegiatan mereka? Kapan Anda akan mempunyai cukup waktu? Apakah Anda ingin menunggu sampai Anda menderita sakit berat dahulu baru Anda dapat menemukan waktu?

Anda telah memandang hidup Anda tidak berharga, tidak mau menggunakan sedikit saja waktu untuk berfikir tentang nilai hidup, makna, tujuan serta perihal kehidupan dan kematian. Anda tidak memikirkan hidup Anda dengan serius. Mengapa hidup dan waktu Anda diserahkan pada uang?

Inilah macam kehidupa yang orang banyak jalani hari ini. Apakah Anda salah satu dari mereka?


Waktu adalah kesempatan
Kita tidak mungkin mendapat kesempatan setiap waktu. Namun semua kesempatan akan ditemukan dalam waktu. Tak seorang tahu berapa lama waktu yang telah ia hamburkan di dunia. Berapa orang membuat rencana, mengatur beberapa pekerjaan untuk diselesaikan, dan tiba-tiba meningal dunia pada malam harinya.

Saya mempunyai seorang teman yang selalu membuka halaman obituarium (berita kematian) ketika membaca surat kabar, mencari wajah-wajah dikenalnya. Saya bertanya kepadanya, “Mungkinkah kamu membaca berita kematianmu sendiri?” Ia menjawab, “Tidak, kamu hanya bisa melihat kematian orang lain, tapi tidak pernah melihat kematianmu sendiri”.

Meskipun kita tidak dapat membaca berita kematian kita sendiri, suatu hari kematian juga akan datang pada kita. Persoalannya, bila Anda meninggal dunia siang ini, siapkah Anda?

Waktu adalah kesempatan. Orang bodoh selalu membuang kesempatan; orang biasa menunggu kesempatan; orang bijak mencari kesempatan. Hidup ini hanya sekali dan kita tidak akan kembali lagi setelah mati. Selama hari masih siang kita harus melakukan pekerjaan Tuhan; sebab akan datang malam, ketika tidak seorangpun dapat bekerja (Yohanes 9:4)


Waktu adalah catatan
Ketika saya berkhotbah, alat perekam suara menyimpan sstiap kata yang saya ucapkan. Pemikiran-pemikiran saya telah direkam dalam waktu. Saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus berhati-hati karena kesalahan pun akan direkam.

Saya berharap Anda merasakan hal yang sama, akrena surga memiliki rekaman tentang Anda. Jangna berpikir bahwa tidak ada yang tahu akan dosa-dosa Anda, dan hanya hati nurani Anda yang tahu.

Jangan lupa, waktu adalah catatan! Tuhan pencipta mencatat setiap peristiwa dalam hidupmu.

Doa Musa sungguh agung, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Ia mengaitkan waktu dengan hikmat, dan sadar bahwa ia harus mencari arahan dari Tuhan yang melampaui waktu.

Orang bijak hidup dalam waktu, dan membangun hidupnya dengan perbuatan-perbuatan baik. Tetapi orang bebal menghamburkan hidupnya dengan waktu dengan perbuatan-perbuatan jahat.

Bagaimana Anda menggunakan waktu Anda hari ini? apakah hidup Anda dipimpin dan diarahkan oleh hikmat? Dari manakah Anda memperoleh hikmat ini? apakah anda sudah mengenal Allah yang menciptakan waktu, melampaui waktu? Hanya Dia satu-satunya yang dapat memberikan hikmat sementara Anda hidup dalam waktu. Doa Musa ini berbeda sekali dari doa sehari-hari kita, yang selalu mohon untuk sebuah kehidupan yang bebas dar masalah, dan kemakmuran dalam berbisnis. Musa memohon agar hidupnya dikaitkan dengan kehendak Allah yang kekal.

Tuhan yang menciptakan kehidupan, yang memberikan kita nafas kehidupan, juga menetapkan batas-batas ruang dan masa hidup, sehingga kita akan mencari Dia.

Jangan anggap enteng kesempatan yang diberikan kepada kita! Tebuslah waktumu! Biar kita belajar menghitung hari-hari dan beroleh hati yang bijaksana.

Kiranya setiap kita memiliki kesadaran akan waktu seperti ini.


Dikhotbahkan Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong
STEMI (STEPHEN TONG EVANGELISTIC MINISTRIES INTERNATIONAL)

Senin, 26 Januari 2009

John Calvin - the 500th years anniversary of his birth (Quincentennial)

JOHN CALVIN (10 Juli 1509 – 27 Mei 1564)
(John Calvin adalah teolog Kristen Prancis terkemuka pada masa Reformasi Protestan. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme atau Reformed. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin) di Noyon, Picardie, Prancis, dari Gérard Cauvin dan Jeanne Lefranc. Bahasa Prancis adalah bahasa ibunya. Calvin berasal dari versi Latin namanya, Calvinus. Martin Luther memasang 95 dalil pada 1517, ketika Calvin baru berumur 8 tahun. Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss dan merupakan generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-16, namun peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin tersebar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi nama Gereja Calvinis atau Reformed.)


