Senin, 26 Januari 2009

John Calvin - the 500th years anniversary of his birth (Quincentennial)

JOHN CALVIN (10 Juli 1509 – 27 Mei 1564)
(John Calvin adalah teolog Kristen Prancis terkemuka pada masa Reformasi Protestan. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme atau Reformed. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin) di Noyon, Picardie, Prancis, dari Gérard Cauvin dan Jeanne Lefranc. Bahasa Prancis adalah bahasa ibunya. Calvin berasal dari versi Latin namanya, Calvinus. Martin Luther memasang 95 dalil pada 1517, ketika Calvin baru berumur 8 tahun. Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss dan merupakan generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-16, namun peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin tersebar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi nama Gereja Calvinis atau Reformed.)


"suatu alat yang sangat berharga dari Kristus, suatu alat ... yang tidak ada bandingannya, ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui tulisan-tulisannya"


John Calvin (nama aslinya: Jean Cauvin) dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, sebuah desa di sebelah utara kota Paris, Perancis. Ibunya adalah seorang wanita yang cantik dan saleh. Ia meninggal dunia tatkala ia masih muda. Gerard Cauvin (ayahnya) bekerja sebagai pegawai uskup Noyon. Calvin memiliki empat saudara lelaki dan dua orang saudara perempuan. Keluarga Calvin mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Noyon. Oleh karena itu, pendidikan elementernya ditempuh dalam istana bangsawan Noyon, Mommor, bersama-sama dengan anak-anak bangsawan itu. Itulah sebabnya maka Calvin memperlihatkan sifat-sifat kebangsawanan.

Pada mulanya ayah Calvin menginginkan anaknya untuk menjadi imam. Pada umur 12 tahun Calvin sudah menerima "tonsur" (pencukuran rambut dalam upacara inisiasi biarawan) dan ia sudah menerima upah dari paroki St. Martin de Marteville. Dengan penghasilan tersebut Calvin dapat meneruskan pendidikannya pada jenjang yang tinggi. Pada tahun 1523 Calvin memasuki College de la Marche di Park. Di sini ia belajar retorika dan Bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya pada seorang ahli bahasa Latin yang terkenal, yaitu Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke College de Montague. Di sini Calvin belajar filsafat dan theologia. Di sekolah inilah Calvin belajar bersama dengan Ignatius dari Loyola.

Setelah Calvin menyelesaikan pendidikannya itu tiba-tiba ayahnya tidak menginginkan anaknya lagi untuk menjadi imam. Ayahnya menginginkan Calvin menjadi seorang ahli hukum. Oleh karena itu Calvin memasuki Universitas Orléans untuk belajar ilmu hukum. Kemudian ia belajar juga di Universitas Bourges dan Paris (dalam usia 14 tahun). Bahasa Yunani dan Ibrani dipelajarinya dari Melchior Wolmar, seorang ahli bahasa terkenal pada abad itu. Dengan demikian Calvin menjadi seorang ahli hukum. Studi hukumnya sangat mempengaruhinya dalam usaha pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya. Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.

Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans dan di bulan April, Calvin menerbitkan bukunya yang pertama, yaitu: Komentar Kitab “De Clementia”, yang kitab tersebut merupakan karya filsuf Romawi Seneca. Dalam buku ini dipersembahkan kepada Claude de Hangest, sahabat sekolahnya di keluarga bangsawan Mommer, di Noyon dahulu. Buku itu memperlihatkan Calvin sebagai seorang humanisme sejati. Dalam buku ini tidak terdapat tanda-tanda bahwa Calvin telah beralih ke pihak reformasi di Perancis. Dapat diduga bahwa Calvin telah membaca tulisan-tulisan Luther dan para reformator Swiss lainnya. Bilamana Calvin menjadi pengikut gerakan reformasi tidak dapat ditentukan dengan tepat. Pertobatannya kemungkinan terjadi pada akhir 1532 dan awal 1533. Hal ini didasarkan kepada suratnya kepada Bucer, yang meminta kepada Bucer di Strausburg untuk memberi perlindungan kepada orang-orang reformatoris yang melarikan diri karena dihambat di Perancis. Surat tersebut ditulis Oktober 1533. Mengenai pertobatannya, Calvin menulis sebagai berikut: " . . . muncullah suatu ajaran yang baru, yang tidak membelokkan kami dari pengakuan Kristen, malah justru membawa kami kembali kepada sumbernya yang asli, menyucikannya dari segala noda, mengembalikan kepadanya kemurniannya yang semula. Tetapi aku benci kepada hal hal yang baru itu, dan sukar mendengarnya sekalipun. Dan pada mulanya aku menentangnya sekeras-kerasnya, karena aku telah menempuh jalan yang sesat dan penuh kebodohan. Tetapi berkat pertobatan yang tiba- tiba, Allah menujukan hatiku kepada kepatuhan".

Pada tahun 1534 golongan reformatoris di Perancis dihambat dengan keras. Orang-orang reformatoris menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Swiss. Calvin pun ikut melarikan diri ke Strausburg di mana ia diterima dengan hangat oleh Bucer. Kemudian Calvin meneruskan perjalanannya ke Basel. Calvin tinggal di Basel setahun lebih lamanya. Selama itu Calvin masih pergi ke Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai nama-nama samaran seperti: Martianus Lucanius, Carolus Passelius, Calpunius, dan sebagainya. Di Basel inilah Calvin menerbitkan bukunya yang terkenal itu, yaitu: Religionis Christianae Institutio (dalam bahasa Inggris: Institutes of the Christian Religion / Pengajaran tentang Agama Kristen), tahun 1536. Biasanya dikenal dengan sebutan Institutio. Buku ini kemudian direvisi berkali-kali dan menjadi buku dogmatika yang terutama dalam gereja-gereja Calvinis. Institutio adalah karangan theologia yang kedua yang keluar dari tangan Calvin. Buku theologia yang pertama adalah berjudul: Psychopannychia (Mengenai Tidurnya Jiwa-Jiwa), suatu karangan melawan ajaran Anabaptis yang mengajarkan bahwa jiwa manusia tidur hingga Kristus datang kembali setelah manusia itu meninggal.

Pada tahun 1536 Calvin pergi ke Italia. Dalam perjalanan pulang ke Basel ia terpaksa melalui Jenewa dan menginap di sana. Farel mendengar bahwa Calvin berada di Jenewa sehingga Farel mencari Calvin. Farel meminta kepada Calvin untuk tinggal di Jenewa dan bersama-sama dengan Farel menata kota Jenewa menjadi kota reformasi. Dua bulan sebelumnya Dewan Kota Jenewa telah memutuskan untuk menganut paham reformasi. Permintaan Farel ditolak oleh Calvin. Calvin mau hidup tenang dan terus menulis karya-karya theologia. Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan praktis dalam jemaat. Namun Farel mendesaknya dengan berkata: "Dengan nama Allah yang mahakuasa aku katakan kepadamu: jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan Kristus". Calvin melihat panggilan Allah kepadanya lewat Farel sehingga ia tinggal di Jenewa. Kini Calvin tinggal di Jenewa bersama-sama dengan Farel mengatur gereja reformatoris di sana. Mereka merancangkan sebuah tata gereja yang mengatur seluruh kehidupan warga kota menurut cita-cita theokrasi. Menurut rancangan tata gereja itu dikatakan, bahwa Perjamuan Kudus diadakan sebulan sekali dan berhubungan dengan itu akan dijalankan disiplin yang keras. Setiap penduduk diwajibkan menandatangani sehelai surat pengakuan sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh sadar akan iman dan pengakuannya. Hal yang terakhir ini tidak disetujui oleh banyak warga kota. Pada tahun 1538 Dewan Kota dikuasai oleh orang-orang yang menolak pengakuan itu sehingga Calvin dan Farel dilarang berkhotbah di mimbar-mimbar gereja di Jenewa, dan pada akhirnya keduanya diusir dari Jenewa. Kemudian Calvin dipanggil oleh jemaat Strausburg. Ia menjadi pendeta di sana tahun 1539-1541. Dalam jemaat ini Calvin bersama-sama Butzer dapat menerapkan cita-cita yang gagal di Jenewa dahulu. Di sini Calvin mengusahakan nyanyian Mazmur dengan bantuan ahli musik terkenal; yaitu Clement Marot, Louis Bourgois dan Maitre Piere. Di sini pula Calvin mulai menulis tafsiran-tafsiran Alkitab serta merevisi Institutio. Di sinilah pula Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda bangsawan (ia meminta teman-temannya menolongnya mencarikan seorang perempuan yang "sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan saya."). Pernikahannya hanya berlangsung sembilan tahun lamanya, karena kemudian istrinya meninggal (anak satu-satunya laki-laki yang dua minggu meninggal dunia setelah dilahirkan). Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolongnya dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkannya dengan urusan anak-anaknya dan berjiwa besar

Namun tahun 1541 Calvin dipanggil kembali oleh jemaat Jenewa sehingga kita menemukannya lagi di sana. Calvin tinggal dan bekerja di sini hingga meninggalnya, 27 Mei 1564, karena mengidap TBC.

Segera sesudah ia bekerja dalam jemaat Jenewa, Calvin menyusun suatu tata gereja baru yang bernama: Ordonnances Ecclesiastiques (Undang- undang Gerejani), 1541.

Calvin adalah seorang theolog besar dalam kalangan gereja-gereja reformatoris. Pandangan-pandangan theologianya dituangkannya dalam bukunya, Institutio.

Calvin mengajarkan tentang pembenaran hanya oleh iman (justification by fatih alone / Sola Fide), sama seperti Luther. Namun Calvin sangat menekankan penyucian (santification), kehidupan baru yang harus ditempuh oleh orang-orang Kristen yang bersyukur, karena Allah telah menyelamatkan mereka. Calvin menegaskan bahwa anggota-anggota jemaat yang berkumpul untuk mendengarkan Firman Allah dan untuk ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus haruslah suci. Disiplin gereja diawasi dengan ketat. Pengawasan atas tingkah laku anggota jemaat bukan saja dilaksanakan oleh penatua, tetapi juga oleh pemerintah (Dewan Kota).

Hubungan gereja dan negara dalam theologia Calvin sangat erat. Calvin bercita-cita suatu negara theokrasi. Seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Pemerintah bertugas juga untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang murni. Namun ini tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja. Gereja dan negara berdampingan. Keduanya bertugas untuk melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan Tuhan Allah. Mengenai tugas negara, Calvin menulis sebagai berikut: "Pemerintah diberi tugas untuk, selama kita hidup di tengah-tengah orang-orang, mendukung serta melindungi penyembahan Allah yang lahiriah, mempertahankan ajaran yang sehat tentang ibadah dan kedudukan gereja, mengatur kehidupan kita dengan melihat kepada pergaulan masyarakat, membentuk kesusilaan kita sesuai dengan keadilan seperti yang ditetapkan oleh Undang-undang negara, menjadikan kita rukun dan memelihara damai serta ketentraman umum.... "

Mengenai jabatan-jabatan dalam gereja Calvin mengenal empat jabatan yaitu, pendeta, pengajar, penatua dan diaken. Pendeta-pendeta bersama-sama dengan para penatua merupakan konsistori, yaitu majelis gereja yang memimpin jemaat dan yang menjalankan disiplin gereja. Peraturan pemilihan dan penahbisan pejabat-pejabat gereja itu diatur dengan teliti, terutama jabatan pendeta.

Mengenai Perjamuan Kudus, Calvin mengajarkan bahwa Perjamuan Kudus adalah pemberian Allah dan bukan perbuatan manusia. Roti dan anggur bukan saja lambang, melainkan alat yang dipakai untuk memberikan tubuh dan darah Kristus kepada umatNya. Akan tetapi Kristus kini ada di surga. Roti dan anggur tidak bisa dianggap sama saja dengan tubuh dan darah yang di dalam surga itu, melainkan harus dianggap sebagai tanda dan meterai dari anugerah dan kasih Tuhan dalam Yesus Kristus. Calvin membedakan tanda dengan apa yang ditandakan oleh tanda itu. Calvin menjelaskannya sebagai berikut: "Sebagaimana orang yang percaya itu sungguh menerima tanda-tanda itu dengan mulutnya, demikianlah pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh Roh Kudus (dengan iman) dengan tubuh Kristus yang di surga". Dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus, Calvin sangat teliti.

Calvin di dalam ajarannya juga menekankan predestinasi di samping pembenaran oleh iman. Menurut Calvin bahwa sejak kekal Allah di dalam diri-Nya sendiri telah menetapkan orang-orang mana yang diberiNya keselamatan dan yang mana yang dibinasakan. Orang-orang yang dipilih Tuhan itu diberi anugerah dengan cuma-cuma sedangkan orang-orang yang ditolak atau tidak dipilih Allah, mereka jatuh dengan dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Calvin mengatakan hal ini sungguh sulit dipahami. Tanda- tanda bahwa seseorang ditetapkan Allah untuk kehidupan yang kekal ialah bahwa ia (mereka) dipanggil oleh Tuhan Allah dan mereka menerima pembenaran dari Allah.

Calvin juga melawan ajaran Antitrinitarian yang diajarkan oleh Michael Servet. Pada waktu Servet berada di Jenewa dalam pelarian dari hukuman mati yang telah dijatuhkan oleh Gereja Katolik Roma ke atasnya, Dewan Kota Jenewa menangkap dan memenjarakan Servet atas permintaan Calvin. Tapi nasibnya sudah diputuskan: pengadilan sipil Wina, dengan napas Gereja Katolik, memvonisnya dengan hukuman bakar bila tertangkap. Atas anjuran para pendeta dan tentunya termasuk Calvin di dalamnya, ia ingin supaya hukumannya di peringan dengan cara kepala Servet dipenggal, tetapi ditolak oleh sidang dan mereka tetap membakar Servet pada tahun 1553.

Di Jenewa, Calvin juga mendirikan sekolah-sekolah. Di Jenewa didirikan sebuah Akademi yang memiliki dua bagian, yaitu gymnasium dan theologia. Theodorus Beza diangkat menjadi direktur Akademi tersebut. Di Akademi inilah dipersiapkan pemuda-pemuda Calvinis yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja Calvinis yang terkenal, seperti John Knox, Caspar Olevianus, pengarang Katekismus Heidelberg yang terkenal itu.

Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan "kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.

Calvin sudah memberi sumbangan pengaruh besar kepada dunia. Doktrin teologinya akhirnya merebut pendukung lebih banyak ketimbang yang diperoleh Luther. Meskipun daerah Jerman bagian utara dan Skandinavia merupakan daerah kaum Lutheran yang berakar, tetapi Swiss dan negeri Belanda menjadi daerah Calvinis. Ada sebagian kecil penganut Calvin di Polandia, Hongaria dan Jerman. Kaum Presbytarian di Skotlandia adalah Calvinis, seperti halnya orang-orang Huguenot di Perancis dan kaum Puritan di Inggris. Pengaruh Puritan di Amerika, tentu saja, cukup kuat dan bertahan lama.

Banyak sekali pekerjaan yang dikerjakan oleh Calvin tanpa mengenal lelah. Sejak tahun 1558 kesehatan Calvin mulai memburuk ketika ia menderita sakit kepala, perdarahan paru-paru, asam urat dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza, Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa, namun atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari, (meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan; lihat Tafsirannya tentang Kejadian 9:20); rekreasinya hanya terdiri dari jalan kaki setelah makan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata kepada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?".

Sebelum meninggalnya, ia meninggalkan banyak pesan kepada jemaatnya dan kepada Theodorus Beza, yang akan menggantikan kedudukannnya di jemaat Jenewa. Dewan Kota dan para pendeta dipanggilnya untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya. Pada tanggal 27 Mei 1564 Calvin meninggal dunia dengan tenang, Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai semata-mata dengan inisialnya, "J.C", sebagian untuk menghormati permintaannya agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi ataupun upacara. Ia pergi dengan meninggalkan pekerjaan yang berat kepada Theodorus Beza. Namanya dikenang sepanjang sejarah di seluruh dunia dengan terpatrinya gereja Calvinis atau Reformed.

Rabu, 24 Desember 2008

Predestinasi, doktrin menakutkan?