"suatu alat yang sangat berharga dari Kristus, suatu alat ... yang tidak ada bandingannya, ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui tulisan-tulisannya"


John Calvin (nama aslinya: Jean Cauvin) dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, sebuah desa di sebelah utara kota Paris, Perancis. Ibunya adalah seorang wanita yang cantik dan saleh. Ia meninggal dunia tatkala ia masih muda. Gerard Cauvin (ayahnya) bekerja sebagai pegawai uskup Noyon. Calvin memiliki empat saudara lelaki dan dua orang saudara perempuan. Keluarga Calvin mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Noyon. Oleh karena itu, pendidikan elementernya ditempuh dalam istana bangsawan Noyon, Mommor, bersama-sama dengan anak-anak bangsawan itu. Itulah sebabnya maka Calvin memperlihatkan sifat-sifat kebangsawanan.

Pada mulanya ayah Calvin menginginkan anaknya untuk menjadi imam. Pada umur 12 tahun Calvin sudah menerima "tonsur" (pencukuran rambut dalam upacara inisiasi biarawan) dan ia sudah menerima upah dari paroki St. Martin de Marteville. Dengan penghasilan tersebut Calvin dapat meneruskan pendidikannya pada jenjang yang tinggi. Pada tahun 1523 Calvin memasuki College de la Marche di Park. Di sini ia belajar retorika dan Bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya pada seorang ahli bahasa Latin yang terkenal, yaitu Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke College de Montague. Di sini Calvin belajar filsafat dan theologia. Di sekolah inilah Calvin belajar bersama dengan Ignatius dari Loyola.

Setelah Calvin menyelesaikan pendidikannya itu tiba-tiba ayahnya tidak menginginkan anaknya lagi untuk menjadi imam. Ayahnya menginginkan Calvin menjadi seorang ahli hukum. Oleh karena itu Calvin memasuki Universitas Orléans untuk belajar ilmu hukum. Kemudian ia belajar juga di Universitas Bourges dan Paris (dalam usia 14 tahun). Bahasa Yunani dan Ibrani dipelajarinya dari Melchior Wolmar, seorang ahli bahasa terkenal pada abad itu. Dengan demikian Calvin menjadi seorang ahli hukum. Studi hukumnya sangat mempengaruhinya dalam usaha pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya. Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.

Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans dan di bulan April, Calvin menerbitkan bukunya yang pertama, yaitu: Komentar Kitab “De Clementia”, yang kitab tersebut merupakan karya filsuf Romawi Seneca. Dalam buku ini dipersembahkan kepada Claude de Hangest, sahabat sekolahnya di keluarga bangsawan Mommer, di Noyon dahulu. Buku itu memperlihatkan Calvin sebagai seorang humanisme sejati. Dalam buku ini tidak terdapat tanda-tanda bahwa Calvin telah beralih ke pihak reformasi di Perancis. Dapat diduga bahwa Calvin telah membaca tulisan-tulisan Luther dan para reformator Swiss lainnya. Bilamana Calvin menjadi pengikut gerakan reformasi tidak dapat ditentukan dengan tepat. Pertobatannya kemungkinan terjadi pada akhir 1532 dan awal 1533. Hal ini didasarkan kepada suratnya kepada Bucer, yang meminta kepada Bucer di Strausburg untuk memberi perlindungan kepada orang-orang reformatoris yang melarikan diri karena dihambat di Perancis. Surat tersebut ditulis Oktober 1533. Mengenai pertobatannya, Calvin menulis sebagai berikut: " . . . muncullah suatu ajaran yang baru, yang tidak membelokkan kami dari pengakuan Kristen, malah justru membawa kami kembali kepada sumbernya yang asli, menyucikannya dari segala noda, mengembalikan kepadanya kemurniannya yang semula. Tetapi aku benci kepada hal hal yang baru itu, dan sukar mendengarnya sekalipun. Dan pada mulanya aku menentangnya sekeras-kerasnya, karena aku telah menempuh jalan yang sesat dan penuh kebodohan. Tetapi berkat pertobatan yang tiba- tiba, Allah menujukan hatiku kepada kepatuhan".

Pada tahun 1534 golongan reformatoris di Perancis dihambat dengan keras. Orang-orang reformatoris menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Swiss. Calvin pun ikut melarikan diri ke Strausburg di mana ia diterima dengan hangat oleh Bucer. Kemudian Calvin meneruskan perjalanannya ke Basel. Calvin tinggal di Basel setahun lebih lamanya. Selama itu Calvin masih pergi ke Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai nama-nama samaran seperti: Martianus Lucanius, Carolus Passelius, Calpunius, dan sebagainya. Di Basel inilah Calvin menerbitkan bukunya yang terkenal itu, yaitu: Religionis Christianae Institutio (dalam bahasa Inggris: Institutes of the Christian Religion / Pengajaran tentang Agama Kristen), tahun 1536. Biasanya dikenal dengan sebutan Institutio. Buku ini kemudian direvisi berkali-kali dan menjadi buku dogmatika yang terutama dalam gereja-gereja Calvinis. Institutio adalah karangan theologia yang kedua yang keluar dari tangan Calvin. Buku theologia yang pertama adalah berjudul: Psychopannychia (Mengenai Tidurnya Jiwa-Jiwa), suatu karangan melawan ajaran Anabaptis yang mengajarkan bahwa jiwa manusia tidur hingga Kristus datang kembali setelah manusia itu meninggal.