by: Gerald Sereh


Banyak orang memiliki presaposisi, bahwa doktrin adalah penyebab utama terpecah-belahnya gereja sehingga tidak perlu diajarkan. Doktrin Predestinasi yang akan dibahas dalam paper saya ini, adalah doktrin yang dianggap pemecah-belah gereja. Siapapun yang mengatakan bahwa Doktrin-doktrin yang akan dibahas dalam paper ini, adalah doktin pemecah-belah, maka orang tersebut adalah orang yang kan memecah belah gereja lagi. Doktrin-doktrin ini sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Doktrin ini telah diafsirkan secara serampangan oleh Yakobus Armenius, Pelagius, bahkan pendeta-pendeta zaman sekarang, yang tidak belajar Teologi dengan sungguh-sungguh, dan yang tidak mau kembali kepada Firman Tuhan, sehingga mereka membawa penyesatan terhadap jemaat Tuhan.
Predestinasi dianggap sebagai doktrin yang sangat menakutkan, karena sebagian umat manusia dipilih oleh Allah Bapa untuk dinikahkan dengan Anak-Nya yang Tunggal dan yang tidak dipilih, dibinasakan (Dilemperkan ke Nereka). Doktrin ini, jika dipelajari dengan sebaik-baiknya maka doktrin ini mempunyai arti yang sangat mendalam dan sangat indah, karena dari doktrin ini berkaitan dengan ketidaklayakan manusia, sayangnya banyak pemimpin gerakan Kharismatik, dan orang Kristen yang Armenian menolak doktrin ini dan membuangnya kedalam tempat sampat, karena dianggap omong kosong dan Allah tidak adil.
Predestinasi berasal dari kata pre yang berarti sebelum dan destine yang berarti tetapkan, jadi predestine berarti yang telah ditetapkan sebelumnya. Predestinasi adalah istilah teologi yang berarti Allah menetapkan memilih sebagian orang berdosa untuk diselamatkan dan menetapkan menolak/membiarkan sebagian lagi untuk dibinasakan (Un, Atonius, 2008).
Edwin H. Palmer mengatakan predestinasi adalah bagian dari penetapan yang menunjuk kepada destini kekal manusia: sorga atau neraka. Predestinasi terdiri atas 2 bagian yaitu: Pemilihan dan Penolakan. Pemilihan berkaitan dengan mereka yang akan masuk sorga dan penolakan berkaitan dengan mereka yang masuk neraka (Palmer, Edwin. 2005. Hal.29).
Johanes Calvin di dalam institusionya mengatakan bahwa: Orang yang masih mau dipandang sebagai orang beragama, tidak berani menyangkal begitu saja Predestinasi yang dengannya Allah menerima sebagian orang hingga dapat mengharapkan kehidupan, dan menghukum orang lain untuk menjalankan kematian kekal. Tetapi orang mengitari ajaran itu dengan aneka macam kritik yang dicari-cari.. Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang menganggap bahwa inilah yang menjadi dasar Predestinasi: Allah tahu segala hal dari sebelumnya (Praescientia). Kami memang menempatkan kedua-duanya (predestinasi dan praescientia) di dalam Allah, tetapi kami berkata bahwa salah adanya bila yang satu dikatakan takluk kepada yang lain. Apabila Allah kita anggap mengetahui hal-hal sebelum waktunya, maka dengan demikian kita menyatakan bahwa segala sesuatu sudah selama-lamanya dan untuk selama-lamanya di depan mata-Nya, sehingga untuk pengetahuan-Nya tak ada yang akan datang atau yang sudah lampau, tetapi semua-Nya ada dalam kekinian. Dan ada dalam kekinian sedemikian rupa, hingga hal-hal itu tidak hanya dibayangkan-Nya (sebagaimana hal-hal yang tetap tersimpan dalam ingatan kita timbul dalam pikiran kita), melainkan benar-benar dilihat-Nya dan diamati-Nya seakan-akan ditempatkan di depan-Nya. Predestinasi kita namakan keputusan Allah yang kekal yang denganya Ia menetapkan untuk diri-Nya sendiri, apa yang menurut kehendak-Nya akan terjadi atas semua orang. Sebab tidak semua orang diciptakan dalam keadaan yang sama; tetapi untuk yang satu ditentukan kehidupan yang kekal, untuk yang lain hukuman yang abadi. Maka sebagaimana orang itu diciptakan untuk tujuan yang satu atau yang lain, ia kita katakan dipredestinasikan untuk kehidupannya atau untuk kematian. Dan Predestinasi ini tidak hanya telah dinyatakan Allah di dalam diri orang perorangan, tetapi diperlihatkan-Nya juga sebagai contoh dalam seluruh keturunan Abraham. Maka kami berkata seperti yang sudah jelas ditunjukkan dalam Alkitab, yaitu bahwa dengan putusan yang kekal dan tak berubah-ubah telah ditentukan oleh Allah orang-orang mana yang hendak diterima-Nya dalam keselamatan, dan mana sebaliknya yang hendak dibiarkan-Nya binasa. Kami menyatakan bahwa mengenai mereka yang menjadi pilihan-Nya, putusan itu berdasarkan rahmat-Nya yang cuma-cuma, dengan sama sekali tidak mengindahkan apakah manusia layak memperolehnya; dan bahwa bagi mereka yang diserahkan-Nya kepada kebinasaan, ditutup-Nya jalan masuk ke kehidupan oleh karena hukuman-Nya yang benar dan tanpa cela, tetapi yang tak dapat kita pahami. Selanjut-Nya kami me-Nyatakan bahwa pada orang-orang pilihan, panggilan itu adalah bukti tentang terpilih-Nya mereka. Bahwa selanjutnya pembenaran adalah tanda kedua yang menyatakannya, sampai tercapai kemuliaan yang merupakan penggenapan-Nya. Tetapi sebagaimana Tuhan menandai orang-orang pilihan-Nya dengan panggilan dan pembenaran, begitu juga bagi yang ditolak Ia menutup pengetahuan tentang nama-Nya atau pengudusan roh-Nya. Itulah yang menjadi tanda-tanda yang memberitahukan kepada mereka hukum apa yang menantikan mereka (Calvin, Yohanes. 2000. Hal.195-196).


DASAR ALKITAB TENTANG PREDESTINASI

1. Yohanes 6:37,39. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang... Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Firman Tuhan ini menyatakan bahwa Predestinasi adalah Recana Kekal Allah dan tidak dapat digagalkan oleh siapapun, dan setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus memiliki pengharapan yang pasti, dan sekali selamat tetap selamat.

2. Yohanes 15:16. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Perhatikan firman Tuhan ini, bahwa kita dipilih oleh Yesus untuk menghasilkan buah yang tetap, bukan karena kita menghasilkan buah kemudian kita dipilih.

3. Kisah Para Rasul 13:48. Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Alkitab menjelaskan bahwa orang yang telah dipilih suatu ketika akan menerima Yesus (pasti tergenapi), karena Roh Kudus bekerja di dalam setiap orang yang telah dipilih di dalam Kristus.

4. Efesus 1:4-5. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya. Firman Tuhan ini menjelaskan bahwa Allah memilih manusia untuk hidup kudus dan tak bercacat bukan karena hidup kudus dan tidak bercacat lalu Tuhan memilih kita.
Masih banyak ayat Alkitab yang menyatakan tentang pemilihan Allah seperti: Roma 8:29-30; Roma 9:9-26; Kis 22:14; Ef 1:1; 1 Tes 5:9; 2 Tes 2: 12-13; Yak 2:5 dan lain--Nya.


PANDANGAN YANG SALAH TENTANG PREDESTINASI

Kita akan melihat kekacauan dalam pikiran manusia yang telah dirusak oleh filasafat dunia yang humanis, yang lebih menekankan pada kemanusiaan daripada kedaulatan Allah karena itu kita harus kembali pada konteks yang tepat. Konteks injil Yohanes 15 ini merupakan exclusive teaching of Christ sehingga ketika Tuhan berkata,”…Aku yang memilih kamu (I have predestine)” (ay.16) tidak disalah mengerti. Ironisnya, dunia mau mencoba mengerti tapi dengan filsafat dunia yang rusak sehingga menimbulkan kekacauan yang sering dituduhkan oleh manusia sekarang, yaitu :

1. Kalau Allah sudah menetapkan, Allah sudah memilih manusia yang akan diselamatkan maka kita tidak perlu mengabarkan injil dan tidak perlu diberitakan injil karena kalau kita diam pun, tidak berbuat apa-apa pasti akan selamat juga. Ini konsep yang salah. Ketika para murid mendengar ajaran predestinasi dari Yesus yang berkata,“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah…” (ay.16), para murid tidak berkomentar ataupun timbul protes dimana mereka merasa tidak perlu untuk memberitakan injil lagi tapi justru para murid semakin giat memberitakan injil. Sikap dunia pada jaman ini ketika mendengar ajaran Predestinasi sangat bertolak belakang dengan para murid pada jaman itu. Itulah sebab-Nya Tuhan Yesus tidak membuka konsep ini kepada sembarang orang. Konsep ini hanya dibukakan dan diajarkan kepada murid-murid yang setia pada kebenaran, yang mengerti hubungan antara dirinya dengan Yesus, yaitu seorang hamba yang telah diangkat menjadi seorang sahabat Tuhan sehingga dapat mengerti isi hati Tuhan dan mau taat menjalankan perintah Tuhan. Kalau kita tidak menyadari konsep ini dengan tepat pasti akan timbul masalah yang sangat rumit.

2. Kalau kita percaya doktrin Predestinasi, dimana Tuhan sudah menetapkan seseorang untuk diselamatkan maka kalau kita berbuat dosa apapun hal itu tidak akan mempengaruhi keselamatan, keselamatan tidak dapat hilang. Dengan demikian doktrin predestinasi mendukung orang kristen untuk berbuat dosa lebih banyak karena dalam pemikiran mereka keselamatan tidak dapat hilang. Benarkah demikian? Ini konsep yang salah. Konsep ini timbul dari pemikiran manusia berdosa yang seringkali menafsirkan ayat dengan salah bahkan ayat tersebut seringkali dipakai untuk mendukung perbuatan-Nya yang berdosa. Para murid ketika menerima pengajaran ini tidak ada satupun yang berpikir dengan konsep humanistik tetapi mereka justru menyadari siapa diri mereka di hadapan Allah; mereka langsung mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan. Konteks kita sebagai hamba sekaligus sahabat Tuhan harus dipahami terlebih dahulu, menjadi pre condition karena jika tidak demikian sifat dosa akan memanipulasi konsep predestinasi tersebut dan dipakai untuk kepentingan egoisme manusia. Oleh karena itu ajaran predestinasi ini hanya diajarkan untuk murid yang sejati; dimana Yudas sudah diusir pergi.

3. Allah memilih karena manusia berdasarkan, apakah orang itu akan menerima Yesus atau tidak, dengan alasan: jikalau Allah memilih tanpa mengetahui bahwa manusia itu akan menerima Yesus maka Allah maka Allah akan salah pilih. Ajaran ini didasarkan pada Roma 8:29-30: For those whom He foreknew [of whom He was aware and loved beforehand], He also destined from the beginning [foreordaining them] to be molded into the image of His Son [and share inwardly His likeness], that He might become the firstborn among many brethren. Kita harus perhatikan ayat ini, Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah mengetahui iman dan perbuatan baik mereka, dan yang perlu kita ingat bahwa manusia tidak pernah bisa berbuat baik dan menyelamatkan dirinya sendiri, karena manusia mati adanya.


SANGGAHAN TERHADAP AJARAN PREDESTINASI DIJAWAB OLEH CALVIN

III xxiii 1 E 947-24
Seolah-olah karena mau mengelak celaan dari Allah, banyak orang mengaku pemilihan itu sedemikian rupa hingga mereka mengingkari bahwa ada orang yang ditolak. Tetapi itu terlalu bodoh dan kekanak-kanakan: sebab pemilihan itu sendiri tidak akan ada, jika tidak ada penolakan sebagai lawannya.

E 947-33
Mereka yang dilewati Allah, ditolak-Nya; dan alasannya hanyalah karena Ia tidak mau memberi mereka warisan yang melalui predestinasi Ia peruntukkan bagi anak-anak-Nya.

E 948-6
Bagaimana selanjutnya mereka yang tidak mau menerima bahwa ada orang yang ditolak Allah itu, dapat lolos dari ucapan Kristus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh BapaKu akan dicabut” (Mat. 15:13)?

E 948-14
Dan jika mereka tidak berhenti membantah, maka semoga kesederhanaan iman puas dengan anjuran Paulus bahwa “Allah menaruh kesabaran dan kelembutan yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya yang telah disiapkan untuk kebinasaan, justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan bagi kemuliaan” (Roma 9:22).

III xxiii 2 E 949-15
Dengan berbagai cara orang-orang yang tolol bertengkar dengan Allah, seakan-akan mereka menganggap diri-Nya berhak untuk melancarkan tuduhan-tuduhan kepada Dia. Pertama-tama mereka bertanya, dengan hak apa Allah murka terhadap makhluk-makhluk-Nya yang sebelum-Nya sama sekali tidak menantang-Nya dengan hinaan apapun. Sebab, kata mereka, menetapkan kebinasaan bagi orang-orang tertentu menurut perkenanan-Nya itu lebih sesuai dengan kesewenang-wenangan seorang diktator daripada dengan hukuman adil seorang hakim. Bahwa orang memang mempunyai alasan untuk mengeluh tentang Allah, apabila hanya karena perkenanan-Nya saja, tanpa mengingat tidak layaknya mereka, mereka ditakdirkan untuk kematian kekal. Kalau pikiran semacam ini timbul dalam hati orang-orang saleh, mereka cukup diperlengkapi untuk mematahkan serangannya melalui pertimbangan yang satu ini: mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang alasan-alasan kehendak ilahi adalah sangat jahat.

III xxiii 3 E 950-19
Apabila seseorang menyerang kita dengan kata-kata seperti: “Mengapa Allah sudah dari mulanya mentakdirkan kematian bagi beberapa orang yang tidak mungkin pantas diberi hukuman mati, karena mereka belum ada?”, maka jangan kita memberi jawaban, tetapi kita berganti mengajukan pertanyaan, apakah menurut pendapat mereka ada hutang Allah terhadap manusia, jika Ia hendak mengukurnya menurut hakekat-Nya sendiri. Kita semua, sebagai yang dinodai dosa, tidak bisa tidak harus dibenci oleh Allah. Jika semua orang yang menurut predestinasi Allah harus mati karena keadaan kodrati mereka tunduk pada hukuman kematian, maka ketidak-adilan manakah yang telah ditimpakan kepada mereka, tanya saya, yang dapat mereka adukan?

III xxiii 4
Mereka membantah pula: “Bukankah mereka ditakdirkan sebelumnya oleh ketetapan Tuhan untuk keburukan yang sekarang diajukan sebagai sebab hukuman mereka? Bukankah tidak adil Dia yang mempermainkan makhluk-makhluk-Nya sekejam itu? Bersama Paulus kami akan menjawab-Nya demikian: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuk-Nya: ‘mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liat-Nya untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang tidak mulia?” (Roma 9:20).

E 954-4
Jika manusia dengan takdir Allah diciptakan sedemikian rupa hingga bakal dikerjakan-Nya apa yang memang dikerjakan-Nya sekarang, maka tidak boleh ia dipersalahkan karena telah melakukan sesuatu yang tak dapat dihindari-Nya dan yang ditempuh-Nya karena kehendak Allah.”
Marilah kita lihat, bagaimana keruwetan ini dapat diuraikan selayaknya. Pertama-tama hendaknya semua yakin akan kata Salomo bahwa Tuhan membuat segala sesuatu demi diri-Nya, (demikian naskah Vulgata yang dipakai oleh Calvin. Naskah yang mendasari Terjemahan Baru dalam Bahasa Indonesia berbunyi: “untuk tujuannya masing-masing) bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka (Amsal 16:4). Lihatlah, oleh karena penetapan tentang segala sesuatu berada dalam tangan Tuhan, oleh karena padanyalah terletak penetapan mengenai keselamatan dan kematian, maka dengan putusan dan kehendak-Nya ditetapkan-Nya bahwa di antara manusia ada yang dilahirkan dan ditentukan mulai dari kandungan ibu-Nya akan mengalami kematian yang pasti, supaya dengan kebinasaan mereka nama-Nya dipermuliakan.

III xxiii 9 E 957-30
Mereka yang tertolak itu menginginkan supaya dosa mereka dapat dimaafkan oleh karena mereka tidak dapat luput dari keharusan berdosa; lebih-lebih karena keharusan itu ditanggungkan kepada mereka dengan penetapan Allah. Tetapi kami mengingkari bahwa dengan demikian mereka selayak-Nya dimaafkan, oleh karena penetapan Allah yang menurut keluhan mereka menentukan bahwa mereka akan binasa, sudah tegas kewajaran-Nya, yang memang tidak ketahui, tetapi yang sudah pasti sama sekali.

III xxiii 10
Selanjutnya penentang-penentang predestinasi Allah masih menuduhkan kemustahilan ketiga pada-Nya: bahwa [menurut ajaran ini] Ia pilih kasih. Hal ini oleh Alkitab disangkal di mana-mana, dan mereka menarik kesimpulan: atau Alkitab itu bertentangan dengan diri-Nya sendiri, atau Allah dalam pemilihan-Nya melihat amal-amal.

E 958-35
Mereka bertanya, apa sebabnya dari dua orang yang tidak dibedakan oleh satu amal pun, yang satu dilewati Allah dalam pemilihan-Nya, dan yang lain diterimaNya. Saya berganti bertanya: “apakah mereka menyangka bahwa dalam diri orang yang diterima itu terdapat sesuatu yang mencenderungkan hati Allah kepadaNya?”. Jika mereka mengakui bahwa tidak ada apa-apanya–dan mereka tidak bakal dapat berbuat lain dari mengakuinya—maka kesimpulannya ialah bahwa Allah tidak memandang manusianya, tetapi dari kebaikan hatiNya mengambil alasan untuk berbuat baik kepadanya. Jadi bahwa Allah memilih yang satu dan menolak yang lain, alasannya bukanlah bahwa Ia melihat manusianya, melainkah hanya belas kasihanNya yang harus bebas memperlihatkan dan menyatakan diri, di mana saja dan kapan saja itu berkenan kepadaNya.