Pada tahun 1536 Calvin pergi ke Italia. Dalam perjalanan pulang ke Basel ia terpaksa melalui Jenewa dan menginap di sana. Farel mendengar bahwa Calvin berada di Jenewa sehingga Farel mencari Calvin. Farel meminta kepada Calvin untuk tinggal di Jenewa dan bersama-sama dengan Farel menata kota Jenewa menjadi kota reformasi. Dua bulan sebelumnya Dewan Kota Jenewa telah memutuskan untuk menganut paham reformasi. Permintaan Farel ditolak oleh Calvin. Calvin mau hidup tenang dan terus menulis karya-karya theologia. Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan praktis dalam jemaat. Namun Farel mendesaknya dengan berkata: "Dengan nama Allah yang mahakuasa aku katakan kepadamu: jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan Kristus". Calvin melihat panggilan Allah kepadanya lewat Farel sehingga ia tinggal di Jenewa. Kini Calvin tinggal di Jenewa bersama-sama dengan Farel mengatur gereja reformatoris di sana. Mereka merancangkan sebuah tata gereja yang mengatur seluruh kehidupan warga kota menurut cita-cita theokrasi. Menurut rancangan tata gereja itu dikatakan, bahwa Perjamuan Kudus diadakan sebulan sekali dan berhubungan dengan itu akan dijalankan disiplin yang keras. Setiap penduduk diwajibkan menandatangani sehelai surat pengakuan sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh sadar akan iman dan pengakuannya. Hal yang terakhir ini tidak disetujui oleh banyak warga kota. Pada tahun 1538 Dewan Kota dikuasai oleh orang-orang yang menolak pengakuan itu sehingga Calvin dan Farel dilarang berkhotbah di mimbar-mimbar gereja di Jenewa, dan pada akhirnya keduanya diusir dari Jenewa. Kemudian Calvin dipanggil oleh jemaat Strausburg. Ia menjadi pendeta di sana tahun 1539-1541. Dalam jemaat ini Calvin bersama-sama Butzer dapat menerapkan cita-cita yang gagal di Jenewa dahulu. Di sini Calvin mengusahakan nyanyian Mazmur dengan bantuan ahli musik terkenal; yaitu Clement Marot, Louis Bourgois dan Maitre Piere. Di sini pula Calvin mulai menulis tafsiran-tafsiran Alkitab serta merevisi Institutio. Di sinilah pula Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda bangsawan (ia meminta teman-temannya menolongnya mencarikan seorang perempuan yang "sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan saya."). Pernikahannya hanya berlangsung sembilan tahun lamanya, karena kemudian istrinya meninggal (anak satu-satunya laki-laki yang dua minggu meninggal dunia setelah dilahirkan). Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolongnya dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkannya dengan urusan anak-anaknya dan berjiwa besar

Namun tahun 1541 Calvin dipanggil kembali oleh jemaat Jenewa sehingga kita menemukannya lagi di sana. Calvin tinggal dan bekerja di sini hingga meninggalnya, 27 Mei 1564, karena mengidap TBC.

Segera sesudah ia bekerja dalam jemaat Jenewa, Calvin menyusun suatu tata gereja baru yang bernama: Ordonnances Ecclesiastiques (Undang- undang Gerejani), 1541.

Calvin adalah seorang theolog besar dalam kalangan gereja-gereja reformatoris. Pandangan-pandangan theologianya dituangkannya dalam bukunya, Institutio.

Calvin mengajarkan tentang pembenaran hanya oleh iman (justification by fatih alone / Sola Fide), sama seperti Luther. Namun Calvin sangat menekankan penyucian (santification), kehidupan baru yang harus ditempuh oleh orang-orang Kristen yang bersyukur, karena Allah telah menyelamatkan mereka. Calvin menegaskan bahwa anggota-anggota jemaat yang berkumpul untuk mendengarkan Firman Allah dan untuk ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus haruslah suci. Disiplin gereja diawasi dengan ketat. Pengawasan atas tingkah laku anggota jemaat bukan saja dilaksanakan oleh penatua, tetapi juga oleh pemerintah (Dewan Kota).

Hubungan gereja dan negara dalam theologia Calvin sangat erat. Calvin bercita-cita suatu negara theokrasi. Seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Pemerintah bertugas juga untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang murni. Namun ini tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja. Gereja dan negara berdampingan. Keduanya bertugas untuk melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan Tuhan Allah. Mengenai tugas negara, Calvin menulis sebagai berikut: "Pemerintah diberi tugas untuk, selama kita hidup di tengah-tengah orang-orang, mendukung serta melindungi penyembahan Allah yang lahiriah, mempertahankan ajaran yang sehat tentang ibadah dan kedudukan gereja, mengatur kehidupan kita dengan melihat kepada pergaulan masyarakat, membentuk kesusilaan kita sesuai dengan keadilan seperti yang ditetapkan oleh Undang-undang negara, menjadikan kita rukun dan memelihara damai serta ketentraman umum.... "

Mengenai jabatan-jabatan dalam gereja Calvin mengenal empat jabatan yaitu, pendeta, pengajar, penatua dan diaken. Pendeta-pendeta bersama-sama dengan para penatua merupakan konsistori, yaitu majelis gereja yang memimpin jemaat dan yang menjalankan disiplin gereja. Peraturan pemilihan dan penahbisan pejabat-pejabat gereja itu diatur dengan teliti, terutama jabatan pendeta.