III xxiii 12
Untuk menumbangkan predestinasi, dengan sengit mereka mengajukan pula bahwa seandai-Nya predestinasi itu dipertahankan, semua ketekunan dan kerajinan untuk berbuat baik akan runtuh. Sebab, kata mereka, bila mendengar bahwa dengan keputusan Allah yang abadi dan tak dapat diubah itu kehidupan atau kematian telah ditetapkan untuk-Nya, siapakah yang tidak akan segera dihinggapi pikiran bahwa bagaimana perilakunya itu tidak menjadi soal.

E 960-33
Tetapi Paulus memperingatkan kita bahwa kita telah dipilih untuk maksud ini, yaitu supaya menjalankan kehidupan yang kudus dan tanpa cacat (Ef. 1:4). Jika kesucian hiduplah yang menjadi tujuan pemilihan, maka ajaran itu harus terlebih menggugah dan mendorong kita untuk menaruh perhatian pada kesucian daripada menjadi dalih untuk kelambanan. Sebab berapa besarkah perbedaan antara dua hal ini: tidak jadi melakukan amal baik, oleh karena pemilihan itu sudah cukup untuk mencapai keselamatan, dan: pemilihan itu mempunyai tujuan supaya kita berusaha keras melakukan perbuatan-perbuatan yang baik? (Calvin, Johanes).


CATATAN:

1. Bagi orang Kristen yang menolak doktrin ini berarti Dia melawan ajaran Alkitab.
2. Bagi Hamba Tuhan yang menolak doktrin ini, maka engkau tidak layak menjadi Hamba Tuhan, karena engkau menolak ajaran Alkitab yang adalah wahyu dari Tuhan.
3. Orang Kristen yang mangatakan Doktrin Predestinasi merupakan ketidakadilan Allah maka, orang tersebut bukan mengenal Allah Tritunggal, tetapi allah yang salah.
4. Bagi mereka yang masih sulit mengerti Doktrin ini, berdoalah supaya kamu dapat mengerti keindahan dari ajaran Yesus ini.


REFERENSI
Calvin Yohanes. (2000). Intitusio pengajaran agama Kristen. BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Palmer Edwin. 2005. Lima pokok calvinisme. Momentum: Surabaya
Un, Atonius. 2008. Pemilihan tak bersyarat Allah Bapa.
Diambil pada : 16 Des 2008
Diambil dari : http://dennytan.blogspot.com/2008/01/seri-pengajaran-calvinisme-2-pemilihan.html?showComment=1211505300000#c1430688488585551416

Sabtu, 15 November 2008

NREC 2008

NATIONAL REFORMED EVANGELICAL CONVENTION (NREC)

Apa & Mengapa National Reformed Evangelical Convention

Siapakah pemelihara iman Kristen yang murni?
Siapakah pemberita Firman yang dinamis?
Siapakah pelaksana perintah Tuhan yang konsisten?
Siapakah pengerti rencana Allah dan Firman-Nya yang vital?

Bukankah orang yang bersemangat seperti ini yang telah
menurunkan iman kepercayaan, doktrin yang benar,
api penginjilan melalui kuasa dan api Roh Kudus
yang murni dari surga sampai kepada kita?

Sekarang, siapakah di antara kita yang akan meneruskan
semangat dan api seperti itu di zaman ini dan seterusnya?

ENGKAU-KAH DIA?
ENGKAU-KAH PEMIMPIN MASA DEPAN?
Carilah kehendak dan pimpinan Tuhan!!!

Ikutilah Konvensi Nasional yang berlangsung selama
5 tahun berturut-turut (2004-2008) yang diprakarsai
oleh Hamba Tuhan Pdt. Dr. Stephen Tong
dan rekan-rekan dalam Gerakan Reformed Injili.

NATIONAL REFORMED EVANGELICAL YOUTH CONVENTION (NREYC)

dan

NATIONAL REFORMED EVANGELICAL WORKERS CONVENTION (NREWC)

Mari kita memperbaharui
BELIEVING, UNDERSTANDING, SERVING dan PROCLAIMING
yang kita miliki bersama sebagai orang Kristen!!!

Mari kita berjumpa di
Wisma Kinasih pada tanggal 29 Desember 2008 - 1 Januari 2009,
dalam konvensi tahun terakhir, sebagaimana Tuhan memimpin Anda.

Soli Deo Gloria

Info lengkap & pendaftaran : http://nrec.stemi.ws/

Sabtu, 08 November 2008

The Fall of Man

Ditulis oleh : Abraham Timothy Halim

Jatuh. Bila kita mendengarkan kata itu, pasti didalam pikirian kita pasti jatuh adalah ke bawah. Sebenarnya jatuh tidak harus jatuh kebawah, tetapi juga bisa jatuh ke atas (akan dibahas di point berikutnya). Kita telah terpengaruh dengan hukum gaya gravitasi yang ditemukan oleh Isaac Newton pada abad XVII, sebenarnya hal tersebut tidak salah, tetapi bila kita memutlakkan hukum itu untuk seluruh aspek yang kita ketahui, hal tersebut baru tidak baik. Jatuh juga bisa berarti gagal melakukan segala sesuatu yang telah kita setujui dan/atau yakini untuk kita lakukan.
Semua manusia pasti pernah jatuh. Jatuh dari sepeda, jatuh dari tangga, dll. Tetapi ada 1 jatuh yang memiliki tingkat paling parah yaitu jatuh ke dalam dosa. Kita percaya sesuai dengan firman Tuhan, bahwa apabila 1 manusia telah jatuh dalam dosa, maka semua manusia juga telah berdosa. Hal ini disebabkan oleh natur dosa yang menjalar dan sifat keuniversalisan dosa.

Kita, manusia yang telah menjadi hamba dosa, telah terpisah dari Allah. Adam dan Hawa yang dulunya tinggal di taman Eden, tetapi diusir oleh Allah keluar dari taman itu.


ASAL MULA DOSA
Kebanyakan dari kita memiliki paradigma yang mengatakan bahwa dosa permulaan berasal dari Adam dan Hawa yang melanggar perintah Allah yang melarang mereka memakan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi bila kita cermati secara teliti, asal dosa bukan berasal dari Adam dan Hawa. Ketika Adam dan Hawa dicobai, maka si pencoba itu telah lebih dulu jatuh dalam dosa sebelum ia “mengajak” Adam dan Hawa untuk ikut jatuh kedalam dosa bersamanya. Makhluk yang disebut ular-lah (pada bagian ini ular dipakai Setan) yang mencobai Adam dan Hawa. Dan ular banyak dipakai di dalam bagian Alkitab yang lain yang menunjuk pada setan. Dosa berasal dari malaikat yang memberontak pada Allah.. Itulah dosa yang pertama di dalam kekekalan, yaitu ketika penghulu malaikat berusaha untuk memberontak kepada Allah (2Pet 2:4, Yud 6).


KEJATUHAN MALAIKAT
Malaikat jatuh ke dalam dosa, lain dari cara manusia jatuh, malaikat tidak dicobai supaya mereka jatuh, tetapi mereka jatuh berdasarkan kehendaknya sendiri. Apa kehendak malaikat? Yaitu “jatuh keatas” bagaimana mungkin? Malaikat itu ingin menyamai Allah yang merupakan Pencipta dan pusat dari segala sesuatu. Mereka tidak puas dengan kondisi mereka sekarang, dengan kata lain mereka sombong, sehingga ingin mengatasi Allah. Maka ia dibuang dan diusir oleh Allah, dan ia membawa sebagian bala tentara sorga.

Kita memang tidak mengetahui kapan malaikat dimulai dicipta dan kapan mulai adanya malaikat yang memberontak pada Allah, tetapi yang pasti persitiwa ini terjadi sebelum kejatuhan manusia.


KEJATUHAN MANUSIA
Manusia berbeda dari malaikat, bila malaikat jatuh oleh dirinya sendiri tanpa kuasa atau kekuatan dari luar diri mereka, maka manusia tidak. Manusia memiliki 2 macam cobaan supaya mereka berdosa, yaitu cobaan dari dalam dan luar dirinya. Adam dan Hawa dicobai Iblis yang memakai ular itu, dan mereka dengan keinginannya sendiri mengamati dan menyetujui bahwa buah itu baik dan menarik hati (kejadian 3:6).
Dan juga, tidak pada saat Adam dan Hawa memakan buah itu ia baru berdosa, namun ia sudah berdosa begitu mulai kompromi dengan ucapan Iblis (keraguan), lalu ada rasa senang (ay 2-3), dan menghasilkan ketidakpercayaan (ay 4), dan menimbulkan kesombongan persis seperti dosa Iblis (ay 5), lalu mulai timbul keiinginan jahat untuk merasa-rasakan, dan terahkir melangkah untuk mengambil dan memakan buah terlarang itu.
Adam dan Hawa tidak mungkin dapat bertahan bila anugerah Allah dilepas dari mereka, jadi tidak mungkin Adam dan Hawa memiliki suatu kekuatan untuk bertahan ketika ia dibiarkan Allah untuk mengalami pencobaan. Adam dan Hawa sudah pasti jatuh dan kita tidak dapat untuk berandai-andai, karena semua hal sudah dalam penetapan Allah dan tidak ada satu hal pun yang dapat terjadi diluar ketetapan Allah. Tetapi, hal tersebut juga tidak bisa kita lepaskan dari tanggung jawab Adam dan Hawa. Mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk berespon kepada yang benar, tetapi dalam pilihannya mereka memilih untuk tidak taat. Allah tidak perlu kaget dan memang tidak kaget, karena dibalik semuanya itu, di dalam kekekalan semua hal sudah direncanakan dan ditentukan oleh Allah.
Manusia yang telah jatuh, tidak dibiarkan Allah seperti sampah. Tetapi karena kasihNya, maka kita masih dipelihara oleh Dia. Kita yang diberi saving grace, diberikan juga natural grace, common grace, dan special grace juga sama seperti reprobat (natural, common, special grace reprobat berdasarkan adanya umat pilihan. Sama seperti Kristus mati hanya untuk umat pilihan dan mengasilkan efek samping bagi kaum reprobat). Jadi, baik orang pilihan maupun bukan pilihan mereka semua dalam kontrol dan pemeliharaan Allah.
Dan akibat sentral dari jatuhnya manusia ialah ia mengalami kerusakan akan gambar Allah itu (John Calvin).
Gordon Clark juga mengatakan:
Kejatuhan telah secara serius merusak gambar Allah dalam diri manusia dalam segala bagiannya. Intelek menjadi rusak dan demikian juga kehendak. Inilah doktrin kerusakan total (total depravity): tidak ada bagian atau fungsi manusia yang bebas dari pengaruh dosa.

Seperti yang sudah kita bahas diatas bahwa, manusia tidak dapat berbuat baik dan benar sesuai dengan kehendak Allah karena mereka sudah menjadi hamba dosa, tetapi mereka masih bisa berbuat baik secara relatif. bukan perbuatan baik yang rusak, tetapi dosa mempengaruhi kemampuan manusia untuk berbuat baik. Sama halnya dengan kebenaran. Dosa tidak mempengaruhi kebenaran itu, tetapi bisa menghalangi kemampuan untuk bernalar secara benar.
Dan karena kita adalah anak-anak umat pilihan Allah yang telah dipilih sebelum dunia dijadikan, maka sikap kita yang benar setelah kita diselamatkan adalah tidak menjadi hamba dosa lagi, dan menjadi garam dan terang dunia serta menjadi saksi Kristus yang terus mau mengikut Dia dan menjalankan mandatNya. Kita pun yang umat pilihan masih dapat jatuh dalam dosa, tetapi yang penting adalah bagaimana respon kita yang benar, apakah kita bersungguh-sungguh bertobat dan tidak ingin mengulanginya lagi? Petrus berdosa, Yudas juga berdosa. Petrus menyangkal mengenal Yesus 3x (mengkhianati), Yudas menjual Yesus (mengkhianati juga), tetapi apa respon mereka? Petrus segera mengangis dengan hati yang hancur dan bertobat, Yudas menyesal, tetapi tidak bertobat dan tidak kembali kepada Kristus.

Mari kita biarlah boleh merenungkan hal ini dan berjanji tidak akan hidup lagi serupa dengan dunia ini, tetapi boleh menjadi garam dan terang dunia. Amin.


refrensi:
Yesus Kristus Juruselamat Dunia – Stephen Tong
Created in God’s Image – Anthony A. Hoekema
The Word of God and the Mind of Man - Ronald Nash

Kamis, 23 Oktober 2008

Siapakah Manusia?

SIAPAKAH MANUSIA?
oleh Abraham Timothy


Pertanyaan mengenai “Siapakah Manusia?” sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum Yesus Kristus berinkarnasi. Terbukti dari penggambaran Plato kepada gurunya, Socrates, yang terobsesi pada satu tujuan sentral, dalam pencariannya akan hikmat, yaitu mengenali dirinya sendiri. Masing-masing dari ilmu pengetahuan telah memberikan definisi masing-masing tentang siapakah manusia, sebagai contoh: antropologi idealistik, antropologi materialistik, evolusionisme, dll. Tetapi kita sebagai orang Kristen yang sejati, seharusnya kita mencari jawaban ini kembali kepada perkataan Alkitab, karena Alkitab adalah visi Allah atau hal yang diwahyukan Allah sebagai pencipta segala sesuatu yang mutlak dan final.
Seorang bapa gereja, Augustinus, pernah mengatakan “hanya dua hal yang aku inginkan yakni, mengenal Allah, dan mengenal diri; dengan mengenal Allah sang Pencipta, maka aku mengetahui diriku sebagai sebuah ciptaan dan dengan mengenal diriku sendiri, maka aku dapat mengenal Allah, Penciptaku” jadi, bila kita ingin mengetahui siapakah manusia adalah kita perlu mengenal terlebih dahulu siapakah Pencipta kita atau siapakah Allah kita.
Segala sesuatu di dunia ini adalah ciptaan, termasuk manusia. Tetapi manusia bukan hanya sekedar ciptaan, tetapi juga seorang pribadi. Pribadi berarti memiliki eksistensi, pikiran, perasaan dan kebebasan memilih/free to choose. Dicipta berarti memiliki kebergantungan kepada Pencipta, sedangkan pribadi memiliki tanggung jawab kepada Penciptanya. Manusia sebagai ciptaan yang berpribadi, banyak mengandung misteri yang sulit kita mengerti. Tetapi inilah firman Tuhan, bukan firman yang mengandung kesalahan (ineran) dan kekeliruan (infaliabel), tetapi memang keterbatasan kita sebagai manusia yang dicipta dengan segala keterbatasan kita sehingga kita tidak mengerti.
Dalam hal tersebut ketetapan Allah (foreordained) dan kebebasan memilih atau tanggung jawab atau respon manusia tidak dapat kita pecah belah. Bila kita terlalu memsuperiorkan pentetapan Allah, maka kita akan terjebak dan terperangkap dalam Fatalism / Hypercalvinis dan bila kita terlalu mendewa-dewa kan tanggung jawab manusia maka kita akan menjadi Arminianism / Lowercalvinis atau Open Theism yang dapat memveto rencana Allah dan sama sekali tidak Alkitabiah. Doktrin Reformed mengajarkan bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi atau kita pilih ada didalam rencana kekal Allah, tetapi pada waktu sekarang ini (now / actual this time) kita juga memiliki kebebasan memilih / tanggung jawab / respon untuk memilih apa yang kita mau pilih. Karena kita jelas tidak mengetahui pemikiran dan rencana Allah dari alfa sampai omega dalam kekekalan, maka kita harus tetap bertanggung jawab atas segala apa yang kita pilih.
Manusia dicipta pada hari yang terakhir, pada saat semuanya telah selesai dicipta. Hal tersebut dilakukan karena Allah menciptakan manusia secara khusus, supaya manusia dapat menikmati dan menguasai semuanya itu. Manusia adalah ciptaan yang paling hormat dan mulia.
Manusia pertama yang dicipta yaitu Adam berasal dari kata Ibrani ‘adam, yang berasal dari adamah yang artinya tanah. Allah membentuk manusia (LAI-TB), bukan dengan cara berfirman seperti yang lain. Membuktikan bahwa manusia berbeda dari ciptaan yang lain. Dan juga manusia dicpita menurut gambar dan rupa Allah.
Pada Kejadian 1:26, terdapat kata-kata jamak yaitu Kita. Hal ini menjadi kunci manusia diciptakan menurut siapa. Hal ini sangat unik dan membingungkan, karena terdapat rahasia Allah yang sangat besar. Bagaimana mungkin Allah yang adalah Esa dapat mengucapkan Kita? kata Esa, tidak berarti hanya sekedar satu! Tetapi satu-satunya. Lalu bagaimana dengan Kita? Apakah Allah kita lebih dari 1? Tidak. Allah kita 1 tetapi memiliki 3 pribadi, yaitu Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berarti di ayat ini membuktikan adanya percakapan antara Trinitas. Dan bila kita perhatikan sungguh-sungguh tata bahasa dan ayat-ayat lain yang menjelaskan ayat ini, akan membuktikan bahwa kata “Kita” yang pertama dan kedua mengacu pada pribadi yang berbeda, yang pertama mengacu pada Allah Bapa yang mengajak bicara pada Roh Kudus (tanpa menghilangkan Kristus), dan yang kedua mengacu pada Yesus Kristus, yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah itu sendiri. Yesus Kristus adalah gambar Allah yang sejati, dan manusia adalah ciptaan menurut gambar Allah yang adalah Kristus itu sendiri. Kristus adalah Logos dan manusia adalah Logikos (Logos kecil). Manusia adalah reflektor dan representasi atau imitator Allah, jadi seharusnya bila seseorang melihat manusia, ia juga melihat sesuatu tentang Allah di dalam diri manusia itu. Di dalam posisi ini manusia menjalankan rencana dan kehendak Allah, bukan menurut kesenangan hatinya sendiri.
Manusia menyerupai Allah dalam hal-hal tertentu (tidak semua hal), ada beberapa macam yaitu Allah memiliki kuasa, maka manusia juga memiliki kuasa; Allah memiliki persekutuan dan relasi, maka manusiapun memiliki persekutuan dan relasi; Allah memiliki pribadi, manusiapun berpribadi dan bertanggung jawab; adanya perkawinan antara Anak Domba Allah dengan gerejaNya (ekklesia) (hal ini tidak berarti Kristus memiliki hubungan biologis), maka manusiapun dapat membuat lembaga pernikahan; Allah itu kasih, maka manusia juga memiliki kasih; dll. Selain manusia diberi berkat oleh Allah (berkuasa, memenuhi bumi, dll), kata-kata ini juga mengandung perintah atau mandat. Perintah Allah kepada manusia untuk memerintah bumi atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah disebut mandat budaya.
Saat diciptakan, manusia sangat baik adanya, sangat baik berbeda dengan baik. Bila kita memiliki rumah, mobil itu baik, tetapi bila kita memiliki anak hal itu akan menjadi sangat baik. Benda-benda mati tidak mengandung hidup, tetapi bila anak, ia adalah makhluk hidup, manusia yang hidup yang meneruskan sifat kemanusiaan kita. Sama seperti Allah yang menciptakan manusia.
Lalu apa tujuan manusia hidup di dunia? Apakah Allah iseng dan kengangguran sehingga ia bermain-main dan lalu menciptakan kita? Tidak! Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu ditanyakan. Manusia hidup didunia untuk memuliakan Allah, untuk menjadi representasi dari Allah, manusia hidup untuk “dinikahkan” dengan Anak Allah yang tunggal.
Tetapi, karena manusia memilih untuk melanggar perintah Allah yaitu dengan makan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, maka mengakibatkan gambar Allah yang ada dalam diri manusia telah rusak. Dosa yang telah menjalar ke seluruh umat manusia telah mengakibatkan semua orang mengalami kerusakan total (total depravity). Manusia yang sudah rusak total, tidak dapat sama sekali melakukan perbuatan sempurna (menurut standart Allah), dan selalu cenderung berbuat dosa. Manusia dapat melakukan perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang relatif yaitu untuk maksud dan dasar tertentu yang bukan dengan atau tanpa iman pada Yesus Kristus dan melakukan untuk kemuliaan Allah.
Sekali lagi, definisi dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah atau luput dari target Allah. Dalam proses manusia jatuh dalam dosa, Allah hanya tinggal menunggu waktu saja – sebab tidak ada yang luput dari rencanaNya, sedangkan dari sisi manusia ia harus bertanggung jawab karena apa yang telah diperbuatnya, dan kemampuan manusia itu adalah anugerah Allah. Pada saat itu Adam berada dalam posisi posse non peccare, (keberadaan yang bisa tidak berdosa) sehingga ia bisa memilih antara melakukan dosa atau tidak, namun dapat kita lihat dalam rangkaian rencana Allah ia memilih untuk berbuat dosa, bukan dipaksa atau diseret-seret oleh Allah, namun berasal dari keinginannya sendiri yang menggenapkan rencana Allah. Ingat! Allah tidak menciptakan dosa, tetapi Allah menentukan untuk mengizinkan adanya dosa.
Hal ini merupakan misteri yang sulit kita mengerti. namun yang kita tahu adalah rencana Allah itu sempurna, dari Alfa sampai Omega. Allah tidak hanya menetapkan manusia jatuh dalam dosa tetapi Allah juga menetapkan penebusan, proses pengudusan dan sampai pada pemuliaan. Rahasia tentang manusia tidak semuanya dapat dimengerti oleh manusia itu sendiri. Kita harus bertanggung jawab, namun kita jangan terobsesi mencari jawaban yang tidak Allah nyatakan bagi kita. Justru seperti apa yang dikatakan oleh kitab Ulangan 29:29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” dan tulisan John Calvin “Ketidaktahuan adalah hikmat; memaksa untuk tahu adalah suatu kegilaan”.
Jadi, kita dicipta sangat unik dan istimewa. Kita adalah gambar dan rupa Allah, maka seharusnya dalam tingkah laku kita sehari-hari, kita harus mencerminkan kemuliaan Allah dalam diri kita. Menyedihkan bila melihat saat ini banyak orang-orang yang sudah berbuat “semau gue” tanpa peduli siapa dirinya dan untuk apa ia melakukan itu. Tetapi, kita yang telah sadar dan dibukakan, hendaknya kita melakukan hal tersebut dengan gentar dan terus berusaha untuk menjadi sempurna seperti Kristus, seperti perkataanNya sendiri “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”.