Mengenai Perjamuan Kudus, Calvin mengajarkan bahwa Perjamuan Kudus adalah pemberian Allah dan bukan perbuatan manusia. Roti dan anggur bukan saja lambang, melainkan alat yang dipakai untuk memberikan tubuh dan darah Kristus kepada umatNya. Akan tetapi Kristus kini ada di surga. Roti dan anggur tidak bisa dianggap sama saja dengan tubuh dan darah yang di dalam surga itu, melainkan harus dianggap sebagai tanda dan meterai dari anugerah dan kasih Tuhan dalam Yesus Kristus. Calvin membedakan tanda dengan apa yang ditandakan oleh tanda itu. Calvin menjelaskannya sebagai berikut: "Sebagaimana orang yang percaya itu sungguh menerima tanda-tanda itu dengan mulutnya, demikianlah pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh Roh Kudus (dengan iman) dengan tubuh Kristus yang di surga". Dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus, Calvin sangat teliti.

Calvin di dalam ajarannya juga menekankan predestinasi di samping pembenaran oleh iman. Menurut Calvin bahwa sejak kekal Allah di dalam diri-Nya sendiri telah menetapkan orang-orang mana yang diberiNya keselamatan dan yang mana yang dibinasakan. Orang-orang yang dipilih Tuhan itu diberi anugerah dengan cuma-cuma sedangkan orang-orang yang ditolak atau tidak dipilih Allah, mereka jatuh dengan dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Calvin mengatakan hal ini sungguh sulit dipahami. Tanda- tanda bahwa seseorang ditetapkan Allah untuk kehidupan yang kekal ialah bahwa ia (mereka) dipanggil oleh Tuhan Allah dan mereka menerima pembenaran dari Allah.

Calvin juga melawan ajaran Antitrinitarian yang diajarkan oleh Michael Servet. Pada waktu Servet berada di Jenewa dalam pelarian dari hukuman mati yang telah dijatuhkan oleh Gereja Katolik Roma ke atasnya, Dewan Kota Jenewa menangkap dan memenjarakan Servet atas permintaan Calvin. Tapi nasibnya sudah diputuskan: pengadilan sipil Wina, dengan napas Gereja Katolik, memvonisnya dengan hukuman bakar bila tertangkap. Atas anjuran para pendeta dan tentunya termasuk Calvin di dalamnya, ia ingin supaya hukumannya di peringan dengan cara kepala Servet dipenggal, tetapi ditolak oleh sidang dan mereka tetap membakar Servet pada tahun 1553.

Di Jenewa, Calvin juga mendirikan sekolah-sekolah. Di Jenewa didirikan sebuah Akademi yang memiliki dua bagian, yaitu gymnasium dan theologia. Theodorus Beza diangkat menjadi direktur Akademi tersebut. Di Akademi inilah dipersiapkan pemuda-pemuda Calvinis yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja Calvinis yang terkenal, seperti John Knox, Caspar Olevianus, pengarang Katekismus Heidelberg yang terkenal itu.

Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan "kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.

Calvin sudah memberi sumbangan pengaruh besar kepada dunia. Doktrin teologinya akhirnya merebut pendukung lebih banyak ketimbang yang diperoleh Luther. Meskipun daerah Jerman bagian utara dan Skandinavia merupakan daerah kaum Lutheran yang berakar, tetapi Swiss dan negeri Belanda menjadi daerah Calvinis. Ada sebagian kecil penganut Calvin di Polandia, Hongaria dan Jerman. Kaum Presbytarian di Skotlandia adalah Calvinis, seperti halnya orang-orang Huguenot di Perancis dan kaum Puritan di Inggris. Pengaruh Puritan di Amerika, tentu saja, cukup kuat dan bertahan lama.

Banyak sekali pekerjaan yang dikerjakan oleh Calvin tanpa mengenal lelah. Sejak tahun 1558 kesehatan Calvin mulai memburuk ketika ia menderita sakit kepala, perdarahan paru-paru, asam urat dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza, Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa, namun atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari, (meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan; lihat Tafsirannya tentang Kejadian 9:20); rekreasinya hanya terdiri dari jalan kaki setelah makan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata kepada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?".

Sebelum meninggalnya, ia meninggalkan banyak pesan kepada jemaatnya dan kepada Theodorus Beza, yang akan menggantikan kedudukannnya di jemaat Jenewa. Dewan Kota dan para pendeta dipanggilnya untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya. Pada tanggal 27 Mei 1564 Calvin meninggal dunia dengan tenang, Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai semata-mata dengan inisialnya, "J.C", sebagian untuk menghormati permintaannya agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi ataupun upacara. Ia pergi dengan meninggalkan pekerjaan yang berat kepada Theodorus Beza. Namanya dikenang sepanjang sejarah di seluruh dunia dengan terpatrinya gereja Calvinis atau Reformed.