Refrensi:
- Doktirn Manusia dan Dosa (not published) – Andi Halim
- Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah – Anthony A. Hoekema
- Institutes of the Christian Religion – John Calvin
- Yesus Kristus Juruselamat Dunia – Stephen Tong

Rabu, 22 Oktober 2008

Jodoh di tangan siapa??

Ditulis oleh: Abraham Timothy Halim

Selama ini ada 2 argumen yang sering diperdebatkan, yaitu, jodoh di tangan kita atau jodoh ditangan Tuhan. sebenarnya mana yang benar?mari kita lihat.


Kita percaya bahwa Allah berdaulat dalam segala hal dan secara mutlak (tanpa pengecualian). karena ia berdaulat maka ia menetapkan segala sesuatu, dan tidak bergantung pada siapapun.

Charles Hodge: "And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself" (= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) - 'Systematic Theology', vol II, hal 320.

Rencana Allah mencakup segala sesuatu. dasar dari pandangan ini:
1. kemahatauan Allah

Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, atau bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan Allah. 

a. Kemahatahuan Allah menunjukkan bahwa Ia menentukan segala sesuatu.
Penjelasan: Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu maha tahu (1Sam 2:3 - "Karena TUHAN itu Allah yang maha tahu"), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu.

L. Boettner:
o "This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed" (= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 45.
B. B. Warfield: "... God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will" (= .. Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri) - 'Biblical and Theological Studies', hal 281.


2. Allah tidak terbatas oleh waktu, atau Allah ada di atas waktu.

Satu hal lagi yang menunjukkan bahwa Rencana / ketetapan Allah itu mencakup segala sesuatu, adalah bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, atau ada di atas waktu.

L. Boettner: "Much of the difficulty in regard to the doctrine of Predestination is due to the finite character of our mind, which can grasp only a few details at a time, and which understands only a part of the relations between these. We are creatures of time, and often fail to take into consideration the fact that God is not limited as we are. That which appears to us as 'past,' 'present,' and 'future,' is all 'present' to His mind. It is as eternal 'now.' He is 'the high and lofty One that inhabits eternity.' Is. 57:15. 'A thousand years in thy sight are but as yesterday when it is past, And as a watch in the night,' Ps. 90:4. Hence the events which we see coming to pass in time are only the events which He appointed and set before Him from eternity. Time is a property of the finite creation and is objective to God. He is above it and sees it, but is not conditioned by it. He is also independent of space, which is another property of the finite creation. Just as He sees at one glance a road leading from New York to San Francisco, while we see only a small portion of it as we pass over it, so He sees all events in history, past, present, and future at one glance. When we realize that the complete process of history is before Him as an eternal 'now,' and that He is the Creator of all finite existence, the doctrine of Predestination at least becomes an easier doctrine" (= Banyak kesukaran berkenaan dengan doktrin Predestinasi disebabkan oleh sifat terbatas dari pikiran kita, yang hanya bisa menjangkau beberapa detail pada satu saat, dan yang mengerti hanya sebagian dari hubungan antara detail-detail itu. Kita adalah makhluk waktu, dan seringkali melupakan fakta bahwa Allah tidak terbatas seperti kita. Apa yang kelihatan bagi kita sebagai 'lampau', 'sekarang', dan 'akan datang', semuanya adalah 'sekarang' bagi pikiranNya. Itu adalah 'sekarang' yang kekal. Ia adalah 'Yang tinggi dan mulia yang mendiami kekekalan' Yes 57:15. 'Seribu hari dalam pandanganMu adalah seperti kemarin, pada waktu itu berlalu, dan seperti suatu giliran jaga pada malam hari' Maz 90:4. Karena itu peristiwa-peristiwa yang kita lihat terjadi dalam waktu hanyalah merupakan peristiwa-peristiwa yang telah Ia tetapkan dan tentukan di hadapanNya dari kekekalan. Waktu adalah milik / sifat dari ciptaan yang terbatas dan terpisah dari Allah. Ia ada diatasnya dan melihatnya, tetapi tidak dikuasai / diatur olehnya. Ia juga tidak tergantung pada tempat, yang merupakan milik / sifat yang lain dari ciptaan yang terbatas. Sama seperti ia melihat dalam sekali pandang jalanan dari New York ke San Francisco, sementara kita melihat hanya sebagian kecil darinya pada waktu kita melewatinya, demikian pula Ia melihat semua peristiwa-peristiwa dalam sejarah, lampau, sekarang, dan yang akan datang dalam satu kali pandang. Pada waktu kita menyadari bahwa proses lengkap dari sejarah ada di depan-Nya sebagai 'sekarang' yang kekal, dan bahwa Ia adalah Pencipta dari semua keberadaan yang terbatas, doktrin Predestinasi sedikitnya menjadi doktrin yang lebih mudah) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 44-45.