Rabu, 24 Desember 2008

Predestinasi, doktrin menakutkan?

by: Gerald Sereh


Banyak orang memiliki presaposisi, bahwa doktrin adalah penyebab utama terpecah-belahnya gereja sehingga tidak perlu diajarkan. Doktrin Predestinasi yang akan dibahas dalam paper saya ini, adalah doktrin yang dianggap pemecah-belah gereja. Siapapun yang mengatakan bahwa Doktrin-doktrin yang akan dibahas dalam paper ini, adalah doktin pemecah-belah, maka orang tersebut adalah orang yang kan memecah belah gereja lagi. Doktrin-doktrin ini sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Doktrin ini telah diafsirkan secara serampangan oleh Yakobus Armenius, Pelagius, bahkan pendeta-pendeta zaman sekarang, yang tidak belajar Teologi dengan sungguh-sungguh, dan yang tidak mau kembali kepada Firman Tuhan, sehingga mereka membawa penyesatan terhadap jemaat Tuhan.
Predestinasi dianggap sebagai doktrin yang sangat menakutkan, karena sebagian umat manusia dipilih oleh Allah Bapa untuk dinikahkan dengan Anak-Nya yang Tunggal dan yang tidak dipilih, dibinasakan (Dilemperkan ke Nereka). Doktrin ini, jika dipelajari dengan sebaik-baiknya maka doktrin ini mempunyai arti yang sangat mendalam dan sangat indah, karena dari doktrin ini berkaitan dengan ketidaklayakan manusia, sayangnya banyak pemimpin gerakan Kharismatik, dan orang Kristen yang Armenian menolak doktrin ini dan membuangnya kedalam tempat sampat, karena dianggap omong kosong dan Allah tidak adil.
Predestinasi berasal dari kata pre yang berarti sebelum dan destine yang berarti tetapkan, jadi predestine berarti yang telah ditetapkan sebelumnya. Predestinasi adalah istilah teologi yang berarti Allah menetapkan memilih sebagian orang berdosa untuk diselamatkan dan menetapkan menolak/membiarkan sebagian lagi untuk dibinasakan (Un, Atonius, 2008).
Edwin H. Palmer mengatakan predestinasi adalah bagian dari penetapan yang menunjuk kepada destini kekal manusia: sorga atau neraka. Predestinasi terdiri atas 2 bagian yaitu: Pemilihan dan Penolakan. Pemilihan berkaitan dengan mereka yang akan masuk sorga dan penolakan berkaitan dengan mereka yang masuk neraka (Palmer, Edwin. 2005. Hal.29).
Johanes Calvin di dalam institusionya mengatakan bahwa: Orang yang masih mau dipandang sebagai orang beragama, tidak berani menyangkal begitu saja Predestinasi yang dengannya Allah menerima sebagian orang hingga dapat mengharapkan kehidupan, dan menghukum orang lain untuk menjalankan kematian kekal. Tetapi orang mengitari ajaran itu dengan aneka macam kritik yang dicari-cari.. Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang menganggap bahwa inilah yang menjadi dasar Predestinasi: Allah tahu segala hal dari sebelumnya (Praescientia). Kami memang menempatkan kedua-duanya (predestinasi dan praescientia) di dalam Allah, tetapi kami berkata bahwa salah adanya bila yang satu dikatakan takluk kepada yang lain. Apabila Allah kita anggap mengetahui hal-hal sebelum waktunya, maka dengan demikian kita menyatakan bahwa segala sesuatu sudah selama-lamanya dan untuk selama-lamanya di depan mata-Nya, sehingga untuk pengetahuan-Nya tak ada yang akan datang atau yang sudah lampau, tetapi semua-Nya ada dalam kekinian. Dan ada dalam kekinian sedemikian rupa, hingga hal-hal itu tidak hanya dibayangkan-Nya (sebagaimana hal-hal yang tetap tersimpan dalam ingatan kita timbul dalam pikiran kita), melainkan benar-benar dilihat-Nya dan diamati-Nya seakan-akan ditempatkan di depan-Nya. Predestinasi kita namakan keputusan Allah yang kekal yang denganya Ia menetapkan untuk diri-Nya sendiri, apa yang menurut kehendak-Nya akan terjadi atas semua orang. Sebab tidak semua orang diciptakan dalam keadaan yang sama; tetapi untuk yang satu ditentukan kehidupan yang kekal, untuk yang lain hukuman yang abadi. Maka sebagaimana orang itu diciptakan untuk tujuan yang satu atau yang lain, ia kita katakan dipredestinasikan untuk kehidupannya atau untuk kematian. Dan Predestinasi ini tidak hanya telah dinyatakan Allah di dalam diri orang perorangan, tetapi diperlihatkan-Nya juga sebagai contoh dalam seluruh keturunan Abraham. Maka kami berkata seperti yang sudah jelas ditunjukkan dalam Alkitab, yaitu bahwa dengan putusan yang kekal dan tak berubah-ubah telah ditentukan oleh Allah orang-orang mana yang hendak diterima-Nya dalam keselamatan, dan mana sebaliknya yang hendak dibiarkan-Nya binasa. Kami menyatakan bahwa mengenai mereka yang menjadi pilihan-Nya, putusan itu berdasarkan rahmat-Nya yang cuma-cuma, dengan sama sekali tidak mengindahkan apakah manusia layak memperolehnya; dan bahwa bagi mereka yang diserahkan-Nya kepada kebinasaan, ditutup-Nya jalan masuk ke kehidupan oleh karena hukuman-Nya yang benar dan tanpa cela, tetapi yang tak dapat kita pahami. Selanjut-Nya kami me-Nyatakan bahwa pada orang-orang pilihan, panggilan itu adalah bukti tentang terpilih-Nya mereka. Bahwa selanjutnya pembenaran adalah tanda kedua yang menyatakannya, sampai tercapai kemuliaan yang merupakan penggenapan-Nya. Tetapi sebagaimana Tuhan menandai orang-orang pilihan-Nya dengan panggilan dan pembenaran, begitu juga bagi yang ditolak Ia menutup pengetahuan tentang nama-Nya atau pengudusan roh-Nya. Itulah yang menjadi tanda-tanda yang memberitahukan kepada mereka hukum apa yang menantikan mereka (Calvin, Yohanes. 2000. Hal.195-196).


DASAR ALKITAB TENTANG PREDESTINASI

1. Yohanes 6:37,39. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang... Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Firman Tuhan ini menyatakan bahwa Predestinasi adalah Recana Kekal Allah dan tidak dapat digagalkan oleh siapapun, dan setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus memiliki pengharapan yang pasti, dan sekali selamat tetap selamat.

2. Yohanes 15:16. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Perhatikan firman Tuhan ini, bahwa kita dipilih oleh Yesus untuk menghasilkan buah yang tetap, bukan karena kita menghasilkan buah kemudian kita dipilih.

3. Kisah Para Rasul 13:48. Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Alkitab menjelaskan bahwa orang yang telah dipilih suatu ketika akan menerima Yesus (pasti tergenapi), karena Roh Kudus bekerja di dalam setiap orang yang telah dipilih di dalam Kristus.

4. Efesus 1:4-5. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya. Firman Tuhan ini menjelaskan bahwa Allah memilih manusia untuk hidup kudus dan tak bercacat bukan karena hidup kudus dan tidak bercacat lalu Tuhan memilih kita.
Masih banyak ayat Alkitab yang menyatakan tentang pemilihan Allah seperti: Roma 8:29-30; Roma 9:9-26; Kis 22:14; Ef 1:1; 1 Tes 5:9; 2 Tes 2: 12-13; Yak 2:5 dan lain--Nya.


PANDANGAN YANG SALAH TENTANG PREDESTINASI

Kita akan melihat kekacauan dalam pikiran manusia yang telah dirusak oleh filasafat dunia yang humanis, yang lebih menekankan pada kemanusiaan daripada kedaulatan Allah karena itu kita harus kembali pada konteks yang tepat. Konteks injil Yohanes 15 ini merupakan exclusive teaching of Christ sehingga ketika Tuhan berkata,”…Aku yang memilih kamu (I have predestine)” (ay.16) tidak disalah mengerti. Ironisnya, dunia mau mencoba mengerti tapi dengan filsafat dunia yang rusak sehingga menimbulkan kekacauan yang sering dituduhkan oleh manusia sekarang, yaitu :

1. Kalau Allah sudah menetapkan, Allah sudah memilih manusia yang akan diselamatkan maka kita tidak perlu mengabarkan injil dan tidak perlu diberitakan injil karena kalau kita diam pun, tidak berbuat apa-apa pasti akan selamat juga. Ini konsep yang salah. Ketika para murid mendengar ajaran predestinasi dari Yesus yang berkata,“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah…” (ay.16), para murid tidak berkomentar ataupun timbul protes dimana mereka merasa tidak perlu untuk memberitakan injil lagi tapi justru para murid semakin giat memberitakan injil. Sikap dunia pada jaman ini ketika mendengar ajaran Predestinasi sangat bertolak belakang dengan para murid pada jaman itu. Itulah sebab-Nya Tuhan Yesus tidak membuka konsep ini kepada sembarang orang. Konsep ini hanya dibukakan dan diajarkan kepada murid-murid yang setia pada kebenaran, yang mengerti hubungan antara dirinya dengan Yesus, yaitu seorang hamba yang telah diangkat menjadi seorang sahabat Tuhan sehingga dapat mengerti isi hati Tuhan dan mau taat menjalankan perintah Tuhan. Kalau kita tidak menyadari konsep ini dengan tepat pasti akan timbul masalah yang sangat rumit.

2. Kalau kita percaya doktrin Predestinasi, dimana Tuhan sudah menetapkan seseorang untuk diselamatkan maka kalau kita berbuat dosa apapun hal itu tidak akan mempengaruhi keselamatan, keselamatan tidak dapat hilang. Dengan demikian doktrin predestinasi mendukung orang kristen untuk berbuat dosa lebih banyak karena dalam pemikiran mereka keselamatan tidak dapat hilang. Benarkah demikian? Ini konsep yang salah. Konsep ini timbul dari pemikiran manusia berdosa yang seringkali menafsirkan ayat dengan salah bahkan ayat tersebut seringkali dipakai untuk mendukung perbuatan-Nya yang berdosa. Para murid ketika menerima pengajaran ini tidak ada satupun yang berpikir dengan konsep humanistik tetapi mereka justru menyadari siapa diri mereka di hadapan Allah; mereka langsung mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan. Konteks kita sebagai hamba sekaligus sahabat Tuhan harus dipahami terlebih dahulu, menjadi pre condition karena jika tidak demikian sifat dosa akan memanipulasi konsep predestinasi tersebut dan dipakai untuk kepentingan egoisme manusia. Oleh karena itu ajaran predestinasi ini hanya diajarkan untuk murid yang sejati; dimana Yudas sudah diusir pergi.