3. Dasar Kitab Suci: 


a. Rencana Allah mencakup hal-hal yang remeh
Mat 10:29-30 - "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya".
Calvin: "But anyone who has been taught by Christ's lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God's secret plan" [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah] - 'Institutes of the Christian Religion', Book I, Chapter XVI, no 2.

Calvin: "... it is certain that not one drop of rain falls without God's sure command"- (= ... adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah) 'Institutes of the Christian Religion', Book I, Chapter XVI, no 5.

Kalau merasa heran mengapa hal-hal yang kecil / remeh itu juga ditetapkan oleh Allah, seakan-akan Allah itu kekurangan kerjaan, maka ingatlah bahwa:
o kedaulatan yang mutlak dari Allah tidak memungkinkan adanya hal yang bagaimanapun kecil dan remehnya ada di luar Rencana / penetapan Allah.
o semua hal-hal di dunia / alam semesta ini berhubungan satu dengan yang lain, sehingga hal kecil / remeh bisa menimbulkan hal yang besar!

R. C. Sproul: "For want of a nail the shoe was lost; for want of the shoe the horse was lost; for want of the horse the rider was lost; for want of the rider the battle was lost; for want of the battle the war was lost" [= Karena kekurangan sebuah paku maka sebuah sepatu (kuda) hilang; karena kekurangan sebuah sepatu (kuda) maka seekor kuda hilang; karena kekurangan seekor kuda maka seorang penunggang kuda hilang; karena kekurangan seorang penunggang kuda maka sebuah pertempuran hilang (kalah); karena kekurangan sebuah pertempuran maka peperangan hilang (kalah)] - 'Chosen By God', hal 155.
B. B. Warfield: "the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)" [= Peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)] - 'Biblical and Theological Studies', hal 296.

Dari sekian argumen yang telah saya paparkan (ada lebih banyak lagi) membuktikan bahwa segala sesuatu ada pada kedaulatan Allah, termasuk yang sederhana apalagi jodoh.
Mari kita merenungkan contoh konkrit dalam Alkitab yaitu Ishak. Ishak tidak pacaran dulu atau tidak PDKT dulu untuk menikah dengan Ribka, tetapi Ia langsung menikahinya. Dan Abraham memberikan semacam perintah pada hambanya yang paling tua untuk kembali ke daerah asalnya untuk menemukan isteri bagi Ishak. Dan kita jelas tahu bahwa cerita Ishak dan Ribka merupakan kedaulatan Allah yang tidak ada sama sekali campur tangan manusia.

Karena manusia merupakan ciptaan yang unik, karena ia dicipta sekaligus adalah seorang pribadi yang memilki kehendak bebas/tanggung jawab manusia. Maka memang ia memiliki kebebasan dalam memilih, tetapi, semua pilihan dia pun telah ditentukan oleh Allah.

Kis 4:27-28 - "Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu

Rat 3:37 - "Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?".
NIV: 'Who can speak and have it happen if the Lord has not decreed it' (= Siapa yang bisa berbicara dan membuatnya terjadi jika Tuhan tidak menetapkannya?)

Bila kita melihat contoh Daud dan batsyeba, Daud memang memilih sendiri untuk berdosa, dan singkat ceria ia dihukum oleh Tuhan dan ia akhirnya bertobat dan kembali pada Tuhan. Melihat dari kasus ini, bila dilihat dari sisi manusia, Daud memang memiliki pilihan-pilihan sendiri, tetapi bila kita melihat dari sisi kekekalan Allah, Daud memang sudah ditetapkan berdosa, dan ia diampuni Allah, dan supaya dari Batsyeba lahirnya Raja baru yaitu Salomo (adanya providensia Allah).

Sikap yang benar adalah, karena jodoh kita telah ditetapkan oleh Allah, maka kita harus untuk menggenapinya, tetapi kita tidak tahu mana yang jodoh dan mana yang bukan jodoh kita, maka dari itu kita harus berdoa pada Tuhan sungguh-sungguh. Mari kita melihat contoh yang lain:

a. Dalam persoalan keselamatan.
Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:22 Ro 9:22), tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:
o sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti saya pasti akan percaya dengan sendirinya.
o mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti dia akan percaya dengan sendirinya.
Sebaliknya, kita harus hidup berdasarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya:
o Kis 16:31 merupakan perintah untuk percaya kepada Yesus. Jadi, apakah saya dipilih untuk selamat atau binasa, itu tidak saya ketahui, dan karenanya bukan urusan saya dan bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Firman Tuhan, dan Firman Tuhan dalam Kis 16:31 menyuruh saya percaya kepada Yesus.
o Mat 28:19-20 merupakan perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Jadi pada waktu saya bertemu dengan seseorang, bukanlah urusan saya apakah orang itu dipilih untuk selamat atau binasa. Itu tidak saya ketahui dan karenanya bukan pedoman hidup saya. Urusan saya adalah melakukan perintah Firman Tuhan dalam Mat 28:19, yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus.

Sekalipun Allah menentukan dan mengatur jodoh kita, tetapi pada saat hal itu terjadi, kit a memang melakukan dengan kemauan kita sendiri, hal ini lah yang menunjukkan adanya kebebasan manusia dan hal tersebut tidak dibuang. (tetapi tetap bahwa segala sesuatu ada pada penetapan Allah).
Contohnya:
o Dalam Kel 7:3 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Kel 7:13,22 8:15,19,32 9:7,34-35).
o Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa 'Tuhan yang mengambil'; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri.
o Baca juga Hakim-Hakim 14:1-4.
“1Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin. 2Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: “Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.” 3Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: “Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?” Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: “Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” 4Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada Tuhan asalnya sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada saat itu orang Filistin menguasai orang Israel.”
Hal ini memang sulit kita terima karena hal tersebut merupakan rahasia Allah yang tidak diungkapkan pada kita

L. Boettner: "But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man's free agency" (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providence ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmonis-kan dengan kebebasan manusia) - 'The Reformed Doctrine of Predestination', hal 38.

C. H. Spurgeon: (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusukNya dengan tombak - Yoh 19:33-34) 
"They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men's mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The foreordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other" (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamai-kan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - 'A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord', hal 670-671.

Pdt. Budi Asali memberikan sebuah illustrasi sebagai berikut: misalnya ada suatu pertandingan sepakbola yang disiarkan di TV, dan saya lalu merekam pertandingan itu menggunakan video cassette. Proses perekaman ini saya analogikan dengan penentuan Allah. Sekarang video itu saya putar dan saya tunjukkan kepada banyak orang. Apa yang akan terlihat semua-nya sudah tertentu, yaitu persis seperti isi video itu. Tetapi semua orang yang menonton video itu tidak melihat bahwa para pemain sepak bola itu kehilangan kebebasannya. Mereka tetap bermain dan menendang bola dengan kemauannya sendiri. Mengapa? Karena kebebasan mereka juga ikut ditentukan dalam video itu.
Tapi merupakah hal yang bodoh bila karena kita sudah ditetapkan jodoh kita oleh Allah lalu kita berdiam diri dalam kamar dan tidak melakukan apapun. Pdt. Stephen Tong juga memberikan perkataan yang baik. “predestinasi adalah blueprint/rancangan. Karena ada rancangan maka kita harus mengerjakannya. Justru orang bodoh yang karena sudah melihat rancangan maka ia tidak ikut mengerjakannya.”
Justru karena jodoh kita telah ditetapkan dan direncanakan, maka kita harus menggenapinya. Tetapi kita tidak dapat membabi buta langsung menyebut bahwa ini jodohku, ini jodohku, kita harus benar-benar menggumulkannya pada Allah. Karena pernikahan adalah suatu hal yang penting dalam perjalanan hidup orang kristen, demikian juga dalam mencari pacar. Seandainya pun kita tidak mendapat jodoh, kita tidak perlu cemas dan bingung, karena semua hal ini telah ditetapkan oleh Allah (lihat kembali Mat 10:29-30) dan demi kebaikan kita.


Refrensi: Pdt. Budi Asali, M.Div