3. Allah memilih karena manusia berdasarkan, apakah orang itu akan menerima Yesus atau tidak, dengan alasan: jikalau Allah memilih tanpa mengetahui bahwa manusia itu akan menerima Yesus maka Allah maka Allah akan salah pilih. Ajaran ini didasarkan pada Roma 8:29-30: For those whom He foreknew [of whom He was aware and loved beforehand], He also destined from the beginning [foreordaining them] to be molded into the image of His Son [and share inwardly His likeness], that He might become the firstborn among many brethren. Kita harus perhatikan ayat ini, Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah mengetahui iman dan perbuatan baik mereka, dan yang perlu kita ingat bahwa manusia tidak pernah bisa berbuat baik dan menyelamatkan dirinya sendiri, karena manusia mati adanya.


SANGGAHAN TERHADAP AJARAN PREDESTINASI DIJAWAB OLEH CALVIN

III xxiii 1 E 947-24
Seolah-olah karena mau mengelak celaan dari Allah, banyak orang mengaku pemilihan itu sedemikian rupa hingga mereka mengingkari bahwa ada orang yang ditolak. Tetapi itu terlalu bodoh dan kekanak-kanakan: sebab pemilihan itu sendiri tidak akan ada, jika tidak ada penolakan sebagai lawannya.

E 947-33
Mereka yang dilewati Allah, ditolak-Nya; dan alasannya hanyalah karena Ia tidak mau memberi mereka warisan yang melalui predestinasi Ia peruntukkan bagi anak-anak-Nya.

E 948-6
Bagaimana selanjutnya mereka yang tidak mau menerima bahwa ada orang yang ditolak Allah itu, dapat lolos dari ucapan Kristus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh BapaKu akan dicabut” (Mat. 15:13)?

E 948-14
Dan jika mereka tidak berhenti membantah, maka semoga kesederhanaan iman puas dengan anjuran Paulus bahwa “Allah menaruh kesabaran dan kelembutan yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya yang telah disiapkan untuk kebinasaan, justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan bagi kemuliaan” (Roma 9:22).

III xxiii 2 E 949-15
Dengan berbagai cara orang-orang yang tolol bertengkar dengan Allah, seakan-akan mereka menganggap diri-Nya berhak untuk melancarkan tuduhan-tuduhan kepada Dia. Pertama-tama mereka bertanya, dengan hak apa Allah murka terhadap makhluk-makhluk-Nya yang sebelum-Nya sama sekali tidak menantang-Nya dengan hinaan apapun. Sebab, kata mereka, menetapkan kebinasaan bagi orang-orang tertentu menurut perkenanan-Nya itu lebih sesuai dengan kesewenang-wenangan seorang diktator daripada dengan hukuman adil seorang hakim. Bahwa orang memang mempunyai alasan untuk mengeluh tentang Allah, apabila hanya karena perkenanan-Nya saja, tanpa mengingat tidak layaknya mereka, mereka ditakdirkan untuk kematian kekal. Kalau pikiran semacam ini timbul dalam hati orang-orang saleh, mereka cukup diperlengkapi untuk mematahkan serangannya melalui pertimbangan yang satu ini: mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang alasan-alasan kehendak ilahi adalah sangat jahat.

III xxiii 3 E 950-19
Apabila seseorang menyerang kita dengan kata-kata seperti: “Mengapa Allah sudah dari mulanya mentakdirkan kematian bagi beberapa orang yang tidak mungkin pantas diberi hukuman mati, karena mereka belum ada?”, maka jangan kita memberi jawaban, tetapi kita berganti mengajukan pertanyaan, apakah menurut pendapat mereka ada hutang Allah terhadap manusia, jika Ia hendak mengukurnya menurut hakekat-Nya sendiri. Kita semua, sebagai yang dinodai dosa, tidak bisa tidak harus dibenci oleh Allah. Jika semua orang yang menurut predestinasi Allah harus mati karena keadaan kodrati mereka tunduk pada hukuman kematian, maka ketidak-adilan manakah yang telah ditimpakan kepada mereka, tanya saya, yang dapat mereka adukan?

III xxiii 4
Mereka membantah pula: “Bukankah mereka ditakdirkan sebelumnya oleh ketetapan Tuhan untuk keburukan yang sekarang diajukan sebagai sebab hukuman mereka? Bukankah tidak adil Dia yang mempermainkan makhluk-makhluk-Nya sekejam itu? Bersama Paulus kami akan menjawab-Nya demikian: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuk-Nya: ‘mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liat-Nya untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang tidak mulia?” (Roma 9:20).

E 954-4
Jika manusia dengan takdir Allah diciptakan sedemikian rupa hingga bakal dikerjakan-Nya apa yang memang dikerjakan-Nya sekarang, maka tidak boleh ia dipersalahkan karena telah melakukan sesuatu yang tak dapat dihindari-Nya dan yang ditempuh-Nya karena kehendak Allah.”
Marilah kita lihat, bagaimana keruwetan ini dapat diuraikan selayaknya. Pertama-tama hendaknya semua yakin akan kata Salomo bahwa Tuhan membuat segala sesuatu demi diri-Nya, (demikian naskah Vulgata yang dipakai oleh Calvin. Naskah yang mendasari Terjemahan Baru dalam Bahasa Indonesia berbunyi: “untuk tujuannya masing-masing) bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka (Amsal 16:4). Lihatlah, oleh karena penetapan tentang segala sesuatu berada dalam tangan Tuhan, oleh karena padanyalah terletak penetapan mengenai keselamatan dan kematian, maka dengan putusan dan kehendak-Nya ditetapkan-Nya bahwa di antara manusia ada yang dilahirkan dan ditentukan mulai dari kandungan ibu-Nya akan mengalami kematian yang pasti, supaya dengan kebinasaan mereka nama-Nya dipermuliakan.

III xxiii 9 E 957-30
Mereka yang tertolak itu menginginkan supaya dosa mereka dapat dimaafkan oleh karena mereka tidak dapat luput dari keharusan berdosa; lebih-lebih karena keharusan itu ditanggungkan kepada mereka dengan penetapan Allah. Tetapi kami mengingkari bahwa dengan demikian mereka selayak-Nya dimaafkan, oleh karena penetapan Allah yang menurut keluhan mereka menentukan bahwa mereka akan binasa, sudah tegas kewajaran-Nya, yang memang tidak ketahui, tetapi yang sudah pasti sama sekali.

III xxiii 10
Selanjutnya penentang-penentang predestinasi Allah masih menuduhkan kemustahilan ketiga pada-Nya: bahwa [menurut ajaran ini] Ia pilih kasih. Hal ini oleh Alkitab disangkal di mana-mana, dan mereka menarik kesimpulan: atau Alkitab itu bertentangan dengan diri-Nya sendiri, atau Allah dalam pemilihan-Nya melihat amal-amal.

E 958-35
Mereka bertanya, apa sebabnya dari dua orang yang tidak dibedakan oleh satu amal pun, yang satu dilewati Allah dalam pemilihan-Nya, dan yang lain diterimaNya. Saya berganti bertanya: “apakah mereka menyangka bahwa dalam diri orang yang diterima itu terdapat sesuatu yang mencenderungkan hati Allah kepadaNya?”. Jika mereka mengakui bahwa tidak ada apa-apanya–dan mereka tidak bakal dapat berbuat lain dari mengakuinya—maka kesimpulannya ialah bahwa Allah tidak memandang manusianya, tetapi dari kebaikan hatiNya mengambil alasan untuk berbuat baik kepadanya. Jadi bahwa Allah memilih yang satu dan menolak yang lain, alasannya bukanlah bahwa Ia melihat manusianya, melainkah hanya belas kasihanNya yang harus bebas memperlihatkan dan menyatakan diri, di mana saja dan kapan saja itu berkenan kepadaNya.

III xxiii 12
Untuk menumbangkan predestinasi, dengan sengit mereka mengajukan pula bahwa seandai-Nya predestinasi itu dipertahankan, semua ketekunan dan kerajinan untuk berbuat baik akan runtuh. Sebab, kata mereka, bila mendengar bahwa dengan keputusan Allah yang abadi dan tak dapat diubah itu kehidupan atau kematian telah ditetapkan untuk-Nya, siapakah yang tidak akan segera dihinggapi pikiran bahwa bagaimana perilakunya itu tidak menjadi soal.

E 960-33
Tetapi Paulus memperingatkan kita bahwa kita telah dipilih untuk maksud ini, yaitu supaya menjalankan kehidupan yang kudus dan tanpa cacat (Ef. 1:4). Jika kesucian hiduplah yang menjadi tujuan pemilihan, maka ajaran itu harus terlebih menggugah dan mendorong kita untuk menaruh perhatian pada kesucian daripada menjadi dalih untuk kelambanan. Sebab berapa besarkah perbedaan antara dua hal ini: tidak jadi melakukan amal baik, oleh karena pemilihan itu sudah cukup untuk mencapai keselamatan, dan: pemilihan itu mempunyai tujuan supaya kita berusaha keras melakukan perbuatan-perbuatan yang baik? (Calvin, Johanes).


CATATAN:

1. Bagi orang Kristen yang menolak doktrin ini berarti Dia melawan ajaran Alkitab.
2. Bagi Hamba Tuhan yang menolak doktrin ini, maka engkau tidak layak menjadi Hamba Tuhan, karena engkau menolak ajaran Alkitab yang adalah wahyu dari Tuhan.
3. Orang Kristen yang mangatakan Doktrin Predestinasi merupakan ketidakadilan Allah maka, orang tersebut bukan mengenal Allah Tritunggal, tetapi allah yang salah.
4. Bagi mereka yang masih sulit mengerti Doktrin ini, berdoalah supaya kamu dapat mengerti keindahan dari ajaran Yesus ini.


REFERENSI
Calvin Yohanes. (2000). Intitusio pengajaran agama Kristen. BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Palmer Edwin. 2005. Lima pokok calvinisme. Momentum: Surabaya
Un, Atonius. 2008. Pemilihan tak bersyarat Allah Bapa.
Diambil pada : 16 Des 2008
Diambil dari : http://dennytan.blogspot.com/2008/01/seri-pengajaran-calvinisme-2-pemilihan.html?showComment=1211505300000#c1430688488585551416